oleh

New Zealand dan Bara Baruch Goldstein

Opini, Akuratnews.com – Tragedi teror Selandia Baru telah menyentak nurani dunia. Masyarakat global yang cinta damai, ramai-ramai mengutuk keras aksi biadab yang menewaskan 49 orang: 41 meninggal di Masjid Al-Noor, 7 di Masjid Linwood dan seorang berpulang ke Rahmatullah di RS Christchurch Public Hospital.

Menurut laporan KBRI Wellington, 6 warga negara Indonesia (WNI) ikut menjadi korban, 5 selamat dan 1 belum diketahui keberadaannya. Serta seorang ayah dan anak yang tertembak dalam kondisi kritis, dirawat di ICU rumah sakit setempat. Semoga Allah SWT menempatkan mereka yang syahid di surga firdaus-Nya, amin.

Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) pun, mengutuk keras pembunuhan massal yang amat sadis itu, dan menyebutnya sebagai tindakan keji dan sangat pengecut.

“Para anggota Dewan Keamanan menegaskan kembali bahwa terorisme dalam segala bentuk dan manifestasinya merupakan salah satu ancaman paling serius bagi perdamaian dan keamanan internasional,” demikian rilis DK PBB yang beranggotakan 15 negara yang dikutip Reuters, Sabtu (16/3/2019).

Drama kemanusiaan yang memilukan ini, mengulang kembali kisah getir pembantaian yang nyaris sama. Atas nama agama, sesosok manusia mencabut nyawa sesama manusia, seolah-olah merampas hak prerogatif Tuhan sebagai pemilik ruh.

Sejarah mencatat, Baruch Kopel Goldstein adalah seorang dokter, ekstremis Israel-Amerika yang melakukan pembantaian Gua Patriark yang menewaskan 30 Muslim Palestina dan melukai 125 orang lainnya. Ia dihajar sampai mati oleh para korban yang selamat dari aksi bejatnya.

Mirip yang dilakukan teroris New Zealand asal Australia bernama Brenton Tarrant (28 tahun) itu, pada 25 Februari 1994, Baruch yang kala itu berusia 38 tahun menembaki jamaah yang baru selesai shalat Jumat di Masjid al-Khalil Ibrahimi, Hebron.

Seperti aksi Brenton yang disiarkan secara langsung via media sosial, Baruch beringsut masuk masjid di Machpela Cave dan memoncongkan senjata berisi sekitar 100 peluru pada para jamaah.

Saksi mengatakan, Goldstein yang membawa 300 butir amunisi dan 5 granat, menembak dengan senapan Galil otomatis tiruan Soviet AK-47, dalam tempo 10 menit. Masjid berusia lebih 1.000 tahun dan terdapat makam Nabi Ibrahim, Ishaq, Ya’qub dan Yusuf, ketika itu sedang dipenuhi sekitar 800 orang yang juga sedang menjalankan ibadah puasa Ramadhan (Republika, 25 Februari 2016).

PM Israel saat itu, Yitzhak Rabin, mengatakan, pihaknya akan melakukan penyelidikan meski akhirnya menyimpulkan pemerintah tidak bertanggung jawab karena pelaku bekerja sendiri tanpa rekan. Bahkan sangat ironis, warga Yahudi setempat justru menganggap Goldstein orang suci. Mereka pun membangun kuil untuk menghormatinya. Tapi tempat pemujaan itu dihancurkan penguasa pada 1999.

Goldstein bukan orang Barat pertama yang melakukan aksi biadab. Pada 1982, Alan Goodman menembaki jamaah di luar Masjid Al-Aqsa Yerusalem. Tentara Amerika-Israel beragama Yahudi ini, menewaskan dua orang dan melukai 11 korban.

Tahun 1969, warga Australia, Denis Michael Rohan, membakar mimbar Masjid Al-Aqsa (https://kumparan.com/@kumparannews/9-fakta-soal-al-aqsa-dan-konfliknya-yang-perlu-kamu-tahu).

Namun, patut disyukuri, tak seperti Israel, Pemerintah Selandia Baru bertindak cepat. Dilansir dari AFP, Sabtu (16/3/2019), Brenton Tarrant sudah ditangkap dan muncul di pengadilan mengenakan borgol dan pakaian tahanan berwarna putih. Eks instruktur kebugaran kelahiran Australia itu, duduk tanpa ekspresi saat hakim membacakan tuduhan kepadanya. Publik dunia, khusus masyarakat Islam, tentu sangat berharap agar keadilan bisa ditegakkan seadil-adilnya.

Atas tragedi kemanusiaan yang menyakitkan ini, sebuah pelajaran dapat dipetik dari The Kingdom. Bertolak dengan kebiasaan film-film Amerika, sinema pemberantasan teroris yang disutradarai Peter Berg ini, justru menjadikan polisi Saudi sebagai pahlawan.

Dialog para aktor pada akhir cerita dengan setting permukiman warga di Arab Saudi itu, bisa menjadi bahan renungan.

Tim antiteror FBI, Adam Leavitt (Jason Bateman) bertanya pada Ronald Fleury (Jamie Fox) dan Janet Mayes (Jennifer Garner), tentang apa yang ia dibisikkan untuk menenangkan rekannya. Sang aktor berkata, “I told we were gonna kill them all. (Kutegaskan, kami akan membunuh mereka semua)”.

Hal sama dilakukan putri Abu Hamzah, tokoh teroris yang tewas dalam pertempuran dengan FBI. Ia bertanya pada anaknya tentang apa yang dibisikkan kakeknya saat sekarat ditembak tim antiteror.
Dan sang putra menjawab, “Don’t fear my child. We are going to kill them all. (Jangan takut cucuku. Kami akan membunuh mereka semua)”.

Teror akan melahirkan teror, kekerasan akan berbalas kekerasan dan dendam hanya akan memicu amarah, darah dan air mata.

Mari berdoa agar keadilan global ditegakkan seadil-adilnya, sejahterakan dan makmurkan umat manusia dengan spirit perdamaian dan semangat rahmatan li al-alamin. Amin ya Rab al-‘alamin.

Penulis Oleh: Yudhiarma MK

Loading...

Komentar

News Feed