Misteri Ketenangan Telaga Remis Yang Asri

Telaga Remis bernuansa asri, tempat wisata yang jadi pilihan untuk dikunjungi. Akuratnews.com / Rio Wartono AS
Telaga Remis bernuansa asri, tempat wisata yang jadi pilihan untuk dikunjungi. Akuratnews.com / Rio Wartono AS

Akuratnews.com - Bagi sebagian orang, liburan merupakan saat yang tepat untuk menghindar dari hingar bingar kota, mencari ketenangan. Tak heran jika tempat-tempat wisata seperti pegunungan dan pantai banyak diminati ketika masa liburan tiba.

Jika bosan dengan pilihan yang itu-itu saja, tempat yang satu ini boleh Anda coba sambangi.

Talaga Remis, merupakan salah satu tempat yang baru saja mulai diketahui sebagai pilihan wisata di daerah Kota Kuningan, Jawa Barat. Lucunya, tempat ini dilirik banyak wisatawan justru setelah populer sebagai lirik lagu yang dinyanyikan oleh biduan lokal.

Berjarak kurang lebih 37 kilometer atau dapat ditempuh 1 jam dari pusat Kota Kuningan, Telaga Remis memiliki lahan seluas 13 hektare untuk wilayah keseluruhan. Sedangkan luas danau atau telaganya hanya mencapai 3,25 hektare.

Suasana asri bercampur dengan udara yang sejuk membuat Talaga Remis sangat pas dijadikan tempat untuk sekadar melepas kepenatan. Adanya wahana sepeda air untuk berkeliling menambah keasyikan tersendiri saat berkunjung ke area wisata yang saat ini dikelola oleh Perum Kehutanan Kabupaten Kuningan ini.

Di pintu masuknya, Anda akan ditagih biaya masuk sebesar Rp.5 ribu. Setelahnya, Anda akan langsung menjumpai pemandian alam yang kerap ramai di sore hari.

Selain menikmati sejuknya udara sambil bermain sepeda air, Anda juga bisa berenang atau bermain ayunan yang terikat di pohon dan menghadap ke arah telaga.

Berkunjung ke Talaga Remis pun tak perlu repot membawa aneka bekal. Sebab, di sekitar telaga sudah banyak penjaja makanan dan rumah makan yang bisa dipilih. Mulai dari jajanan hingga masakan ikan bakar yang cukup populer.

Bagi Anda yang hobi memancing, Talaga Remis menyimpan aneka ikan yang bisa dibawa pulang. Ikan seperti mujair dan ikan mas menjadi ikan yang mendominasi. Ada pula remis atau kerang yang banyak terdapat di sekitar telaga. Kerang-kerang ini lah yang konon menjadi asal muasal nama Talaga Remis dahulu.

Meskipun begitu, ada beberapa versi tentang terjadinya Talaga Remis.

Ada yang menyebut Talaga Remis terbentuk dari air mata Pangeran Selingsingan, seorang pangeran di Keraton Kacirebonan. Ia kalah dalam peperangan melawan Pangeran Purabaya dari Mataram.

Cerita yang dihimpun Akuratnews.com dari warga sekitar, Sultan Matangaji, pemimpin Keraton Kacirebonan, mengutus Pangeran Selingsingan untuk memimpin penolakan upeti yang diminta Kerajaan Mataram. Namun, Pangeran Selingsingan bersama pasukannya tiba-tiba diserang pasukan dari Mataram yang menagih upeti, dengan dipimpin Pangeran Purabaya. Keduanya pun berperang di kaki Gunung Slamet.

Pangeran Selingsingan ternyata tidak bisa menandingi ketangguhan Pangeran Purabaya dan pasukannya. Hal ini yang membuatnya mundur dan mengirim pesan kepada Sultan Matangaji. Lantas Sultan Matangaji mengutus menantunya, Elang Sutajaya, yang sakti mandraguna menuju medan perang. Elang Sutajaya dan Pangeran Selingsingan akhirnya memenangi peperangan tersebut.

Merasa kalah, Pangeran Purabaya meminta belas kasih kepada Elang Sutajaya untuk diampuni. Dirinya merasa hanya orang biasa yang beragama islam, namun Elang Sutajaya tak menghiraukannya. Ia mengatakan bahwa Purabaya bukanlah muslim yang baik, karena tidak ada muslim yang melakukan kekerasan termasuk memulai peperangan sampai membunuh.

Mendengar nasihat Elang Sutajaya kepada Purabaya itulah, Pangeran Selingsingan menangis. Saat Elang Sutajaya memandanginya, Selingsingan justru tak bisa berhenti menangis hingga terjadilah sebuah danau. Sementara Purabaya berubah menjadi kura-kura.

Ada pula yang menceritakan bahwa danau ini terbentuk karena doa dari Raja Siliwangi yang baru saja usai melakukan pertapaan di hutan.

Selesai bertapa ia merasa haus dan hanya mendapat sisa embun dari celah batu. Ia pun kemudian mendoakan agar daerah tersebut subur dan terus memiliki embun yang tak ada habisnya. (Rio)

Penulis:

Baca Juga