Pelaku Pasar Pilih Tunggu Hasil Pertemuan Federal Reserve

Bursa saham AS di Wall Street.
Bursa saham AS di Wall Street.

Jakarta, Akuratnews.com - Bursa saham AS ditutup sebagian besar turun, dimana Indek Dow Jones menghentikan kenaikan beruntun empat harinya. Para pialang berusaha mencoba memahami sepasang laporan yang saling bertentangan terkait pembicaraan perdagangan AS-China. Pasar juga memilih untuk menunggu dan melihat hasil pertemuan Federal Reserve yang akan berakhir hari ini.



Indek Dow Jones turun bersama dengan Indek S&P 500 sementara Indek Nasdaq mampu naik. Sementara dalam perdagangan di bursa saham Asia, Indek Nikkei Jepang turun disaat indek Hang Seng Hong Kong naik.

Indikator ekonomi AS menunjukkan
bahwa pesanan baru untuk barang-barang buatan Amerika naik 0,1% pada bulan Januari,
sebagaimana dilaporkan oleh Departemen Perdagangan. Pertumbuhan itu di bawah perkiraan
yang berharap ada kenaikan sebesar 0,4%. Para investor nampaknya mengabaikan berita
ini menyusul hilangnya momentum pasar setelah berita terkait perundingan perdagangan
AS – China lebih dominan. Laporan Bloomberg News bahwa China mendorong kembali
terhadap tuntutan AS untuk konsesi dalam pembicaraan perdagangan bilateral
mengurangi sentimen pasar dengan indeks utama keluar dari tertinggi intraday.
Para pejabat Tiongkok dilaporkan mengindikasikan bahwa AS belum membuat jaminan
yang cukup bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump akan menaikkan tarif
barang-barang Tiongkok sebagai imbalan atas Beijing menyetujui perubahan dalam
peraturan kekayaan intelektual mereka.

The Wall Street Journal melaporkan
bahwa kedua negara sedang dalam tahap akhir negosiasi dimana perwakilan AS
Robert Lighthizer dan Menteri Keuangan Steven Mnuchin dijadwalkan terbang ke
Beijing minggu depan. Dengan sinyal yang saling bertentangan dari kedua belah
pihak, AS dan China, dapat dimengerti kegelisahan investor. Pasar saham telah rally
dari posisi terendah Desember dengan perkembangan positif pada perundingan AS –
China ini, disaat The Fed ditahan menahan diri untuk menaikkan suku bunganya. Jika
ada sesuatu yang berubah dari sisi tersebut, akan membuat pasar lebih volatile hingga
minggu depan. Lingkungan perdagangan dianggap cukup stabil, dimana sebagian
besar pelaku pasar berharap terjadinya kesepakatan AS – China.

Pada perdagangan mata uang, Dolar
AS melemah tipis. Tercatat sebagai penurunan ketujuh dalam delapan sesi
perdagangan terkini. Dolar di bawah tekanan menjelang akhir pertemuan FOMC.
Pasar berharap The Fed dalam mempertahankan kebijakan lunaknya terkait rencana
menaikkan suku bunga. Hal ini menjadi sentiment negatif bagi Dolar AS. Indeks
Dolar AS turun 0,2% pada 96,368.

Poundsterling Inggris dalam
perdagangan GBPUSD, mengoreksi kembali beberapa kerugian sebelumnya, dengan
naik ke $ 1,3270, dari $ 1,3252. Kenaikan ditopang oleh data ekonomi yang lebih
baik dari perkiraan. Sebagaimana dilaporkan bahwa tingkat pengangguran Inggris
mengalami penurunan menjadi 3,9%, dan penghasilan rata-rata bulanan tetap
stabil. Ditengah kekacauan Brexit, Inggris membuktikan kondisi ekonomi mereka
mampu berjalan baik. Sementara itu, Perdana Menteri Theresa May diperkirakan
akan meminta Uni Eropa untuk perpanjangan tenggat waktu Brexit yang semula 29
Maret ini  Pada hari Senin, pembicara
dari British House of Commons mengatakan pemerintah May tidak dapat mengusulkan
pemungutan suara pada kesepakatan Brexit yang sama persis yang pernah ditolak
oleh anggota parlemen pekan lalu.

Euro dalam perdagangan EURUSD, juga
sedikit lebih kuat, membeli $ 1,1357, dibandingkan $ 1,1341 pada akhir Senin.
Dorongan kenaikan secara domestik berasal dari Indeks sentimen ekonomi ZEW Jerman
untuk bulan Maret yang negatif, tetapi lebih kuat dari yang diharapkan,
sementara indikator situasi saat ini menggarisbawahi harapan.

Hasil pertemuan Reserve Bank of Australia mengkonfirmasi komitmennya terhadap sikap kebijakan netral, yang meredam kekhawatiran akan adanya pelonggaran moneter yang akan datang untuk saat ini. Dolar Australia terakhir diambil $ 0,7094, sedikit turun dari $ 0,7105. Ketegangan perdagangan AS – China terbukti masih menjadi sumber ketidak pastian pasar.

Memang penundaan pengenaan tariff baru pada 1 Maret oleh AS memberikan keyakinan bahwa perang akan mereda. Namun demikian, tarif yang diterapkan sejak 2018 masih membebani perdagangan AS-China. Bagi Australia, mereka mendapatkan efek limpahan mengingat China merupakan mitra penting dalam hubungan ekonomi mereka. Gangguan pada ekonomi China akan berimbas kepada Australia.

Harga emas berakhir naik di atas $ 1.300 per troy ons untuk ketiga kalinya secara berturut-turut. Para pialang melihat hasil pertemuan The Fed sebagaimana yang diharapkan mereka akan mempertahankan sikap dovish. Pernyataan dari Komisi Pasar Terbuka Federal yang akan keluar hari ini akan diawasi secara ketat. Sinyalemen  dari interpretasi inflasi yang lebih lambat dan jumlah pekerjaan baru-baru ini bisa menjadi indikasi dari perlambatan ekonomi AS lebih lanjut. Dengan pernyataan yang lebih dovish, guna memperkuat kebijakan moneter hingga paruh kedua 2019 ini, emas memiliki peluang untuk menguat yang lebih besar. Seminggu terakhir, terlihat upaya kenaikan harga logam mulia ini. (HQM)

Penulis:

Baca Juga