Film Indonesia

Pariban Idola dari Tanah Jawa Kisahkan Seorang Pengusaha Kaya Berdarah Batak dan Sukses di Perantauan

Jakarta, Akuratnews.com - Pariban: Idola dari Tanah Jawa (2019) mengisahkan seorang pengusaha kaya berdarah Batak, Halomoan Brandon Sitorus atau biasa disapa Moan (Ganindra Bimo). Ia sukses di tanah rantau.

Tangan dingin dan kerja keras Moan, ditambah keahliannya dalam desain grafis, membuat perusahaannya berkembang pesat.

Menemui pariban

Meski kaya raya dan nyaris punya segalanya, Moan yang sudah berusia 35 tahun tak punya komitmen serius menjalin hubungan dengan perempuan untuk dijadikan istri.

Dengan usianya yang sudah sangat matang, ibu Moan yang biasa dipanggil Mamak (Mak Gondut/Lina Marpaung) khawatir anak kesayanganya tak dapat jodoh.

Suatu hari, Moan diminta Mamaknya untuk pulang kampung ke Samosir, Sumatera Utara, bertemu dengan Uli Silalahi (Atiqa Hasiholan). Uli merupakan pariban Moan.

Pariban artinya sepupu yang dalam hukum adat bisa dijodohkan. Sebelum bertemu Uli, Moan bersikukuh menolak tradisi perjodohan yang dianut masyarakat Batak. Penolakan ini akibat pengaruh dari pergaulannya dengan masyarakat kota yang majemuk. Kehidupan kota membuat Moan lepas dari akar tradisi.

Menurut Moan, perjodohan juga sudah tak tepat diterapkan dalam kebidupan yang semakin modern.

Singkat cerita, Moan terbang ke Samosir, dan terpikat dengan wajah cantik paribannya, Uli. Prinsipnya menentang tradisi pariban pun luluh. Sebelumnya, Moan pun menyangka paribannya sebagai orang kampung yang identik dengan keterbelakangan.

Anggapan itu pun seketika terbantahkan. Uli merupakan lulusan sebuah perguruan tinggi di Kota Medan. Uli juga tengah mengenyam pendidikan magister di Kuala Lumpur, Malaysia.

Kedatangan Moan ke Samosir membuat misi Binsar (Rizky Mocil) untuk meminang Uli terhalang. Terjadilah persaingan untuk merebut hati Uli.

Akhir kisah film dibuat mengambang. Uli, Mamak, dan Bapaknya berkunjung ke rumah Moan di Jakarta. Ketika Moan masih menaruh harapan kepada paribannya, Uli tiba-tiba melontarkan kalimat yang tak diduga-duga.

"Kami ini, biasalah adat Batak. Ke sini mau ngasih kabar. Bang Binsar itu mau ngelamar aku tiga bulan lagi," kata Uli.

Film ditutup dengan adegan Mamak Moan yang tergeletak di sofa, usai menguping pembicaraan Moan dan Uli.

Memperkenalkan tradisi

Pariban: Idola dari Tanah Jawa bergenre komedi romantis. Bagi sutradaranya, Andibachtiar Yusuf, film bergenre komedi romantis adalah yang perdana. Ucup, sapaan akrab Andibachtiar Yusuf, pernah sukses menggarap film Romeo Juliet (2009), Hari ini Pasti Menang (2013), dan Love For Sale (2018). Film ini pun menjadi film debutan bagi rumah produksi Stayco Media.

Naskah film sendiri dibuat keroyokan oleh Agustinus Sitorus, Ridho Brado, dan Andibachtiar Yusuf. Fokus utamanya menangkat budaya Batak, yakni pariban. Misinya terbaca, film ini ingin mengenalkan kembali kepada anak muda tradisi pariban, terutama para perantau dari Sumatera Utara.

Film ini mengeksplor keindahan panorama Samosir dan Danau Toba. Kemudian, ada simbol-simbol yang diangkat untuk mendekatkan penonton dengan budaya Batak. Semisal permainan catur dan bermain gitar, yang identik dengan masyarakat Batak.

Lagu latar film ini pun mengikutkan penyanyi asal Sumatera Utara, yakni Siantar Rap Foundation dan Dorman Manik. Siantar Rap Foundation merupakan grup musik rap asal Kota Pematangsiantar. Sementara Dorman adalah penyanyi solo yang tengah naik daun.

Yang menarik, film ini memperkenalkan sejarah pariban dengan sentuhan grafis. Membuat penjelasan soal pariban jadi bisa ditangkap dengan baik oleh penonton.

Peran Rizky Mocil sebagai Binsar di film ini juga menarik dicermati. Sang sutradara memoles karakter yang berbeda dengan peran-peran Rizky yang kocak dalam banyak dilihat di film-film horor erotis. Justru di film bergenre komedi, Rizky dipoles agak serius, tetapi minim kelucuan.

Sebuah hal berbeda bila kita melihat Gading Marten sebagai Richard dalam film Love for Sale. Gading mengawali debutnya sebagai pemeran utama di film itu, dan berhasil memainkan karakter pria jomlo yang kocak. Pada 2018, Gading terpilih meraih penghargaan Aktor Pilihan Tempo dalam Festival Film Tempo berkat aktingnya.

Sayangnya, meski bergenre komedi, namun masih minim membuat penonton tergelak. Dialog antara Moan dan Uli lebih banyak diisi dialog gombal, ketimbang aksi lucu yang mengundang tawa. Untungnya, masih tertolong dengan dialek Batak yang khas.

Film ini juga kurang berhasil mengeksplor akting Atiqah Hasiholan. Anak Ratna Sarumpaet ini hanya terlihat sibuk ke sana ke mari, dan menjadi pelengkap perjalanan Moan yang mencintai paribannya itu.

Yang banyak diangkat malah persaingan antara Moan dan Binsar, yang membuat film berdurasi satu jam 41 menit ini menjadi terasa panjang dan bertele-tele.

Penulis: Redaksi

Baca Juga