OJK Luncurkan Revisit SNLKI

Jakarta, Akuratnews.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meluncurkan Revisit Strategi Nasional Literasi Keuangan Indonesia (Revisit SNLKI) yang merupakan penyesuaian dari strategi sebelumnya yang telah diluncurkan Presiden pada 19 November 2013 silam.

Revisit menjadi pedoman bagi OJK, lembaga jasa keuangan, dan pemangku kepentingan lainnya dalam pelaksanaan kegiatan untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan masyarakat Indonesia, sesuai dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Literasi dan Inklusi Keuangan.

Anggota Dewan Komisioner Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen, Kusumaningtuti S Soetiono menyampaikan penyesuaian strategi tersebut diperlukan antara lain karena hasil evaluasi selama 2013-2016 menunjukkan kegiatan edukasi keuangan masih perlu ditingkatkan.

Juga untuk menyesuaikan dengan perkembangan teknologi informasi yang memiliki pengaruh terhadap peningkatan literasi dan inklusi keuangan, perkembangan produk dan layanan jasa keuangan yang semakin kompleks, serta hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2016.

Indeks literasi kuangan, kata Kusumaningtuti, yang sebelumnya sebesar 21,8% pada 2013 meningkat menjadi 29,7% pada 2016. Hal yang sama juga terlihat pada indeks inklusi keuangan 2013 sebesar 59,7% menjadi 67,8% di 2016.

"Meskipun indeks literasi dan inklusi keuangan mengalami kenaikan, perlu dilakukan akselerasi pencapaian indeks literasi dan inklusi keuangan,” kata Kusumaningtuti melalui keterangan resmi, Jumat (14/7/17).

Menurutnya, akselerasi tersebut bertujuan agar target pencapaian indeks inklusi keuangan sebesar 75% pada 2019 dapat tercapai.

“Dalam Revisit SNLKI terdapat beberapa hal yang tidak terdapat pada SNLKI sebelumnya antara lain informasi terkait literasi dan inklusi keuangan syariah, layanan keuangan digital dan perencanaan keuangan,” kata Kusumaningtuti.

"Sasaran kegiatan literasi dan inklusi keuangan pada Revisit SNLKI juga semakin luas dengan menambahkan sasaran pemuda, sasaran penyandang disabillitas, masyarakat daerah tertinggal, terpencil dan terluar, TKI dan Calon TKI, petani dan nelayan serta mengubah penyebutan ibu rumah tangga menjadi perempuan," tutupnya. (Lukman)

Penulis:

Baca Juga