Pembangunan SDM Jadi Titik Penting Revolusi 4.0

Jakarta, Akuratnews.com - Diskusi Media Forum Merdeka Barat (FMB) 9 yang diprakarsai oleh Kemenkominfo kini digelar di Bina Graha, komplek Istana Merdeka, Jakarta.

Pada diskusi hari kedua ini menampilkan para narasumber dari Kemensos yang diwakili oleh Staf Ahli Mensos Bidang Aksebilitas Mardjuki, Kemenpora diwakili oleh Deputi IV Kemenpora Chandra Bhakti KemenPAN, Deputi Bidang Koordinasi Budaya, Kemenko PMK diwakili oleh Nyoman Shuida dan dari Kemendikbud diwakili oleh Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid, serta Sekjen Kemenkominfo Rosarita Niken Widiastuti, dan dimoderatori oleh Yanuar.

Dalam pemaparan awal Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid menjelaskan bahwa awal revolusi industri telah terjadi di Perancis pada abad 17.

Saat ini, tahun 2019, revolusi industri memasuki 4.0 dengan basis teknologi digital. Percepatannya terjadi di seluruh negara di dunia. Tak terkecuali bagi Indonesia.

Namun, sejauh mana Indonesia mampu mengikuti percepatan revolusi industri 4.0 yang mampu merambah hampir di seluruh sendi kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara?

"Saat ini yang harus dilakukan adalah bagaimana Indonesia bisa membalikkan keadaan dengan fokus meningkatkan pembangunan sumber daya manusia (SDM) sehingga bisa menjadi syarat dasar Indonesia untuk bisa memimpin di kancah global," jelas Hilmar saat diskusi FMB 9 di Ruang Rapat Utama, Kantor Staf Presiden (KSP), Gedung Bina Graha, Jakarta, Kamis (14/3).

Selanjutnya Hilmar Farid menambahkan, revolusi karakter menjadi jantung dari Gerakan Nasional Revolusi Mental. Untuk itu, harus terus ditumbuhkembangkan di tengah masyarakat.

Gerakan revolusi mental merupakan gerakan yang fenomenal. Dalam kehidupan sehari-hari telah banyak terjadi perubahan. Salah satu contohnya yang terjadi di comnuter line (kereta api jabodetabek) di mana saat ini sudah dinilai lebih baik dari sebelumnya," jelas Hilmar lebih lanjut.

Terkait dengan itu Hilmar juga menjelaskan bahwa pembangunan infrastruktur jangan hanya dilihat dari bentuk fisiknya saja, melainkan dilihat juga dari side effect-nya dari sisi kebudayaan.

Di sisi lain Hilmar menjelaskan pula pentingnya penguatan pada pendidikan karakter. Pola yang dilakukan sebisa mungkin melalui hal-hal yang praktis. Misalnya, peserta didik diarahkan untuk bergotong royong melakukan bersih-bersih sekolahnya.

"Di Jepang, tidak ada OB (Office Boy) karena semua pekerjaan bisa dilakukan dan menjadi tanggung jawab masing-masing. Sementara persepsi di Indonesia masih berbeda, segala sesuatu harus dibantu oleh orang lain," pungkas Hilmar. (Irish)

Penulis:

Baca Juga