Mufti Lembaga Keadatan Jayakarta

Pahlawan Betawi yang Terlupakan, KH. Ratu Bagus Syah Ahmad Syar’i Mertakusuma

KH. Ratu Bagus Syah Ahmad Syar'i Mertakusuma. (foto istimewa)

Akuratnews.com - Sejarah tentang tokoh yang satu ini akan saya tuliskan secara bertahap, karena begitu banyaknya catatan-catatan yang beliau himpun didalam perjalanan hidupnya, sampai sampai saya sendiri bingung mana dulu yang harus saya munculkan.

Sebagai seorang pejuang sejati yang mungkin telah banyak dilupakan orang, alangkah baiknya jika nama beliau ini kita angkat kembali dalam khazanah sejarah bangsa ini. Bagi saya pribadi ketika membaca biografi beliau, saya berkesimpulan bahwa beliau ini bukanlah tokoh biasa, beliau bukan hanya milik Betawi tapi beliau juga milik bangsa ini.

Saya berani katakan bahwa sosok beliau ini termasuk sosok pejuang besar bagi bangsa ini. Sayangnya kesadaran kita untuk menghargai jasa para pahlawan kita masih minim, akibat minimya penghargaan kita kepada para bunga bunga bangsa, nama KH AHMAD SYAR”I sendiri banyak yang tidak mengetahuinya, khususnya di Tanah Betawi, sebagian malah lebih tahu Muhammad Husni Thamrin atau Pitung, padahal dua nama yang saya sebut ini adalah berkat jasa dan andil dari seorang KH AHMAD SYAR’I MERTAKUSUMA ini.

KH Ahmad Syar’i Mertakusuma seperti yang saya baca di beberapa catatan anak dan cucunya serta Kitab Al Fatawi adalah merupakan sesepuh atau ketua Lembaga Adat Jayakarta yang visi dan misinya mengikuti jejak dan ajarannya Rasulullah SAW serta para sahabat.

Gelar-gelar yang disandangnya nanti, khususnya yang berkaitan dengan adat dan istiadat Betawi di Jayakarta bukanlah sebuah bentuk fanatisme akan nilai-nilai feodalisme, justru adanya gelar gelar tersebut untuk menjaga nilai-nilai kehidupan dan ajaran Jayakarta yang sebenarnya memakai ajaran dan nilai nilai Islam. Sejak didirikannya Jayakarta oleh Kesultanan Demak melalui Fattahillah, hukum-hukum adat semuanya bersendikan pada ajaran dan nilai nilai Islam Ahlussunah Wal Jamaah seperti yang pernah dibawa Walisongo.

Sekalipun pada tanggal 30 Mei 1619 Masehi Jan Pieterzoon Coon (JP COEN) mengambil alih Jayakarta dan menggantinya dengan nama BATAVIA, namun semenjak itulah para keturunan JAYAKARTA yang ada di luar Benteng Batavia masih tetap terus dan istiqomah memegang ajaran yang sudah dicanangkan oleh Fattahillah dan penguasa penguasa Jayakarta sebelumnya. Jayakarta jelas sejak dulu adalah Islam dan itu dibuktikan dengan adanya gelar adat yang disandang oleh KH Ahmad Syar;i Mertakusuma ini dengan nama GUSTI KHALIFAH BENDAHARA VII.

Selanjutnya 1 2 3 4 5
Penulis: .....
Editor: Hugeng Widodo

Baca Juga