Nyeri Dibagian Pinggang? Itu Bisa Saja Gejala HNP

Jakarta, Akuratnews.com - Syaraf kejepit atau Hernia Nucleus Pulposus (HNP) merupakan penyakit yang pernah dialami oleh masyarakat. Hal ini dikarenakan adanya penonjolan bantalan sendi tulang belakang yang menjepit syaraf.

Akibatnya, timbul rasa nyeri yang sangat luar biasa, panas, ngilu, kesemutan, sampai terasa seperti kesetrum. Rasa sakitnya menjalar ke bawah hingga betis atau jari kaki.

Penyebab HNP ini berbagai macam. Faktor resiko, antara lain merokok, batuk yang terlalu lama, cara duduk yang salah, cara mengangkat barang yang salah, dan lain-lain.

dr. Harmantya Mahadhipta, Sp.OT (K) Spine, Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi Tulang Belakang RS Premier Bintaro dari RS Premier Bintaro, mengatakan, banyak orang yang meremehkan rasa nyeri di bagian pinggang menjalar ke kaki dan berharap akan hilang dengan sendirinya. Padahal, bila tidak tertangani dengan tepat, nyeri pinggang dapat menyebabkan pembengkokan tulang belakang.

"Bila masih ringan, HNP bisa diatasi cukup dengan obat dan berolah raga. Misalnya, berenang, pilates, dan yoga dengan konsentrasi di area tulang belakang," kata Harmantya kepada media di Jakarta. pada Rabu (12/07) lalu.

dr.Harmantya menjelaskan, cara lainnya dengan menjalani fisioterapi. Sebenarnya, memperbaiki posisi duduk dan tidur pun bisa mengatasi nyeri pada pinggang.

"Jika cara-cara tersebut tidak mampu mengatasi rasa nyeri, bisa dengan suntikan atau laser. Jika hasil non operatif tersebut tidak memberikan hasil, barulah melakukan operasi," jelasnya.

Untuk operasi, lanjutnya, RS Premier Bintaro mengedepankan metode Minimal Invasive Spine Surgery yang lebih unggul dalam hal luka yang lebih kecil, cidera pada otot yang minimal, perdarahan yang minimal, derajat komplikasi dan infeksi yang lebih ringan, nyeri pasca operasi yang minimal dan waktu pemulihan dan perawatan di rumah sakit yang lebih singkat.

"Sayatan yang dibentuk juga sangat kecil hanya sekitar 8 mm, dengan bius lokal. Sehingga pasien bisa tetap sadar selama proses operasi dengan perdarahan yang minimal," imbuhnya.

Pada prakteknya, teknik MISS dibagi menjadi dua, yakni teknik Fusion yang masih menggunakan implan seperti screw, cage, dan sebagainya. Juga teknik Non-Fusion yang menangani permasalahan tulang belakang sealami mungkin tanpa ada implan.

Perkembangan metode MISS kini lebih menggunakan teknik Non-Fusion. Arahnya adalah Endoscopy, mulai dari Micro Endoscopic Discectomy, serta terkini yakni Percutaneous Endoscopic Lumbar Discectomy (PELD).

"Untuk PELD, metode ini merupakan full Endoskopi dan bisa dilakukan dengan bius lokal, kondisi pasien yang sadar dan one day care,” ujar dr. Harmantya.

Meski begitu tak dipungkiri, masih banyak pasien yang lebih memilih ‘diam’ atas keluhan pada tulang belakangnya dibanding dilakukan tindakan. Alasan mulai dari biaya yang mahal hingga ketakutan akan terjadi kelumpuhan akibat operasi. Padahal menurut dr. Harmantya, hal itu tidak sepenuhnya benar.

“Mengenai biaya, sebenarnya merupakan hal yang relatif. Semakin dini terdeteksi, penanganan akan semakin mudah. Biayanya pun akan semakin murah. Sedangkan rasa takut akan kelumpuhan, itu adalah pemikiran yang salah kaprah," pungkasnya. (Dhanny)

Penulis:

Baca Juga