Opini

Merdeka Hanya Slogan

Penulis : Roro Ery Soeryaediningsih, S.Pd Member AMK, Pemerhati Masalah Sosial  & Kesehatan, (*)

Akuratnews.com - Kemerdekaan yang sesungguhnya bukan hanya termaktub dalam ungkapan serta seremonial yang setiap tahun dirayakan begitu meriahnya baik itu di kota sampai ke desa, baik yang tua maupun muda semua begitu menikmatinya sampai kadang tidak mengindahkan hukum syara sama sekali. Sungguh ironis bila dalam pengungkapannya dengan menghamburkan biaya tidak sedikit, itu tidak bisa dikatakan merdeka kalau dari tahun ke tahun masih banyak penindasan disana sini, kemiskinan masih ada, pemerkosaan, kemaksiatan bahkan mempersekusi para ulama begitu gencar bahkan terstruktur.

Tanpa sadar pengaruh asing begitu besar sehingga membuat negeri ini dalam posisi sebagai negara pengekor dan tereksploitasi baik di bidang ekonomi, politik, sosial budaya, hukum, pertahanan keamanan hingga pendidikan yang notabene wadah ditempanya generasi sebagai penerus untuk melanjutkan estafet kepemimpinan sebuah negara.

Sesungguhnya kemerdekaan belum bisa dinikmati seutuhnya bagi rakyat Indonesia, bahkan penjajahan bukan fisikpun begitu menghantui hingga kemerdekaan hakiki tidak didapatkan sama sekali. Hari ini penjajahan terhadap pemikiran begitu masiv, konsep nation state, nasionalisme dan neoimperialisme yang begitu sengaja dibuat oleh penjajah untuk melanggengkan penjajahan secara non militeristik.

Penjajahan indentik dengan perbuatan saling  menguasai dan memerintah suatu wilayah, namun menggunakan cara yang tidak benar. Selama ini, penjajahan diasosiasikan hanya dengan serbuan kekuatan senjata. Padahal, penjajahan yang lebih berbahaya adalah penjajahan dengan pengaruh ideologi, penjajahan dengan cengkraman monopoli ekonomi dan penjajahan dengan menghancurkan karakter manusia. (Kompasiana.com)

Bahkan penjajahan seperti ini lebih berbahaya, sebab prosesnya tidak terasa dan tidak disadari oleh kebanyakan orang namun efek kerusakan yang ditimbulkannya jauh lebih dahsyat. Padahal perang pemikiran ini dimata para penjajah lebih mudah, lebih hemat waktu dan biaya. Serta jauh lebih efektif dari perang fisik yang banyak menguras tenaga dan biaya yang tidak sedikit.

Invasi intelektual

Pertama kali diterapkan oleh Napoleon Bonaparte saat Perancis menaklukkan Mesir sebagai awal sejarah dimulainya perang yang menyerang pemikiran umat Islam. Yang mana bentuk invasi ini menyerang peradapan, menyerang keyakinan, menyerang pemahaman agama yang benar. Umat Islam dibuat menjadi kalah tanpa harus mati secara fisik, akan tetapi akal dan pikirannya dilumpuhkan, sehingga mereka ragu dengan kebenaran prinsip dan ajaran Islam bahkan dibuat takut dengan ajaran agamanya sendiri. Sebagai bukti tidak sedikit diantara kaum muslimin yang enggan dan merasa khawatir ketika mengamalkan ajaran dan nilai islam.

Maka lenyaplah kepribadian, lenyap pula marwah serta harga diri yang menjadi identitas seorang muslim. Umat begitu jauh dengan islam, sebab mengikuti secara total dalam berbagai aspek kehidupannya dengan paham di luar ajaran islam.

Selain penjajahan pemikiran, para penjajah pun menyasar ekonomi bangsa, mulai dari penguasaan mayoritas aset tanah hingga pengeksploitasian total sumber daya alam. Apabila dulu Belanda menjarah rempah-rempah dan komoditas lainnya, kemudian dikirim ke negaranya, Maka sekarang pihak asing mengeruk sumber daya Indonesia habis-habisan, lalu bahan mentah hasil tambangnya di eksport ke luar negeri.

Pada era kolonial, perusahaan-perusahaan asing asal eropa, Amerika menguasai sektor kekayaan alam Indonesia yang sampai hari ini masih melakukan eksploitasinya ditambah dengan berbagai perusahaan tambang asing yang menguasai kontrak karya pertambangan semakin memperkokoh asing dalam penguasaan kekayaan alam Indonesia.

Penghambaan Pada Hawa Nafsu

Meskipun fakta menolak keinginan mereka, karena kebebasan tanpa batas itu mustahil terwujud di dunia ini, namun karena sudah terbius dan terlena dengan rayuan nafsu, mereka tetap saja mengejar hayalan dan impian mereka. Seorang manusia yang hidup di dunia ini tidak terlepas dari dua pilihan, antara mengikuti yang baik atau yang buruk, antara menjadikan dirinya hamba Allâh Azza wa Jalla ataukah menjadikan dirinya hamba hawa nafsu. Ketika hawa nafsu yang menjadi pilihannya, maka seluruh aktifitasnya merupakan respon dari keinginan nafsu. Dan pada saat yang sama, motivasi untuk meninggalkan norma-norma agama akan menguat, sehingga akan semakin jauh terseret arus nafsu syaithaniyah. Ini merupakan sumber petaka terbesar bagi dirinya. Karena hawa nafsu manusia selalu menggiring pengikutnya kepada keburukan dan kerusakan. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

“Sesungguhnya nafsu (manusia) itu selalu menyuruh kepada keburukan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku”. (TQS Yûsuf [12]:53).

Dan firman-Nya :

“Andaikan kebenaran itu menuruti kemauan nafsu manusia, maka langit dan bumi serta semua yang ada di dalamnya pasti telah binasa. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka peringatan (untuk) mereka (yaitu al-Qur’ân) akan tetapi mereka berpaling dari peringatan tersebut”. (TQS Al-Mu’minûn [23] : 71)

Dan saat itulah umat akan kembali meraih kemuliaan hakiki, dan menjadi umat terbaik yang akan menebar rahmat bagi semesta alam.

Firman Allah SWT :

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada al khair (Islam), menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung“. (QS. Ali Imran : 104)

Mewujudkan penghambaan hanya kepada Allah SWT, itulah misi utama Islam. Itu pula arti kemerdekaan hakiki. Dalam pandangan Islam, kemerdekaan hakiki terwujud saat manusia terbebas dari segala bentuk penghambaan dan perbudakan oleh sesama manusia. Dengan kata lain Islam menghendaki agar manusia benar-benar merdeka dari segala bentuk penjajahan, eksploitasi, penindasan, kezaliman, perbudakan dan penghambaan oleh manusia lainnya.

Dengan Islam wujud Kemerdekaan Hakiki

Islam datang untuk membebaskan manusia dari segala bentuk penghambaan kepada sesama manusia sekaligus mewujudkan penghambaan hanya kepada Allah SWT. Islam datang untuk membebaskan manusia dari kesempitan dunia akibat penerapan aturan buatan manusia menuju kelapangan dunia (rahmatan lil alamin). Islam juga datang untuk membebaskan manusia dari kezaliman agama-agama dan sistem-sistem selain Islam menuju keadilan Islam.

Semua itu akan menjadi nyata jika umat manusia mengembalikan hak penetapan aturan hukum hanya kepada Allah SWT dan Rasul saw. Caranya dengan memberlakukan syariah Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan mereka. Tanpa itu, kemerdekaan hakiki, kelapangan dunia dan keadilan Islam tak akan pernah bisa terwujud. Selama aturan, hukum dan sistem buatan manusia yang bersumber dari akal dan hawa nafsu mereka terus diterapkan dan dipertahankan maka selama itu pula akan terus terjadi penjajahan, kesempitan dunia dan kezaliman. Allah SWT telah memperingatkan hal itu:

Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku maka sungguh bagi dia kehidupan yang sempit dan Kami akan mengumpulkan dirinya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta (TQS Thaha [20]: 124).

Karena itulah Allah SWT memerintahkan kita semua untuk menerapkan syariah Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Penerapan hukum syariah Islam itu menjadi bukti kebenaran dan kesempurnaan klaim keimanan dan penghambaan mereka kepada Allah SWT. (Buletin Kaffah No.051 Th.2018). Walahu’alam bi Sawab. (*)

Penulis: ...
Editor:...

Baca Juga