oleh

Perekonomian Global Masih Lambat, Mendag Targetkan Ekspor Tumbuh 7,5%

Jakarta, Akuratnews.com – Kementerian Perdagangan (Kemendag) menargetkan ekspor nonmigas sebesar US$ 175 miliar, meningkat 7,5 persen dibandingkan realisasi tahun lalu sebesar US$ 162,8 miliar.

Meski perekonomian dunia masih lesu, pemerintah tetap menargetkan pertumbuhan ekspor tahun ini lebih tinggi dari tahun lalu yang hanya 6,7 persen.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan target pertumbuhan ekspor tersebut ditetapkan dengan pertimbangan kondisi ekonomi global yang saat ini dan berbagai studi yang ada.

Perekonomian dunia yang masih lambat membuat pemerintah belum berani menargerkan pertumbuhan ekspor di atas 10 persen.

Hambatan tarif dan nontarif barier yang dituangkan dalam perjanjian-perjanjian perdagangan dengan beberapa negara sebelumnya, kemungkinan baru bisa diratifikasi akhir tahun ini.

Upaya itu diiringi dengan melaksanakan business forum dan business matching yang telah dirancang.

“Makanya saya tidak berani targetkan double digit karena bisa diratifikasi secara keseluruhan, dan baru akan efektif tahun depan”, kata Enggar di Jakarta, Rabu (13/03/2019).

Untuk mencapai target ekspor yang sudah ditetapkan tahun ini, Kemendag akan menerapkan tiga strategi peningkatan ekspor.

Pertama, fokus kepada infrastruktur melalui pembangunan pembangunan hard and soft infrastructure. Kedua, perbaikan indikator kerja pada kementerian atau lembaga. Ketiga, melalui investasi sumber daya manusia (SDM), dengan menjadikan Pegawai Negeri Sipil (PNS) sebagai fasilitator untuk mensosialisasikan target-target yang sudah dirancang.

Untuk meningkatkan kinerja ekspor dan memperluas akses pasar, Kemendag juga akan terus menambah jumlah kerja sama perdagangan internasional.

Pada tahun ini, Kemendag akan berupaya menyelesaikan perundingan dengan Iran, Uni Eropa, Mozambik, Turki, Tunisia, Bangladesh, dan Korea Selatan.

Selain itu, akan dilakukan penyelesaian perundingan Regional Comprehensive Economic Partnership, ASEAN Economic Community, ASEAN-Australia-New Zealand Free Trade Agreement, ASEAN-India Free Trade Agreement, serta peninjauan kembali Indonesia-Jepang Economic Partnership Agreement.

Untuk perdagangan dalam negeri, pemerintah mengandalkan pentingnya pembangunan dan revitalisasi pasar rakyat. Menurutnya, pasar rakyat adalah urat nadi dari perekonomian Indonesia. Tidak hanya pembangunan fisik, tetapi juga menyiapkan ekosistem offline dan online.

“Karena kalau tidak, pasar rakyat konvensional akan tertinggal,” kata Enggar. (Red)

Loading...

Komentar

News Feed