Nobar ‘Remembering: The Maurits Kiek Story’ Jadi Gong Hari Perdamaian Dunia

Yogyakarta, Akuratnews.com - Tanggal 21 September selalu dirayakan sebagai Hari Perdamaian Dunia. Dalam rangka memeriahkannya, digelar nonton bareng (nobar) film 'Remembering: The Maurits Kiek Story' di Yogyakarta, Sabtu (21/9).

Film ini diharapkan menginspirasi penonton Indonesia ketika diputar pada perayaan Hari Perdamaian Dunia ini, terutama karena pesan film ini adalah tentang menggemakan perdamaian dan menyebarkannya ke dunia.

Dalam acara pemutaran ini, diumumkan juga bahwa film ini meraih Film Terbaik dalam Europe Asia Festival of Cinema dan meraih penghargaan Best Enlightenment Award dari Borobudur International Film Festival.

Cheryl Halpern, produser dan sutradara Amerika untuk film dokumenter berdurasi panjang ini mengatakan, ketika dirinya memproduksi dan menyutradarai film ini, tujuannya agar film dokumenter ini diputar di seluruh dunia dengan penonton yang beragam.

"Kisah Maurits Kiek perlu diceritakan, perlu diingat karena di dunia sekarang ini, untuk sekali lagi kita melihat kebangkitan dari ekstremisme, neo-nazisme, prasangka, kekerasan, kebencian manusia terhadap sesamanya dan tidak terbatas di benua Eropa saja, namun di seluruh dunia,” ujar Cheryl di sela-sela acara.

Ia juga menambahkan, penting untuk membagikan cerita ini di Indonesia agar generasi muda bisa  membahas pelajaran yang di dapat dari film ini.

Kanjeng Ratu Pakualaman IX Al-Hajj sebagai salah satu penonton yang hadir di pemutaran film ini berkomentar, dirinya baru saja menonton film yang sangat inspiratif tentang perjuangan seorang tokoh membela kebenaran dan seorang tokoh yang benar-benar mencoba, bahkan mengorbankan dirinya untuk membebaskan orang lain.

"Merupakan hal yang sangat luar biasa sehingga saya pikir kita semua perlu berpegangan tangan, agar hal yang dilalui Maurits Kiek tidak terjadi lagi di masa depan. Meskipun kita tidak dapat menjamin hal semacam ini tidak akan terjadi di masa depan, mari kita coba untuk menciptakan perdamaian di lingkungan dan masyarakat kita yang merupakan salah satu cara untuk mencapainya," ujarnya.

Sementara Wakil Bupati Wonosobo, Agus Subagiyo berkomentar, ia sangat menghargai film ini karena bercerita tentang seorang tokoh yang dijajah tetapi masih memilih untuk mencoba mendamaikan dunia.

"Ini merupakan contoh kepahlawanan yang dapat dilakukan dan ditiru oleh Indonesia. Tokoh ini dapat digunakan sebagai contoh bagaimana seseorang dapat membawa perdamaian dunia," paparnya.

Sedangkan Tondi Hasibuan, Raja ke-12 dari kerajaan Huristak, Padang Lawas, Sumatera Utara menambahkan, film seperti ini benar-benar bagus dan memiliki unsur pendidikan yang sangat tinggi.

"Agar masyarakat dapat menonton dan belajar dari film ini, saya harap film semacam ini perlu diproduksi lebih banyak lagi di masa depan," ujarnya.

Untul diketahui, 'Remembering: The Maurits Kiek Story' menyajikan keberanian seorang pemuda untuk kembali ke Eropa yang diduduki Nazi di mana hadiah untuk penangkapannya hidup atau mati telah disebar.

Maurits adalah agen MI-9 Inggris terselubung dan terlibat dalam menyelamatkan nyawa penerbang sekutu dan banyak lainnya tanpa melihat dari ras, agama, atau kepercayaan.

Ia berani untuk berkata tidak dan mengorbankan dirinya untuk dunia yang lebih baik. Tekad Maurits Kiek yang tak tergoyahkan untuk berdiri, dalam menghadapi peluang yang luar biasa, dan melawan para pelaku kejahatan baru-baru ini diakui di Den Haag pada 2015.

“Karena kaum mudalah yang menjadi pemimpin masa depan masyarakat. Jika mereka tidak belajar bagaimana menjadi berani ketika menghadapi prasangka, intoleransi, rasisme dan kekerasan, yang saya takuti untuk cucu-cucu saya dan masyarakat pada umumnya adalah di mana kita akan berada. Jika kita dapat menceritakan kisah seperti ini dan belajar dari kisah ini dalam mis-interpretasi siber di zaman ini, mungkin kita memiliki peluang membangun dunia yang lebih damai," tutup Cheryl.

Penulis: Rianz
Editor: Redaksi

Baca Juga