Opini

Miris Perilaku Orang Tua, Anak Jadi Sasarannya

Ilustrasi,. Akuratnews.com/Rio Wartono. AS

Akuratnews.com - Akhir-akhir ini banyak diberitakan kasus kekerasan terhadap anak. Kekerasan pada anak di Indonesia tidak pernah berhenti, bahkan semakin sering terjadi seiring dengan berjalannya waktu. Memukul anak karena emosi sudah menjadi kebiasaan orang tua, sedangkan tindak kekerasan secara fisik, seksual, dan penganiayaan emosional terhadap anak sudah masuk kedalam kategori kekerasan terhadap anak. Seseorang yang melakukan kekerasan terhadap anak atau mengabaikan anak sekarang dapat digambarkan seperti pedopath. Masih banyak kekerasan anak yang tidak terekspos media.

Ada contoh kasus kekerasan pada anak, “ibu pukul anak dengan sendok kayu karena makan burger milik anjing yang mereka pelihara”. Wanita asal Australia ini tega menyiksa putrinya, karena daging hamburger yang disiapkan untuk hewan peliharaannya justru dimakan oleh putrinya. Akan tetapi sang ibu tetap membela diri bahwa ia memukul anaknya, karena di dalam daging hamburger tersebut terdapat pil obat cacaing untuk anjingnya. Namun, sang ibu terlalu emosi hingga ketika memukuli putrinya dengan sendok kayu, terdapat luka memar di tubuh putrinya.

Adapun pengakuan dari putrinya, ibu yang telah memukuli putrinya tersebut adalah korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sehingga sang ibu memiliki emosi yang tidak stabil, dan sering menguncinya di dalam ruangan. Data kekerasan setiap mengalami peningkatan, bahkan pada tahun 2014 dinyatakan sebagai tahun darurat kejahatan seksual pada anak. Kasus-kasus kekerasan pada anak dapat berupa kekerasan fisik, tertekan secara mental, kekerasan seksual, pedofilia, anak bayi dibuang, aborsi, pernikahan anak dibawah umur. (Detiknews 03/10/2019)

Anak mudah menjadi korban kekerasan justru di lingkungan rumah. Peristiwa kekerasan terhadap anak bukan hanya untuk diprihatinkan, akan tetapi harus ada langkah tegas untuk melindungi anak dari kekerasan.Kenakalan anak seringkali menjadi penyebab utama kemarahan orangtua, sehingga anak menerima hukuman yang disertai emosi dari orangtua untuk tidak segan memukul ataupun melakukan kekerasan fisik. Bila hal ini sering dialami oleh anak, maka akan menimbulkan luka yang mendalam pada fisik dan batinnya, sehingga dapat menimbulkan kebencian pada anak.

Kasus tersebut berobjek pada anak yang tentu saja akan berdampak buruk pada perkembangan dan kepribadian anak, baik fisik (bentuk tubuh,warna kulit, dan penampilan) maupun psikis (exstrovet dan introvert) jelas mengorbankan masa depan anak. Banyak cara yang diterapkan orang tua dalam mendidik anak. Ada yang mengutamakan kasih sayang, komunikasi yang baik, dan pendekatan yang lebih bersifat efektif. Ada pula yang menggunakan kekerasan sebagai salah satu metode dalam menerapkan kepatuhan dan pendisiplinan anak.

Seperti yang kita ketahui Pendidikan sangatlah penting bagi setiap orang, namun masih banyak orang tua yang kurang menganyam Pendidikan tinggi. Akan tetapi hal ini bukan berarti untuk orang tua belajar lagi tentang kekerasan pada anak. Adapun secara psikologis didikan dan perilaku keluarga, peran lembaga penyedia Pendidikan, sampai tontonan televisi dapat mempengaruhi sikap, pola pikir, dan tindakan anak.

Sekolah juga dapat menggagas aktivitas-aktivitaas internal sekolah yang bersifat positif, memfasilitasi aktifitas orang tua siswa dan siswa minimal setahun sekali. Dari posisi pihakk keluarga, pola asuh yang berlebihan seperti terlalu memanjakan dan hanya memenuhi kebtuhan anak secara materi, atau kebiasaan orang tua yang suka bertengkar di depan anak-anaknya dapat memicu anak berperilaku atau bersikap kasar.

Baca Juga