Opini

Negara Bebas Utang Bukan Khayalan

Akuratnews.com - Indonesia negeri dengan potensi alam yang luar biasa ini. Utang luar negerinya yang tadinya berada pada level di bawah seribuan triliun rupiah, kini sudah nyaris menyentuh Rp 6.000 triliun per Oktober 2020.

Tak heran jika belum lama ini Bank Dunia memasukkan Indonesia sebagai 10 besar negara yang memiliki utang luar negeri terbesar pada tahun lalu. Data yang dipublikasikan Bank Dunia dalam laporan "Statistik Utang Internasional (IDS)" pada Senin (12/10) itu menunjukkan Indonesia berada pada peringkat keenam pengutang terbesar. (Republika.co.id)

Memang mengejutkan pasalnya negeri ini negeri kaya, namun utangnya terus membengkak. Yang lebih mengejutkan berdalih bahwa utang tersebut demi menyelamatkan rakyat, sebagaimana (dikutip dari Viva.com). Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, utang yang dibuat di tengah masa krisis untuk selamatkan rakyat.

"Makanya ada saja orang yang nyinyir ke saya itu utang-utang. Ya enggak apa-apa, wong itu utang untuk selamatkan jiwa seluruh Republik Indonesia," ujar Sri, Senin, 2 November 2020 lalu.

Memang setiap tahun utang lndonesia terus meningkat. Di penghujung tahun 2020 ini jumlahnya sangat fantastis. Kado pahit buat rakyat, jika berdalih untuk seluruh jiwa Republik Indonesia lantas jiwa yang mana? Pasalnya, masih banyak jiwa yang terlupakan, mereka harus mencari solusi sendiri tentang kondisi mereka hari ini. Jangankan sejahtera harapan kesejahteraan saja jauh dari angan.

Apalagi jika ditambah dengan beban utang negara tersebut tentu rakyat akan semakin terjerat dengan tingginya pajak dan kebutuhan dasar, iuran BPJS dan berbagai fasilitas lainnya. Maka sejatinya dalih berhutang untuk menyelamatkan jiwa secara keseluruhan tersebut adalah kebohongan. Buktinya kasus bunuh diri dinegeri ini akibat himpitin ekonomi masih tinggi.

Padahal sejatinya Indonesia negara kaya, sangat mampu memenuhi kebutuhan hidup rakyatnya begitu pun memenuhi kebutuhan dalam negeri tanpa utang. Ketika berbicara sumber daya alam saja, maka Papua merupakan salah satu surganya. Berbagai barang tambang bisa ditemukan di sana, termasuk tambang emas. Papua merupakan daerah tambang emas terbesar di dunia. Total cadangan emas yang dimiliki sebesar 1.187 ton dengan nilai mencapai USD 469,7 miliar.

Tanjung Enim, Sumatera Selatan adalah wilayah penghasil batu bara. Produksi tambang batu bara di daerah ini mampu menghasilkan 1.500 -1.700 ton setiap jamnya. Jumlah produksi yang tentunya sangat besar. Selain itu, masih banyak lagi sumber daya alam yang melimpah yang tersebar di seluruh negeri (Merdeka.com, 23/7).

Namun sayang, kekayaan alamnya melimpah tapi justru utang semakin membengkak. Ini akibat diterapkannya sistem ekonomi kapitalisme. Dalam sistem ini siapa pun, baik individu atau kelompok bisa memiliki dan menguasai sumber daya alam tersebut.

Alhasil, distribusi kekayaan hanya dimiliki segelintir orang saja. Empat orang terkaya di lndonesia menguasai kekayaan 100 juta rakyat. Ibarat pepatah, sistem ini menjadikan si kaya makin sejahtera, yang miskin makin sengsara dan hampir binasa.

Sebab rakyat ibarat sumber pendapatan negara, semua dibebankan kepada rakyat, inilah Ironi hidup dalam sistem kapitalis, kekayaan yang dimiliki tak bisa dinikmati. Justru menambah utang yang menyebabkan negara tunduk pada negara pemberi utang dengan segala risikonya.

Berbeda dengan negara yang menggunakan sistem Islam (Khilafah) dalam mengurus kebutuhan masyarakat agar terhindar dari utang. Khilafah mempunyai Bayt al-Mal yang merupakan institusi khusus dalam menangani harta yang diterima negara dan mengalokasikannya pada rakyat.

Pos-pos pendapatan dalam Bayt al-Mal terdiri dari tiga pos pemasukan utama yang masing-masing rinciannya memiliki banyak ragam jenis pemasukan.

Pertama, bagian fa’i dan kharaj. Fa’i adalah salah satu bentuk rampasan perang, dan kharaj adalah retribusi atas tanah atau hasil produksi tanah dimana para pemilik tanah taklukan tersebut membayar kharaj ke negara Islam.

Kedua, bagian pemilikan umum. Kepemilikan umum adalah izin dari asy-Syari‘ (Allah) kepada jamaah (masyarakat) untuk secara bersama-sama memanfaatkan sesuatu. Kepemilikan umum meliputi segala sesuatu yang menjadi kebutuhan vital bagi masyarakat, segala sesuatu yang secara alami tidak bisa dimanfaatkan hanya oleh individu secara perorangan, dan barang tambang yang depositnya tidak terbatas, yaitu barang tambang yang jumlahnya sangat banyak.

Pihak yang berhak mengelolanya adalah negara. Lalu negara akan mengembalikan lagi hasil kepemilikan umum kepada rakyat dalam bentuk pelayanan sandang, pangan, papan, serta kesehatan, pendidikan, dan keamanan secara murah, mudah, bahkan gratis pada seluruh rakyat, baik miskin atau kaya.

Ketiga, bagian sadaqah. Bagian sadaqah terdiri dari zakat uang dan perdagangan, zakat pertanian dan buah-buahan, zakat ternak unta, sapi, dan kambing. Distribusi zakat juga sesuai dengan syariat, yaitu untuk delapan golongan saja.

Kebijakan fiskal Bayt al-Mal akan membelanjakan anggarannya untuk investasi infrastruktur publik dan menciptakan kondisi yang kondusif agar masyarakat mau berinvestasi untuk hal-hal yang produktif.

Bahkan pada zaman Rasulullah Saw, beliau membangun infrastruktur berupa sumur umum, pos, jalan raya, dan pasar. Pembangunan infrastruktur ini dilanjutkan oleh Khalifah ‘Umar bin Khattab ra. Beliau mendirikan dua kota dagang besar yaitu Basrah (sebagai pintu masuk perdagangan dengan Romawi) dan Kota Kuffah (sebagai pintu masuk perdagangan dengan Persia).

Khalifah ‘Umar bin Khattab ra juga membangun kanal dari Fustat ke Laut Merah, sehingga orang yang membawa gandum ke Kairo tidak perlu lagi naik onta karena mereka bisa menyeberang dari Sinai langsung menuju Laut Merah. Khalifah ‘Umar bin Khattab ra juga menginstruksikan kepada gubernurnya di Mesir untuk membelanjakan minimal 1/3 dari pengeluarannya untuk infrastruktur (Karim, Ekonomi Makro Islami).
Kebijakan negara khilafah islamiyah terbukti kuat dan mandiri tanpa utang. Sebab, utang adalah penjajahan gaya baru negara besar atas negara lain. Artinya, ini sangat berbahaya bagi keberlangsungan negara. Demikianlah pendapatan dan distribusi kekayaan yang rinci, menjadikan negara mampu menyejahterakan rakyat, baik muslim maupun nonmuslim selama lebih 13 abad.

Telah ada contoh terbaik untuk menuju kesejahteraan dan sistem terbaik yang Rasulullah contohkan, maka sudah sepatutnya negeri muslim terbesar ini mengambil sistem yang mampu mewujudkan rahmat bagi seluruh alam dengan mencampakkan sistem kapitalisme sekuler dengan kembali kepada sistem Islam Khilafah. Allahu a’lam

Baca Juga