Pemda Matim Harus Belajar dari Catatan Buruk Aktivitas Tambang Mangan di Serise

Praktisi Politik dan Ekonom, Nurcholis, S.E
Praktisi Politik dan Ekonom, Nurcholis, S.E

Akuratnews.com - Meski masih pada tahap wacana, namun tampaknya rencana masuknya industri semen di Luwuk Desa Satar Punda Kecamatan Lamba Leda Kabupaten Manggarai Timur (MATIM) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), akan menjadi salah satu agenda strategis Pemkab Matim kedepan. Diketahui, rencana berdirinya pabrik semen tersebut merupakan hasil upaya sinergis antar Pemda Matim dengan Pemprop NTT.

Belum lama ini, Bupati Matim Andreas Agas melakukan kunjungan kerja ke Luwuk Desa Satar Punda, Kecamatan Lamba Leda dalam rangkaian agenda sosialisasi berdirinya pabrik semen kepada masyarakat. Kunjungan Bupati Matim itu disambut baik okeh masyarakat kampung Luwuk. Jika wacana tersebut benar terwujud maka ini merupakan industri padat karya pertama yang beroperasi di wilayah kabupaten Manggarai Timur.

Seperti wacana berdirinya tambang di beberapa titik di Matim lainya, recnana berdirinya tambang dan pabrik semen di Luwuk itu menuai bermacam tanggapan dari masyarakat. Dalam beberapa kesempatan, ruang media sosia ramai dengan silang pendapat antar kelompok pro investasi dan kontra investasi pabrik semen dimaksud. Bahkan perdebatan di ruang konvensional pun sudah dimulai sejak Bupati Manggarai Timur Agas Andreas menyampaikan wacana tersebut.

Selain itu tumpang tindih kewenangan perizininan, pengawasan dan pengendalian investasi pertambangan antara Pemda, Pemprov dan Pemerintah Pusat merupakan suatu persoalan dan bisa menghambat proses berdirinya pabrik semen itu.

Ketidakjelasan kewenangan itu pada akhirnya akan berdampak pada rasa ketidakpuasan, penolakan dan bahkan gugatan masyarakat. Tambah lagi jika dalam prosesnya menghadapi kemungkinan timbulnya konflik sosial akibat adanya arus pro dan kontra di masyarakat.

Indikasi penolakan beberapa pihak yang mengklaim diri sebagai masyarakat adat setempat mulai nampak dalam beberapa diskusi media sosial lokal. Adanya arus kecil penolakan ini mesti dipandang sebagai hal yang wajar. Tidak ada satu program kebijakan pemerintah pun yang tidak menuai kontra, apalagi terkait eksplorasi alam.

Oleh karena itu, diharapkan agar Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Timur sedini mungkin melakukan kalkulasi untuk dan rugi akibat berdirinya pabrik tersebut. Pemda untuk segera melakukan analisa kekuatan dan kelemahan dari sisi regulasinya. Selain itu, pemerintah perlu pertimbangkan ancaman dan peluang apa yang bisa didapat oleh masyarakat jika pabrik itu berdiri.

Dari sisih regulasi, Pemda harus mampu terjemahkan aturan, tujuan dan manfaat dari investasi ini kepada masyarakat adat setempat dan sekitar kawasan industri sebelum investor memulai mengurus semua hal-hal perizinan operasional.

Jangan sampai setelah investor berproses jauh dalam pengurusan perizinan dan atau membangun pabrik, kemudian dihadapkan berbagai ikhwal teknis dengan masyarakat adat yang berujung konflik, penolakan dan gugatan hukum. Hal itu selain akan merugikan investor, juga menjadi preseden buruk dalam kepentingan memperkuat magnet investasi bagi daerah.

Kasus pertambangan dibeberapa daerah sering terjadi antar investor dengan masyarakat lingkar tambang. Selain itu, Konflik bahkan terjadi antar pemerintah dengan investor terkait masalah perizinan tambang, kewenangan pengendalian, pengawasan dan hak bagi hasil antar pemerintah daerah dan pemerintah pusat.

Investor sering beranggapan bahwa mereka telah melakukan kewajibannya kepada pemerintah pusat sebagai otoritas kekuasaan tertinggi. Padahal dalam perspektif teori hukum seharusnya dalam kegiatan pengelolaan pertambangan pemerintah daerah harus difungsikan sebagai provider/penjamin baik kepada pihak pengelola tambang maupun kepada masyarakat daerah sebagai pemilik sumber daya.

Untuk itu, terhadap rencana investasi perusahaan semen di Satar Punda nantinya Pemerintah Daerah harus benar-benar mampu memastikan berbagai aspek terkait pengendalian, pengawasan dan bagi hasil agar tidak cenderung menguntungkan pihak investor dan pemerintah pusat.

Spesifik mengenai rencana investasi pabrik semen di Satar Punda sejauh ini perdebatannya dominan pada masalah ekologis yang akan ditimbulkan. Bukan tidak beralasan, memang dibanyak pengalaman aktivitas tambang melahirkan prevalensi alam yang cukup kritis, tidak terkecuali pengalaman tambang Mangan di Serise, Kecamatan Lamba Leda, Manggarai Timur beberapa tahun lalu yang telah mewariskan kerusakan alam dan tidak terselesaikan hingga saat ini.

Lubang besar diperut bumi Serise akibat eksplorasi Mangan itu tidak diikuti dengan aksi konservasi, reparasi/rekondisi alam yang semestinya oleh pihak pengelola. Belum lagi dampak longsor dan kekeringan yang dialami warga sekitar kawasan itu. Maka isu kerusakan lingkungan, pencemaran udara dan air, ancaman ISPA, habitat satwa yang menyempit bahkan potensi keringnya sumber mata air di kawasan eksplorasi adalah sejumlah konsekuensi teknis yang memang dibenarkan secara empiris.

Dari catatan buruk aktivitas tambang Mangan di Serise itu tentunya harus jadi kajian retrospektif (retrospektive study) bagi Pemda Manggarai Timur untuk kemudian menjadi alarm bagi pemerinta dan calon investor tambang kedepan. Evaluasi teknis harus dilakukan secara sistematis dan komprehensif sehingga langkah antisipasi dan upaya rekondisi dari dampak kerusakan alam selama dan setelah aktivitas eksplorasi benar-benar bisa dilakukan dan diminimalisir sekecil-kecilnya.

Beberapa langkah konkrit yang bisa dilakukan, Pemda dan Pemprop NTT secara serius mengaktivasi Perda Pengelolaan Sumber Daya Alam yang berbasis lingkungan, menerapkan sanksi berat bagi korporasi yang menyalahi prosedur dan mengangkangi Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) serta bersama "civil society" melakukan pengawasan ekstra ketat jika kegiatan operasional industri pabrik semen ini nantinya sudah berjalan.

Bahkan jika perlu, bentuk "satgas pengawasan terpadu" yang terdiri dari perwakilan masyarakat lingkar tambang dan membangun pos khusus satgas pengawasan di area industri.

Artikel ini tidak untuk mendiagnosis secara klinis bagaimana eksplorasi perusahaan semen di Luwuk nanti berproses sampai kemudian merusak landform ekologi. Itu ada ahlinya sendiri. Lagipula pabrik perusahaan semen yang diperdebatkan publik saat ini baru pada tahap perencanaan.

Kita dan mungkin Pemda Matim sendiri belum tau model tekhnologi produksi seperti apa yang akan digunakan nantinya, berapa nilai aset dan investasinya, seberapa luas areal yang dimanfaatkan, dan seterusnya. Pendeknya, semakin besar nilai investasi, semakin mutakhir sistem dan tekhnologi yang digunakan, semakin ketat pengawasannya, semakin tegas sanksi atas pelanggaran korporasi, semakin tertib birokrasinya, maka potensi kerugian ekosistem semakin dapat diperkecil.

Dengan demikian, investasi di bidang ekstraksi yang akan masuk di daerah tidak semestinya buru-buru dianggap momok dan ditolak hanya dengan menyodorkan hipotesis yang buruk-buruk saja. Tidak ada satupun industri yang tidak berdampak pada lingkungan dan lingkungan tidak boleh diposisikan sebagai penghambat pembangunan. Harus kembali pada amanat konstitusi sebagai kitab suci kita bernegara dimana; "bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dipergunakan untuk sebesar-sebesarnya kemakmuran rakyat" (pasal 3 UUD 1945).

Pasal diatas secara tegas menekankan pada tujuan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat, yang kemudian diatur lebih lanjut pada UU No.4/2009 pasal 2 dimana kegiatan eksplorasi Minerba harus mempertimbangkan asas manfaat, efisensi, keadilan, keseimbangan, keberpihakan pada kepentingan bangsa, partisipatif, transparansi, akuntabilitas, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

Sedangkan pasal 18 UU diatas kembali menegaskan prinsip pengelolaan pertambangan negara harus memberikan manfaat ekonomi sebesar-besarnya dan seadil-adilnya bagi rakyat, terkhusus bagi masyarakat adat di lingkar tamabang. Guna terealisasinya bagi hasil dan atau royalti pertambangan yang adil itu maka prinsip "prior informed concent" harus diberlakukan.

Artinya, perusahaan harus memberi informasi selengkap-lengkapnya baik tentang perusahaannya maupun rencana usaha pertambangan kepada masayarakat adat setempat untuk mendapatkan persetujuan. Maka sejauh korporasi tambang mampu memenuhi dan menjalankan prinsip-prinsip diatas, selayaknya pintu gerbang investasi harus dibuka dan disambut baik oleh masyarakat daerah.

Pada penjelasan terpisah dari artikel ini, saya pernah mengulas sejumlah manfaat dan catatan jika nantinya industri semen ini benar-benar bisa beroperasi di Luwuk, Desa Satar Punda, Kec. Lamba Leda, Kab. Manggarai Timur. Bahwa kehadiran perusahaan semen ini akan menyerap banyak tenaga kerja sejak awal dimulainya pembangunan pabrik, lebih-lebih ketika pabrik sudah mulai menjalankan aktivitas produksi. Usaha mikro kecil menengah (UKM) disekitar kawasan industri juga akan ikut tumbuh seperti usaha dagang, usaha kuliner sampai usaha penginapan.

Industri ini juga sudah pasti turut menggerakkan sektor jasa angkutan baik darat dan laut untuk kebutuhan distribusi hasil produksi ke berbagai wilayah. Maka tidak ada alasan bagi Pemda untuk tidak segera meningkatkan kualitas jalan lintas desa dan kecamatan di Matim yang berstatus jalan kabupaten.

Masih inline dengan kepentingan itu, Pemda Matim juga harus segera berkordinasi dengan Kemenhub agar pelabuhan niaga yang ada di Nanga Baras, Kec. Sambi Rampas bisa dioperasionalkan secepatnya, sebab ini semua bagian integral dari daya dukung keberlangsungan ekonomi dan industri di daerah.

Selain gambaran social profit diatas, sudah pasti penerimaan daerah dari pajak, bagi hasil, royalti pengelolaan dan pengolahan perusahaan semen ini juga akan terkatrol. Sistem bagi hasil (sharing profit) pertambangan ini diatur dalam pasal 14 UU No. 33 tahun 2004. Apalagi jika daerah bisa mengambil peluang divestasi (penyertaan modal) sebagaimana dimungkinkan oleh UU No. 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal (UUPM).

Kita tahu bagaimana kapasitas fiskal Kabupaten Manggarai Timur yang cukup terbatas, postur PAD nya masih terbilang kurus akibat minimnya sumber penerimaan. Bisa dipastikan tanpa dukungan dana transfer pusat yang mengisis postur APBD Kabupaten Manggarai Timur selama ini, daerah ini tidak mungkin bisa berbuat apa-apa.

Untuk itu Pemda Matim harus lebih kreatif dan proaktif agar produktifitas ekonomi daerah terus berpacu menuju kemandirian. Salah satunya dengan upaya menghadirkan sebanyak-banyaknya investasi khususnya yang berbasis padat karya di daerah sesuai dengan potensi SDA yang terkandung di dalam dan dipermukaan bumi Matim ini.

Namun begitu, menghadirkan investor di daerah bukan perkara yang bisa dianggap sederhana. Apalagi jika kita tidak punya daya tarik, daya dukung dan daya saing investasi yang cukup meyakinkan (variabel-variabel ini akan saya ulas pada artikel selanjutnya). Sebab, investasi bukan hanya soal jaminan perizinan, jaminan insentif, jaminan kelimpahan sumberdaya alam, tapi lebih pada keyakinan investor untuk bisa tumbuh kompetetif, apalagi di daerah yang masih jauh tertinggal. Maka, rencana masuknya investment semen ini sesungguhnya harus dimaknai sebagai momentum yang baik, yang bisa membuka jalan dan menstimulir gairah investor lainnya untuk datang berinvestasi di Matim.

Pembangunan dan investasi itu senyawa dalam kemajuan. Pembangunan sebagai jasadnya, investasi sebagai nafasnya. Semakin banyak investor yang masuk di satu daerah, akan semakin memperkuat fundamental dan daya saing perekonomian daerah tersebut. Tidak ada daerah yang maju tanpa kemajuan investasi. Disisi yang sama, manfaat sosial enterprise dari dana Corporate Social Responsibility (CSR) juga akan dirasakan oleh masyarakat di daerah, bisa dalam bentuk program revitalisasi kawasan terdampak, pembangunan sanpras umum, rumah ibadah, beasiswa pendidikan dan lain sebagainya.

Disclaimer : Kanal opini adalah media warga. Setiap opini di kanal ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

Baca Juga