OPINI

Merawat Kecerdasan Sosial Menumbuhkan Kecerdasan Artifisial

Ilustrasi Hari Pertama Masuk Sekolah
Ilustrasi Hari Pertama Masuk Sekolah

AKURATNEWS - Dunia sedang berubah dan akan terus berubah. Dalam menyikapi perubahan (disrupsi), pilihan hanya satu, memilih untuk beradaptasi dan mengakrabi perubahan atau menolak perubahan. Adaptif dan mengakrabi perubahan berarti dengan kecerdasan yang dimiliki diberdayakan untuk mengenali dan menyikapi setiap bentuk perubahan yang ada. Sebaliknya, menolak perubahan artinya menunggu punah digulung arus perubahan.

Pun dalam dunia pendidikan, tak steril terhadap perubahan. Selama pandemi, Proses Belajar Mengajar (PBM) dilangsungkan secara jarak jauh (distance learning) melalui media online. Hampir dua tahun ini, aneka perubahan akibat pandemi telah menyebabkan ‘terputus’ nya interaksi dan relasi dengan sesama. Melalui penerapan protokol kesehatan (prokes) yang ketat telah mengkondisikan ruang gerak, interaksi dan relasi perjumpaan secara fisik di ruang publik menjadi terbatas dan berjarak.

Padahal, hakekat manusia, di samping sebagai makhluk pribadi merupakan makhluk sosial yang membutuhkan interaksi dengan komunitas dan lingkungan sekitar. Untuk itu, terkait upaya manusia untuk tampil sebagai pemenang (struggle for existence) di masa pandemi ini maka manusia perlu untuk merawat kecerdasan sosial yang dimiliki, mengingat bahwa kecerdasan (intellegence) merupakan variabel penting dalam menentukan punah atau lestarinya kehidupan.

Hari ini, aktivitas Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) di sekolah mulai dilakukan. Artinya, akses interaksi dan komunikasi anak murid dan guru melalui perjumpaan secara fisik di sekolah kembali di buka – tentunya dengan penerapan prokes yang prima. Berharap melalui PTMT yang berkualitas dapat menjadi sarana dan media untuk kembali merawat dan menumbuhkan kecerdasan sosial dan artifisial warga sekolah di masa pandemi ini.

Belajar dari sejarah

Guna merawat dan menumbuhkan kecerdasan sosial dan artifisial, sekaligus dalam upaya mengelola dan mengorkestrasi kemajemukan (kebhinnekaan) yang dimiliki; suku, agama, ras, dan antargolongan, sebagai bangsa kita boleh belajar melalui jejak-jejak sejarah, khususnya melalui momentum Sumpah Pemuda di Bulan Oktober ini.

Ikrar para pemuda bangsa merupakan indikator konkret bahwa sebagai bangsa, kita mempunyai kecerdasan sosial yang unggul. “Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia// Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia// Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”

Ringkasnya, kecerdasan sosial dan artifisial memampukan setiap anak-anak bangsa ini melihat dengan jernih bahwa senyatanya pluralitas merupakan modal (aset) bangsa, dan bukan sebagai sumber konflik. Yann LeCun menyatakan bahwa kecerdasan adalah apa yang menjadikan kita manusia, dan kecerdasan artifisial adalah perpanjangan dari kualitas itu.

Melalui proses pembelajaran yang berkualitas, saatnya poin-poin dan siklus penting kecerdasan artifisial mulai ditanamkan dan dikenalkan, yakni learningreasoning dan self correction. Untuk itu, pembelajaran senantiasa perlu dibarengi dengan tumbuhnya kreativitas dan inovasi secara berkelanjutan.

Indikasi suasana dan iklim belajar yang sehat, ditandai dengan tumbuhnya kesenangan dan kegembiraan dalam bertanya – jawab selama proses pembelajaran berlangsung. Ringkasnya, siswa senang dalam bertanya, dan guru gembira dalam menjawab.

Bagi mereka yang telah tumbuh dan mendewasa dalam hal kecerdasan, setiap pertanyaan yang diajukan dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk mengukur dan kualitas kecerdasan seseorang. François-Marie Arouet atau yang lebih dikenal dengan Voltaire; penulis dan filsuf Prancis pada Era Pencerahan (1694 –1778) mengatakan, ‘Jangan menilai kualitas seseorang melalui jawaban yang diberikan. Namun, nilailah kualitas seseorang melalui pertanyaan yang diajukan’.

Dengan demikian, PTMT merupakan momentum bagi sekolah untuk menumbuhkan, melathkan, dan membiasakan anak murid untuk berani dan senang bertanya. Yakinlah bahwa melalui keterampilan dan keberanian dalam merumuskan dan mengajukan pertanyaan dengan santun, kritis, sistematis, dan logis, kelak akan melahirkan generasi bangsa yang cerdas secara sosial dan artifisial.

Baca Juga