Noorsy: Disini Namanya Esemka Bima, Kalau di China Changan Star Truck?

Foto Net

Noorsy mengatakan, untuk memverifikasi apakah mobil itu benar produk dalam negeri dapat diajukan tiga pertanyaan mendasar, yakni: Pertama, dimana blok mesin dibuat? Kedua, dibuat dengan moulding (pencentak blok mesin) darimana? Ketiga, bagaimana dengan bahan baku sehingga secara metalurgi memiliki standar industri otomotif?

"Kenapa pertanyaannya begitu?" kata Ichsanuddin Noorsy kepada Akuratnews.com, Jumat (6/9/2019) malam.

Menurut Noorsy berdasarkan pengalaman berdebat dengan akademisi Jepang dan Korea serta pebisnis dari Guang Zhou, mereka mengatakan, tak ada riwayatnya teknologi dasar diberikan (kepada negara lain), kecuali dengan mencuri.

"Kami mencuri," kata Noorsy mengutip dari pembicaraan dengan para akademisi dan pebisnis tersebut. Prinsipnya, bicara teknologi dasar pembuatan mobil, ya harus dengan cara mencuri teknologi dari negara lain.

Noorsy mengatakan, Agen Tunggal Pemegang Merek atau ATPM dari Jepang, hingga saat ini tidak membuka rahasia bagaimana merekayasa moulding untuk membuat blok mesin.

"Mari kita bertanya kepada Fakultas Teknik Mesin dan Metalurgi di Universitas atau Institut ternama di Indonesia, pernahkah mereka berhasil membuat blok mesin dengan bahan bakar fosil?" kata Noorsy.

Menurut dia, Pembuatan moulding untuk memproduksi blok mesin dengan bahan bakar tertentu merupakan jantung industri otomotif. "Selama mouldingnya dirahasiakan, struktur bahan bakunya ditutupi, maka produksi otomotif itu didikte oleh pembuat blok mesin. Kalaupun blok mesin Esemka Bima sudah dibuat di Indonesia, tetap muncul pertanyaan tentang pembuatan mouldingnya dan struktur metalnya." Papar pengamat ekonomi ini.

Selanjutnya 1 2 3
Penulis:
Editor:Ahmad Ahyar

Baca Juga