P2G : Kemdikbud Tidak Serius, Banyak Guru dan Siswa Belum Terima Subsidi Internet

Jakarta, Akuratnews.com - Perhimpunan untuk Pendidikan dan Guru (P2G) menemukan fakta bahwa banyak sekolah yang belum mendapatkan bantuan kuota internet. Tercatat sebanyak 19 provinsi melaporkan belum menerima bantuan tersebut sejak bulan September.

"Sekolah dari 19 Provinsi belum menerima bantuan kuota internet bulan September, P2G menilai Kemdibud tak serius melaksanakan program bantuan, sekolah meminta akumulasi bantuan kuota September dan Oktober,"ujar Satriwan Salim, Koordinator P2G melalui keterangan tertulis yang akuratnews.com terima, Senin, (26/10).

Satriwan juga menuturkan bahwa guru dan orang tua siswa sangat mengharapkan bantuan ini untuk mengurangi beban saat pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) / Daring.

"Sedari awal program ini dilaksanakan, masih banyak siswa dan guru di daerah termasuk Jakarta yang belum menerima subsidi kuota, padahal guru dan orang tua siswa sangat mengharapkan bantuan ini, untuk mengurangi beban belajar selama Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) berlangsung,"imbuhnya

Dia melanjutkan faktanya Pusdatin, Kemdikbud sudah mulai menyalurkan subsidi kuota bulan kedua Oktober pada 22-24 Oktober (tahap 1).

P2G menilai Kemdikbud tidak benar-benar serius dalam melaksanakan program yang memakan dana jumbo, sebesar 7,2 triliyun untuk empat (4) bulan sampai Desember.

Ditambahkan bahwa laporan kepada P2G perihal siswa dan guru belum menerima bantuan kuota sebenarnya sudah pernah disampaikan akhir September lalu, namun persoalan dari tempat yang relatif sama, masih terjadi hingga sekarang. Bahkan ada penambahan beberapa provinsi sehingga jumlahnya bertambah.

"Artinya, Kemdikbud tidak serius dalam menindaklanjuti temuan-temuan keluhan bantuan kuota bulan September lalu. Padahal mendapatkan bantuan kuota ini merupakan hak dasar siswa dan guru agar pembelajaran PJJ khususnya daring tetap terlaksana,"jelasnya.

Sedangkan Afdhal yang menjabat sebagai Sekretaris P2G mengungkapkan bahwa Kemdikbud hendaknya berempati kepada guru-guru dan sekolah yang tetap semangat mengajar dan melayani walau bantuan kuota belum diterima.

"Bahkan faktanya, banyak orang tua mendatangi guru (wali kelas) dan kepala sekolah menanyakan dan menuntut perihal kapan bantuan kuota dari Kemdikbud ini cair ke nomor ponsel mereka (anaknya)." Ujar guru SMA swasta ini.

Afdhal melanjutkan, sekolah juga sudah mendata jauh-jauh hari, melakukan verifikasi dan validasi, dan menandatangani SPTJM serta mengirimkannya.

"Wajar saja dari hampir 58 juta data pendidik dan peserta didik yang mesti disalurkan, serapannya baru sekitar 35 juta pada bulan Oktober ini. Mestinya 58 juta penerima kuota ini sudah diberikan sedari September. Walau ada persoalan kendala teknis terkait verifikasi validasi yang masih ada. Tapi mestinya sudah bisa diselesaikan, sebab sudah 1 bulan lebih waktu perbaikannya,"pungkasnya.

P2G menemukan ada potensi dana 7,2 triliyun tersebut tak terpakai maksimal, bahkan bisa dikatakan sia-sia. Dana fantastis 7,2 triliyun ini kalau dihitung-hitung, melebihi anggaran pendidikan gabungan beberapa provinsi, yang mencover semua urusan pendidikan di daerah tersebut. Sungguh akan terbuang begitu saja, jika tak dimanfaatkan maksimal.

Baca Juga