Opini

Para Sontoloyo Politik dalam Pemikiran Seorang Boni Hargens

Untuk bangsa Indonesia yang sangat menyukai hal-hal berbau protokoler, gelar akademik selalu dijadikan jaminan kepakaran seseorang.

Rivalitas Akademis vs Non Akademis

Padahal, tak sedikit yang tak mengantongi ijazah akademik namun benar-benar pakar di bidang tertentu, Khoirul, montir yang tak tamat SD di Pinrang, Sulsel itu contohnya bisa buat pesawat jenis Starlight dari bahan seadanya.

Di sisi lain, banyak juga yang bergelar akademik mentereng namun tak bisa menunjukkan hasil yang sepadan. Anis Baswedan bisa saya contohkan di sini.

Sebagai doktor ilmu politik dari North Illionis University, Amerika, tak sepatutnya dia membolehkan kampanye politik berbau SARA pas pencagubannya kemarin. Sebab, politik itu identik dengan Policy, kebijakan. Orang bijak pasti sangat menghindari SARA. Nyatanya doktor politik kita satu ini malah mengerjakan sebaliknya.

Nah, kini Indonesia ketiban lagi doktor ilmu kebijakan dan tata kelola ruang publik. Dia tak lain dari Boni-Hargens Ph.D.

Apa yang Dipertahankan Boni sebagai Tesis Doktoralnya adalah Gambaran Nyata Perpolitikan Kita.

Beliau ini dari segi kecakapan memang sudah lama dikenal sebagai salah seorang pengamat politik di usianya yang masih tergolong muda. Dia bahkan mampu mengaplikasikan apa yang baru disahkan secara akademis kini, Ph.D dari salah satu universitas terbaik dunia. Tak tanggung2, diraihnya dengan 'summa cum laude' yang berarti nilainya sangat memuaskan, sangat sempurna.

Tesis yang dia pertanggungjawabkan demi raihan doktoralnya tersebut sebagaimana bisa diduga, tak jauh-jauh dari kepentingan publik, politik kekuasaan. Baginya, biang perusak 'bonum communae' adalah perkawinan tak sehat antara pengusaha dan penguasa yang terjelmakan dalam KARTEL OLIGARKIS.

Dalam praktek, oligarki partai membangun kartel politik demi menguasai sumber daya. Hasil penguasaan sumber daya selanjutnya dipakai buat melanggengkan hegemoni kekuasaan politik.

Apa yang diungkapkannya pada tesisnya tersebut saya rasa sangat aktual dengan kondisi kita di sini, di tanah air ini.

Lihat! Terutama pas era Orde Baru, rakyat kita lebih banyak dilibatkan sebagai obyek penyerta dalam melahirkan kebijakan yang memihak kepentingan bersama satu bangsa. Rakyat cenderung ditempatkan bukan lagi sebagai pemilik asli kekuasaan.

Kecenderungan ini masih kental terlihat hingga detik ini meski kini negeri ini dipimpin oleh seseorang yang amat dicintai rakyatnya. Ya, secara personal, Jokowi tetaplah pribadi berintegritas tinggi. Sangat berbeda dengan penguasa sebelumnya.

Namun, di luar ukuran secara pribadi ke tokoh2 tertentu macam Jokowi, sebetulnya politik kita masih mempraktekkan apa yang ditesiskan oleh Doktor Boni. Dan tidak terlalu sulit untuk memberikan contoh.

Di sisi lain, media yang seharusnya berperan sebagai sarana memperjuangkan hak-hak dan kepentingan bersama kini terjebak dalam semangat mendulang rupiah. Mirisnya, tepat di situasi demikian, pemilik media atau tepatnya yang menguasai media justru tak jauh-jauh dari lingkaran Kartel dan Oligarki Politik tadi.

Jadi, bagi saya pribadi, tesis Bro Boni tak ubahnya sebagai clue untuk menjawab persoalan mengapa keadilan sosial, keadilan hukum, keadilan politik, dll. tak kunjung tegak di republik ini. Semua karena republik lumpuh diserang kartel dan oligarki politik.

Satu dua pejabat publik saja yang terlihat masih mempertahankan integritas pribadi yang terpuji. Lainnya sudah banyak yang terbelit lingkaran setan tadi.

Maka, atas tesisnya terebut, secara pribadi, saya dengan penuh respek mendalam patut menggelari Bro Boni sebagai cendikiawan dengan pemikiran senantiasa aktual. Dialah yang merumuskan dengan tepat tentang orkestrasi politik para sontoloyo di Republik ini. Pertiwi patut berbangga memiliki pemikir muda nan cemerlang ini.

Penulis merupakan Jurnalis media nasional di Jakarta. Beliau juga salah seorang pendiri Komunitas Suara Profesional dan Relawan Tangguh Untuk Negeri (SPARTAN) Nusantara.

Disclaimer : Kanal opini adalah media warga. Setiap opini di kanal ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

Penulis: Aven Jaman

Baca Juga