oleh

Meski Tak Ditahan, Robertus Robet Telah Ditetapkan Sebagai Tersangka

Jakarta, Akuratnews.com – Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri telah menetapkan status tersangka pada Robertus Robet terkait orasinya tentang dwifungsi TNI (Tentara Nasional Indonesia).

Orasinya dalam Aksi Kamisan pada Kamis (28/2) lalu dianggap mengganggu dan berbahaya.

“Status (Robertus) sampai dengan hari ini masih sebagai tersangka,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo di kantornya, Jakarta, Kamis (07/03/2019).

Dedi melanjutkan, Robertus dikenakan pasal 207 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang penghinaan terhadap kekuasaan. Dengan ancaman hukuman hanya satu tahun enam bulan dalam pasal tersebut, penyidik tidak menahan Robertus.

Menurut Dedi, alat bukti yang digunakan dalam penangkapan Robertus adalah pemeriksaan ahli dan pengakuan yang bersangkutan.

Ia mengatakan, Robertus sudah mengakui apa yang telah ia sampaikan secara verbal dan narasi pada saat Aksi Kamisan pada Kamis (28/2) lalu.

“Apa yang disampaikan itu tidak sesuai dengan data dan fakta yang sebenarnya dan itu mendiskreditkan salah satu institusi. Itu berbahaya,” ujarnya.

Lebih lanjut Dedi menjelaskan, berdasarkan Undang-Undang No. 9 Tahun 1998 kemerdekaan untuk menyampaikan pendapat di muka publik bersifat limitatif.

Artinya, ia melanjutkan, dalam pasal 6 undang-undang tersebut harus memenuhi lima kriteria yang tidak boleh dilanggar.

Pertama, harus menghormati hak asasi orang dalam menyampaikan pendapat di muka publik. Kedua, harus menghormati aturan moral yang berlaku.

Ketiga, harus mentaati aturan perundang-perundangan yang berlaku. Keempat, harus menjaga, menghormati keamanan dan ketertiban umum. Kelima, harus menjaga keutuhan persatuan dan kesatuan.

Sementara, ia menyatakan, “Ada narasi-narasi yang disampaikan (Robertus) sangat mengganggu.”

Melalui video lain, Robertus kemudian menyampaikan klarifikasi dan permohonan maaf. Ia menyatakan bahwa lagu itu bukan buatannya, melainkan gubahan lirik yang populer di kalangan mahasiswa pada 1998.

Sebagai dosen, ia juga memuji upaya reformasi di tubuh TNI dan meminta maaf atas kesalahpahaman yang terjadi.

“Lagu itu dimaksudkan sebagai kritik saya pada ABRI di masa lampau, bukan TNI di masa kini apalagi dimaksudkan untuk menghina profesi dan institusi TNI,” katanya. (Red)

Loading...

Komentar

News Feed