Opini

Pak Jokowi, Zaman Sudah Berubah, Cara-cara Lama Sudah Tak Relevan

Rudi Hartono, Wakil Sekretaris Jenderal Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik,(Foto dok. Akuratnews.com)

Penulis: Rudi Hartono, Wakil Sekretaris Jenderal Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik, (*)

Akuratnews.com - Ketika berbicara perkembangan dunia, zaman baru, Jokowi selalu menganjurkan cara-cara baru. Katanya, cara-cara lama sudah tak relevan, harus ditinggalkan. Sayang sekali, ketika berhadapan dengan persoalan di Papua, Jokowi tak konsisten dengan kata-katanya. Dia justru terus berkubang dalam cara-cara lama.

Pertama, ketika berhadapan dengan ledakan amarah masyarakat Papua, akibat akumulasi perlakuan tidak adil yang sudah bertumpuk-tumpuk, Jokowi justru menggunakan cara-cara lama: kirim Tentara dan Polisi. Juga tangkapi aktivis, setelah sebelumnya dicap sebagai “provokator”. Ini juga cara pandang lama: setiap aksi protes pasti ada yang memprovokasi dan menunggangi.

Seharusnya pemerintahan Jokowi, sebagai produk reformasi, mengadopsi cara pandang baru: setiap aksi protes merupakan bentuk ekspresi ketidakpuasan dan aspirasi warga negara, yang perlu didengar, diperhatikan, dan direspon baik.

Kedua, setiap ada aksi protes yang berujung kerusuhan, Kominfo di bawah Jokowi langsung blokir internet. Termasuk dalam kasus Papua. Apa yang diharapkan dari pemblokiran internet? Pemerintah ingin mematikan kekuatan internet dan teknologi digital, terutama media sosial, yang bisa menghadirkan informasi dari beragam pihak. Jadinya, setelah internet dimatikan, informasi hanya dari satu sumber: pemerintah. Ini tidak sesuai dengan semangat demokrasi dan kehendak Revolusi 4.0.

Ini kan tidak jauh beda dengan cara-cara lama, yang biasanya ditempuh oleh rezim otoriter. Hanya mediumnya yang beda. Dulu, mediumnya surat-kabar/koran.
Ketika, ketika melakukan dialog, Jokowi masih pakai cara-cara lama: berdialog tokoh-tokoh atau elit Papua.

Jokowi masih berkubang dalam cara pandang lama melihat masyarakat Papua. Ia masih melihat Papua sebagai masyarakat –komunal-tribal, dengan tokoh-tokohnya (kepala suku, adat, pemuka agama, dll) yang berpengaruh kuat di tengah-tengah masyarakat.

Jadi, kalau tokohnya bisa diboyong, maka masyarakatnya pasti ikut. Itu cara pandang lama.

Perkembangan teknologi-informasi, terutama internet dan teknologi digital, membuat orang-orang Papua bisa mengakses informasi dari beragam sumber. Mereka lebih kaya informasi dibanding generasi sebelumnya.

Saya juga mengutip pendapat Bung Manuel Kasiepo tentang generasi baru Papua. Mereka anak muda terdidik, yang tersebar di berbagai kampus di dalam dan luar negeri, yang paradigmanya berbeda jauh dengan generasi tua mereka.

Mereka yang sekarang banyak bersuara nyaring, dengan pandangan-pandangan jernih, tentang kondisi Papua dan persoalan hari ini lewat media sosial atau menulis di media arus utama.

Jadi, yang dibutuhkan adalah sebuah dialog seluas-luasnya dan partisipatif. Dialog yang melibatkan semua pihak, semua suku, marga, semua lapisan sosial, laki-laki maupun perempuan, termasuk generasi baru yang disebut di atas.

Pak Jokowi, zaman sudah berubah, cara-cara lama sudah tak relevan. Saya setuju dengan kata-kata bapak: “kita harus mencari sebuah model baru, cara baru, nilai-nilai baru dalam mencari solusi.” (*)

Judul Asli: Cara-cara Lama, (*)

Disclaimer : Kanal opini adalah media warga. Setiap opini di kanal ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

Penulis: .....
Editor:Hugeng Widodo

Baca Juga