Pemerintah Harus Tegas Jaga Generasi Penerus dalam Pengendalian Tembakau Melalui Revisi PP 109/2012

Webinar bertajuk “Masihkah Pemerintah Berkomitmen Menurunkan Prevalensi Perokok Anak Sesuai Mandat RPJMN 2020-2024” yang diselenggarakan Lentera Anak, Kamis (28/7).

AKURATNEWS – Harapan terbesar saat ini dalam rangka menjaga generasi penerus dalam paparan zat adiktif melalui pengendalian tembakau, adalah revisi PP 109/2012. Banyak kalangan yang mendesak terhadap pentingnya regulasi pengendalian tembakau, khususnya untuk menurunkan prevalensi perokok anak usia 10-18 tahun menjadi 8,7 persen pada 2024. Urgensi ini dibahas dalam Webinar bertajuk “Masihkah Pemerintah Berkomitmen Menurunkan Prevalensi Perokok Anak Sesuai Mandat RPJMN 2020-2024” yang diselenggarakan Lentera Anak,  Kamis (28/7).

Tanpa kebijakan pengendalian tembakau yang kuat dan tegas mustahil target penurunan prevalensi perokok anak dapat tercapai. Apalagi hanya tersisa waktu kurang lebih dua tahun bagi Pemerintah untuk mengoptimalkan realisasi pencapaian target tersebut. Sementara angka prevalensi perokok anak usia 10-18 terus meningkat dari tahun ke tahun, dan berada di angka 9,1 persen pada 2018 (data Riskesdas).

Meskipun Indonesia sudah memiliki PP No 109/2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan, namun regulasi tersebut masih sangat lemah dan belum optimal mencegah dan melindungi anak dan remaja untuk menjadi perokok pemula. Buktinya iklan, promosi dan sponsor rokok masih sangat masif, penjualan rokok batangan masih ada, dan belum ada aturan rokok elektronik.

Karena itu  proses penyelesaian revisi PP 109/2012 sangat mendesak karena merupakan mandat Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 untuk mencapai penurunan prevalensi perokok anak menjadi 8,7% pada 2024.

drg. Agus Suprapto, M.Kes, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan Kemenko PMK, menyatakan keprihatinannya atas hasil survei global penggunaan tembakau pada usia dewasa (Global Adult Tobacco Survey – GATS) 2021 yang menemukan peningkatan signifikan jumlah perokok dewasa dalam kurun 10 tahun terakhir, yaitu dari 60,3 juta (2011) menjadi 69,1 juta perokok (2021).

“Sudah ada 70 juta perokok bagaimana komitmen kita? Apakah kita akan menjadikan jumlahnya menjadi 100 juta? Jangan sampai ini menjadi bom waktu bagi anak-anak kita. Harus ada komitmen untuk menekan jumlah perokok jika tidak ingin bom waktu meledak,” tegas Agus.

Ia juga mengkhawatirkan prevalensi konsumsi rokok elektronik yang naik 10 kali lipat dari 0,3% (2011) menjadi 30% (2021), dan sangat berharap Revisi PP 109/2012 juga akan mengatur tentang rokok elektronik.

Ketua Tim Kerja Penyakit Paru Kronis dan Gangguan Imunologi, Kemenkes RI, dr Benget Saragih, M. Epid, menegaskan bahwa revisi PP 109/2012 adalah target RPJMN 2020-2024. Sesuai amanat RPJMN, target penurunan perokok usia anak dan remaja merupakan target nasional sehingga upaya mencegah anak dan remaja menjadi perokok pemula harus menjadi prioritas semua pihak.

“Karena itu ada 5 substansi yang diatur dalam revisi PP 109/2012 yakni, pengaturan rokok elektronik, pelarangan iklan rokok, larangan penjualan batangan, perbesaran peringatan Kesehatan bergambar (PHW) dan pengawasan yang ketat,” jelas Benget.

Drs. Anthonius Malau, M.Si, Direktur Pengendalian Aplikasi Informatika, Kominfo RI, menegaskan pentingnya pelarangan total iklan rokok di internet juga dimasukkan dalam revisi PP 109/2012. “Kami sangat berharap adanya pelarangan total iklan rokok di internet, karena kondisi sudah sangat mengkhawatirkan, pelaku usaha menggunakan berbagai sarana di internet untuk mempromosikan dan menjual produk rokok, sehingga anak-anak terpapar iklan rokok yang luar biasa di internet, dan mudahnya penjualan rokok elekronik secara daring,” kata Anthonius.

Harapan Anthonius sejalan dengan harapan Oktavian Denta, Departemen Penelitian dan Pengembangan IYCTC, dan Ulfa, keduanya mewakili narasumber anak muda dalam Webinar Hari Anak Nasional 2022 ini, yang sangat mengkhawatirkan masifnya iklan rokok elektronik di internet. Menurut Denta, rokok konvensional juga memiliki kandungan seperti nikotin dan formalin yang berdampak buruk bagi Kesehatan.

Selain itu, hasil investigasi yang dilakukan IYCTC juga menemukan betapa mudahnya anak mengakses rokok elektronik melalui toko daring (market place), dan betapa mengkhawatirkannya narasi menyesatkan yang sudah mempengaruhi anak muda bahwa merokok elektronik lebih terlihat keren dan gaul. Bahkan Ulfa, yang memiliki adik masih duduk di bangku Sekolah Dasar, sudah bisa membeli sendiri rokok elektronik melalui market place.

Sementara itu, Purwandoko, Analis Perdagangan Ahli Madya, Direktorat Barang Kebutuhan  Pokok dan Barang Penting, Ditjen Perdagangan Dalam Negeri, Kemendag RI, sangat berharap adanya pengaturan penjualan rokok yang lebih spesifik dan memperjelas kewenanagan masing-masing Kementerian dan Lembaga dalam revisi PP 109/2012.

Selanjutnya 1 2
Penulis:

Baca Juga