Opini

Normal Live Saat Pandemi, Untuk Keuntungan Siapa?

Akuratnews.com - Pernyataan pemerintah untuk hidup berdamai dan berdampingan dengan Covid -19 adalah suatu kebijakan yang sembrono. Karena kesehatan rakyat menjadi taruhannya. Disini rakyat dibingungkan dengan diksi yang disampaikan oleh Presiden Jokowi bertentangan dengan apa yang disampaikan dalam pertemuan virtual KTT G20 pada maret lalu (26 maret 2020). CNN Indonesia. Kala itu Presiden Jokowi secara terbuka mendorong agar pemimpin negara - negara dalam G20 menguatkan kerjasama melawan atau dengan bahasa perang melawan Covid -19, sampai ditemukannya vaksin.

Menyikapai dua diksi yang berbeda memberi pesan tersirat kepada masyarakat Indonesia agar dapat lebih berdisiplin dalam menjaga diri sendiri, ini erat kaitannya dengan herd Immunity yang dicanangkan.

Istilah berdamai itu seakan - akan melegitimasi perilaku masyarakat yang tidak patuh PSBB sebagai solusi yang diambil bukan Lockdown yang seharusnya. CNNIndonesia.com, jum'at (8/5)

Kenapa begitu banyak kebijakan yang tumpang tindih antara bolehnya pulang kampung dan tidak boleh mudik. PSBB digalakkan hanya untuk bertujuan agar roda perekonomian tetap berjalan. Kebijakan yang berbeda antara pemerintah pusat dan daerah semakin membingungkan masyarakat yang berada dibawahnya.

Berdamai atau normal live malah akan semakin memicu potensi berbahaya terkait penyebaran Covid -19, apalagi menjelang idul fitri 1441 H. Seakan - akan Pemerintah melepas rakyatnya kedalam rimba belantara, dan berlepas tangan terhadap kesehatan dan kebutuhan hidup asasi rakyat.

Kebijakan pemerintah yang tidak searah, Analis Kebijakan Publik, Bapak Trubus Rahadiansyah menilai selama ini penanganan Covid, aku sangat lemah dari sisi perencanaan. Penerapan kebijakan yang saling bertubrukan memberi kesan inkosisten. Sehingga memperparah ketidakpercayaan publik. Contohnya turunan aturan dari penerapan status PSBB dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 202p hanya sampai Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 9 Tahun 2020 yang berisi pedoman penerapannya status PSBB.

Pada akhirnya, masyarakat harus dipaksa untuk hidup secara normal kembali ditengah situasi pandemi Covid-19 saat ini. Untuk siapa sebenarnya kebijakan berdamai dengan corona? Benarkah karena kebutuhan ekonomi rakyat atau pengusaha dan para kapital? Coba kita analisa, saat mall besar dibuka, siapa yang diuntungkan? Para pemilik modal tentunya, yang tidak mau usahanya gulung tikar. Rakyat kecil jadi tumbal sebagai konsumen dan buruh saja.

Korporasi nasional dan raksasa dunia begitu mendominasi pengambilan keputusan pemerintah suatu negara bahkan dalam kebijakan internasional sebagai kuda troyanya. Tidak ada keputusan yang diambil oleh negara pengusung kapitalis kecuali hanya korporasi. Fungsi negara hanyalah sebagai regulator untuk memastikan roda bisnis berjalan mulus tanpa hambatan.

Berbeda sekali dengan solusi yang diemban Islam, dimana Islam telah begitu sempurna dalam mensolusi semua problematika umat dalam mengatasi wabah, kesehatan, kebutuhan pangan, hubungan politik luar negeri, pun masalah individu, hingga terbentuk pribadi yang taat terhadap hukum Allah dimanapun berada.

Begitu juga masalah dunia saat ini, solusinya hanya kembali pada sistem kehidupan islam secara kaffah dan menjadikan Islam sebagai jalan hidup. Dalam bingkai Khilafah. Karena dengan khilafah semua aturan islam bisa diterapkan dalam setiap lini kehidupan, tidak hanya sebagian saja. Dari sinilah keberkahan dan kebaikan Allah SWT turunkan dari langit dan dari bumi.

Allahu a'lam bish showab

Penulis: Ummu Fillah

Baca Juga