Panggung Terbuka Rumah Perjuangan Rakyat

Pemilu Paling Jelek, Pemilunya Betul-Betul Curang! Kata Rizal

Ekonom Rizal Ramli di rumah perjuangan rakyat. (Foto Atta Ahyar/Akurtnews.com)

Jakarta, Akuratnews.com - Ekonom Rizal Ramli bersuara keras menanggapi dugaan pemilu curang yang masif, tersistem dan terstruktur di panggung Terbuka yang digelar Rumah Perjuangan Rakyat jalan Proklamasi no.36 Jakarta Pusat, tadi malam, Jumat (10/5/2019). Mantan Menteri Ekuin itu heran kenapa bisa pemilu 2019 ini balik lagi ke posisi nol alias berlangsung tidak demokratis.

"Kok bisa hari ini kita balik lagi ke nol gitu, kok bisa kita kembali udah bukan kaya negara demokratis, pemilunya curang, tokoh-tokoh ngomong sedikit langsung ditangkap, kok bisa sejarah indonesia mundur lagi," Kata Rizal di atas panggung terbuka.

Menurut dia, pemilu 2019 merupakan pemilu paling jelek dalam sejarah RI. Rizal mengkisahkan era pemilu tahun 1955, pemilu yang dinilai sederhana karena KPU nya sederhana dan rakyatnya juga sederhana. Setelah itu orde baru, meski banyak intervensi namun masih dapat dikatakan demokratis. Demikian juga dengan pemilu di era Habibie yang untuk pertama kalinya memilih presiden.

Rizal juga membandingkan dengan era Megawati, menurut dia, Megawati saat itu sebagai petahana tidak menggunakan tentara, tidak menggunakan ABRI (sebelum dikembalikan menjadi TNI), tidak menggunakan polisi, tidak menggunakan BUMN, saat itu Megawati kalah.

"Tahun 2009 mulai (adanya) permainan uang, uang Century, mulai permainan macem-macem, dan hari ini titik terendah dalam sejarah demokrasi di Indonesia. Pemilunya betul-betul curang," Tegas Rizal.

Dimana kecurangannya, Rizal menjelaskan, pada saat sebelum pencoblosan, saat pencoblosan dan setelah pemilu dilaksanakan, banyak kecurangan. Misalnya contoh, ada protes DPT 16 setengah juta lantaran (banyak nama) yang tidak benar, tanggal lahirnya sama, orangnya sama, kotanya sama, dan banyak yang lain.

"Kalau KPU, adil, profesional, pasti dia sisir, mana yang nggak bener. Dari 16 setengah juta, dua juta, tiga juta? kitakan terima kasih KPU-nya profesional, tapi mereka (KPU) tidak lakukan apapun, untuk mengkoreksi daftar (DPT) nya, demikian juga dengan kecurangan," Terang dia.

Rizal menuturkan, lima tahun lalu, bangsa Indonesia masih jarang yang memiliki smartphone, sementara saat ini, rakyat Indonesia punya smartphone di desa-desa.

"Dia foto tuh formulir C-1, kalau (Smartphone) dia canggih dia cek di KPU angkanya benar apa nggak, kalau nggak, dia kasih ke temennya, (lalu) dia cek di KPU angkanya, nggak beres. (jadi) kalau KPU-nya profesional, KPU-nya jujur, begitu dapat laporan data yang tidak sesuai, dia koreksi, setiap 6 jam dia koreksi, nih ada laporan KPU nggak bener, langsung dikoreksi. (Tapi) sama sekali itu tidak dilakukan," Kata Rizal.

"Banyak angka-angka yang jumlahnya aja ngawur, saya jadi bingung, KPU-nya tambah-tambahan aja nggak bisa. Bener nggak?" Kata Rizal kepada ratusan aktifis Rumah Perjuangan Rakyat, yang dijawab serentak, "Betul" dengan riuh.

"Tambah-tambahan masa kalah sama anak SD, KPU-nya perlu dikoreksi, mau jadi apa kita milih pemimpin hasil dari kecurangan, dan kalo pemimpin yang sadar, yang paham, biasanya menangkap arti aspirasi rakyat." Kata Rizal.

Dia mencontohkan, Bung karno, kalau saat itu dia putuskan lawan Soeharto, bisa jadi bung Karno tetap presiden. Tapi dia tau, kalau itu dia lakukan, banyak rakyat yang akan menjadi korban, bung Karno saat itu legowo dan akhirnya mengundurkan diri. Demikian juga Gus Dur yang saat itu didukung penuh NU, memutuskan untuk mundur. Megawati juga demikian.

"Itulah ciri pemimpin-pemimpin kita," Ujar Rizal.

Penulis:

Baca Juga