Moody’s: Industri Migas Butuh Investasi 2200 Trilyun

Industri Migas Indonesia butuh suntikan investasi 2200 trilyun menurut Moodys. (Lukman Hqeem/Istimewa)
Minyak Mentah

Jakarta, Akuratnews - Lembaga pemeringkat Moody's menilai Indonesia setidaknya butuh suntikan investasi sebesar Rp 2.200 triliun jika ingin menyelamatkan industri migas. Investasi itu diperlukan sejak saat ini hingga setidaknya pada tahun 2025 nanti.

Menurut Moody's nilai investasi ribuan triliun itu dibutuhkan sejak saat ini untuk hulu migas yang produksinya terus turun, pembangunan infrastruktur gas, dan juga peningkatan kapasitas kilang untuk pemenuhan kebutuhan bbm dan petrolium.

Dalam keterangan resminya, sebagaimana dilansir CNBC Indonesia, Moody’s memperkirakan, Indonesia akan menjadi importir gas setelah 2022 karena permintaan domestik meningkat dan produksi melambat. Permintaan dan pasokan negara sebagian besar memang akan menyeimbangkan pada 2022, tetapi setelah itu, Indonesia perlu menambah pasokan gas domestiknya dengan impor gas alam cair (LNG).

"Kami juga yakin proporsi investasi Pertamina, selaku BUMN migas, akan naik dan juga produsen domestik lainnya di tengah moderatnya investor asing dan terus berkembangnya regulasi," kata Rachel Chua,  selaku Asisten Wakil Presiden Moody’s pada Senin (1/10/2018).

Lembaga pemeringkat internasional tersebut juga mengatakan, sekitar 80% atau US$ 120 miliar dari investasi dihabiskan untuk eksplorasi dan produksi hulu, dan sisa US$ 30 miliar bisa dialokasikan untuk sektor hilir migas. Dalam perkiraannya, produksi migas akan jatuh hampir 20% pada 2022, dilihat dari produksi di 2017, ujar Rachel. Indonesia, lanjut Rachel, juga akan tetap bergantung pada impor bahan bakar minyak mentah, sekitar 35%-40% dari kebutuhan minyak mentahnya di 2022.

Penurunan produksi minyak mentah domestik sebagian besar akan diatasi oleh pengalihan ekspor barel ke pasar domestik di bawah kebijakan baru pemerintah. Karena kapasitas penyulingan domestik terbatas, impor minyak bumi kemungkinan akan mencapai lebih dari 55% permintaan minyak bumi pada tahun 2022, naik 40% dari saat ini.

Moody’s melihat peran Pertamina sebagai vital untuk sektor ini. Dengan demikian, pemerintah akan tetap merancang kebijakannya seperti saat ini, bahwa subsidi bahan bakar yang ditanggung Pertamina sebagian dikompensasi oleh kebijakan hulu tetap menguntungkan, termasuk pemberian blok minyak dan gas utama, pungkas Rachel. (Lukman Hqeem)

Penulis:

Baca Juga