Mundur Dari Caketum Golkar, Bamsoet Beri Trend Baru Kepada Politisi Milenial

Politisi senior partai Golkar Bambang Soesatyo atau Bamsoet mundur dari bursa pencalonan Ketum Golkar saat Munas Golkar ke-10. Tindakannya mendapat apresiasi positif dari sejumlah pengamat.

Jakarta, Akuratnews.com - Gonjang-ganjing Munas Golkar ke-10 yang dihelat saat ini bakal ramai karena pertarungan sengit Bamsoet versus Airlangga Hartarto, rupanya benar-benar tak terjadi.

Pasalnya, beberapa saat jelang Munas digelar, Bamsoet menyatakan dirinya mundur dari pencalonan Ketum partai berlambang beringin tersebut.

Sikap Bamsoet tersebut tentunya menuai polemik dan pro kontra baik di internal partai maupun di luarnya. Mengingat, jika suhu politik di dalam Golkar memanas, maka suhu politik secara nasional pun akan ikut memanas.

Hal tersebut sempat disinggung juga oleh Presiden Jokowi saat membuka Munas.

"Kalau Golkar panas, perpolitikan nasional ikut panas. Sebetulnya juga enggak apa-apa, tapi kalau ada jalan persaudaraan, kerukunan, mengapa pilih yang panas-panas?" ucap Jokowi, dalam pembukaan Munas Partai Golkar, di Jakarta, Selasa (3/12/2019).

Terkait mundurnya Bamsoet, pengamat politik Parameter Research Consultant, Edison Lapalelo memberi apresiasi positif.

"Bamsoet melakukan langkah politik yang sangat luat biasa. Ini adalah satu tindakan politik sebagai seorang tokoh partai yang bagi saya telah memberikan trend yang baru kepada politisi milenial. Bahwa politik itu harus ada sikap legowo, bisa menerima dan bisa mementingkan kepentingan banyak orang, kepentingan partai daripada kepentingan pribadi. Tidak perlu dipersoalkan mundurnya Bamsoet dari pencalonan Munas partai Golkar inii." ujar Edison Lapalelo kepada Akuratnews, di Jakarta, Rabu (4/12/2019).

Mundurnya Bamsoet menurut Edison, karena Bamsoet sendiri telah memikirkan dengan matang dan mendengarkan para senior atau melihat situasi politik di Indonesia

Hal ini masih kata Edison memang terkait dengan kecerdasan Bamsoet dalam membaca situasi politik saat ini.

"Kita tahu bahwa Bamsoet punya 4 alasan kalau saya rangkum dari 4 alasan itu, dia sangat memahami situasi politik hari ini. Tindakan ini adalah tindakan Politisi yang sangat cerdas. Bamsoet juga sangat pandai memainkan dinamika di partai Golkar." imbuh Edison.

Tak cuma Bamsoet, Edison juga menyorot Airlangga yang menurutnya mampu menjaga dinamika politik dalam tubuh Golkar.

"Airlangga itu mampu menjaga dinamika Partai Golkar dan Bamsoet mampu mengelola dinamika di partai Golkar.
Kalau di ujung nanti mereka berdua berkompromi, bagi saya adalah satu good job politik yang harus ditiru banyak orang. Inilah cantiknya dinamika di Golkar. Baik Bamsoet maupun Airlangga, mereka telah menghibahkan dirinya untuk Golkar. Bamsoet dan Airlangga mengokohkan Golkar dalam sejarah politik Indonesia dan dunia." papar Edison.

Dengan demikian, Edison menilai jika Bamsoet maupun Airlangga memang tak ingin jika kepentingan pribadi mereka itu akan menghancurkan semua kader Golkar sampai tingkat ranting sekalipun. Karena hal itu berkaca pada pengalaman masa lalu dimana Golkar pernah terpuruk dari segi elektoral.

Sementara itu munculnya kekhawatiran jika Airlangga dipastikan memimpin Golkar akan kembali ke masa orde baru, Edison melihat tak demikian sebagaimana partai besar lainnya.

"Kalau bicara orba seolah-olah itu memang maenstremnya hanya pada partai Golkar. Kalau kita lihat pada PDIP, Gerindra, Demokrat, dari dulu prilaku politik di partai tersebut adalah dengan melakukan proses-proses politik dengan tidak ada pemilihan yang ada hanya aklamasi ibu Megawati, Prabowo dan lain-lain. Jadi dengan aklamasi pak Airlangga saya kira bukan prilaku orba. Golkar tidak kembali ke orba. Ini hanya situasional politik." jelas Edison.

Sedangkan adanya isu Presiden Jokowi ikut intervensi dalam pemilihan Airlangga sebagai Ketum Golkar, Edison lantas tak sependapat dengan adanya isu itu.

"Sebagai presiden, Jokowi mau situasi politik secara nasional itu aman. Bagi saya ini bukan intervensi karena harus mengetahui situasi politik. Golkar adalah Salah satu partai yang cukup berpengaruh terhadap situasi politik nasional. Jokowi sempat bilang hawanya sudah sejuk. Ini pesan bahwa sesungguhnya sebagai presiden, dia ingin situasi politik itu sejuk." lanjut Edison.

Edison memastikan, kendati Munas belum memutuskan siapa Ketum Golkar, dipastikan Airlangga bakal duduk sebagai orang nomor satu di partai berlambang beringin tersebut.

"Saya ucapkan selamat kepada Airlangga yang sudah dipastikan jadi ketum Golkar. Saya juga ucapkan selamat kepada Bamsoet sebagai tokoh politik nasional partai Golkar yang telah memberikan pendidikan politik yang baik bagi generasi Milenial yang hari ini lagi trend berasimilasi atau bersosialisasi dengan politik." tutup Edison.

Penulis: Ahyar
Editor:Alamsyah

Baca Juga