oleh

PAN Ungkap Upaya Media Diskreditkan Prabowo

Jakarta, Akuratnews.com – Wakil Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) Dradjad Wibowo mengungkapkan saat ini ada operasi media untuk mendiskreditkan calon presiden Prabowo Subianto.

Ia mengaku memperoleh informasi dari “intel” bahwa aktor intelektual operasi tersebut adalah seorang oknum wartawan senior yang kehidupan pribadinya sangat bebas.

“Yang terlibat adalah beberapa oknum wartawan senior dengan posisi tinggi di beberapa media. Medianya pun bukan media ecek-ecek,” ujar Dradjad dalam keterangan tertulisnya, Kamis (6/12/2018).

Ia menyebut modus operasinya adalah mencari-cari ucapan Prabowo yang bisa diplintir. Ucapan itu lalu digoreng secara masif berhari-hari ditambah bumbu meme dan pemviralan di media sosial.

“Mereka bahkan tidak segan memberitakan kebohongan,” tukasnya. Dradjad melanjutkan, selain Prabowo, target operasi yang lain adalah Amien Rais.

Tujuannya, membuat pemilih mengambang menjadi tidak bersimpati, bahkan antipati kepada Prabowo dan Amien. Dradjad mencontohkan seperti kasus berita tentang Prabowo berkata “tidak masalah” jika Australia memindahkan kedubesnya di Israel ke Yerusalem.

Ia menegaskan berita tersebut adalah hoaks karena Prabowo sebenarnya menjawab dua pertanyaan dalam bahasa Inggris. Pertanyaan pertama adalah tentang rencana Australia membangun pangkalan Angkatan Laut di Papua Nugini.

Pertanyaan kedua tentang Kedubes Australia di Israel. “Jawaban Prabowo “Tidak Masalah (No Problem)” itu untuk pertanyaan pertama. Soal Kedubes, Prabowo menjawab bahwa sebagai pendukung Palestina, kita punya sikap sendiri. Tapi Australia itu negara berdaulat, kita hormati kedaulatan dia,” tutur Dradjad.

Namun, ia menyayangkan berita yang muncul yakni Prabowo tidak masalah Kedubes Australia pindah ke Yerusalem. Hingga muncul meme dan posting yang menurutnya memfitnah Prabowo karena disebutkan mendukung zionis Israel.

“Lalu ada demo-demo mengecam Prabowo. Meski pesertanya sedikit, jauh di bawah reuni 212, berita tentang demo tersebut masif. Dua hari lalu pun masih ada demo di Surabaya yang diberitakan secara nasional,” ungkap Dradjad.

Mantan Ketua Dewan Informasi Strategis dan Kebijakan Badan Intelijen Negara (BIN) ini juga mengatakan Amien bahkan sering “dikerjai”. Contohnya saat wartawan bertanya Parpol apa yang tergolong partai setan dalam kuliah shubuh.

“Pak Amien menjawab, oh ini bukan tentang Parpol. Ini tentang arus pemikiran. Ucapan pak Amien itu ada dalam berita. Tapi judul dan gorengannya adalah tentang Parpol setan,” kesalnya.

Dradjad sendiri mengaku tidak mengadu ke Dewan Pers karena malas atas banyaknya berita bohong yang disebarkan. Senyapnya berita reuni 212, lanjut dia, menjadi konfirmasi yang membuka kedok tentang operasi media tersebut.

“Saya orang yang sangat mendukung kebebasan pers. Saya bahkan pasang badan menjadi tersangka pencemaran nama baik, demi membela sebuah media nasional yang sangat bergengsi. Kebetulan media tersebut salah kutip,” imbuhnya.

“Jadi saya sangat kecewa bahwa kebebasan pers sekarang dicemari oleh ulah oknum-oknum senior tersebut. Mudah-mudahan para jurnalis muda akan bisa membersihkan pencemaran lingkungan pers yang sangat parah ini. Lebih parah dari tercemarnya Laut Jawa di sekitar Jakarta,” tandas Dradjad. (Ysf)

Komentar

News Feed