Pemungutan Suara Pilkada Dogiyai Sisakan Persoalan

Dogiyai, Akuratnews.com - Pemungutan suara pilkada Dogiyai yang digelar Rabu (15/2) menyisakan persoalan. Tim pemenangan Marcus Waine-Angkian Goo, Gunadi SPi., mempersoalkan adanya kecurangan yang merugikan pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Dogiyai yang diusung partai Hanura.

Kecurangan yang ditemukan adalah dugaan adanya intervensi dari para pejabat di Kabupaten Nabire. Bupati Nabire Isaias Douw dan, Kapolres Nabire AKBP Semmy Ronny Thabaa yang secara terang-terangan mendukung  Paslon nomor urut 1 dari partai PDIP.

Dugaan itu bukan tanpa alasan, seperti yang tertuang dalam surat yang ditunjukan kepada Ketua DPP Hanura dan Ketua Dewan Pembina Partai Hanura yang dibuat oleh Gunadi SPi.

“Hingga saat ini dari hasil perhitungan di 8 distrik pasangan Marcus Waine-Angkian Goo unggul dengan perolehan 36.541 suara, unggul 1.083 suara dari paslon no.2 yang didukung PDIP. Masih ada 2 distrik yang belum selesai dihitung yakni distrik Sukikai Selatan dan Distrik Piyaiye dengan total suara 14 ribu”. ujar Gunadi kepada wartawan, Kamis. (23/02/17).

Melihat keunggulan paslon dari partai Hanura ini, paslon nomor 4 dari partai PDIP tidak tinggal diam, melihat calonnya tidak mungkin bisa menang berbagai strategi dilancarkan, segala cara dihalalkan untuk memenangkan pertarungan

Kecurangan yang pertama adalah, sistem ikat di Distrik Kamuu Selatan yang sudah disepakati memilih paslon no 4 dari partai Hanura dibubarkan secara paksa oleh Kapolres Nabire. Kekerasan digunakan dalam pembubaran ini sehingga mengakibatkan 2 orang tetua menjadi korban. Hingga saat ini kedua korban sedang berada di Jayapur untuk menjalani perawatan. Kondisi di lapangan aparat kepolisian Nabire dan Dogiyai sendiri tidak berani menangani masalah pemukulan dan kecurangan ini.

Setelah kejadian tersebut, Bupati Nabire beserta Kapolres Nabire dan Ketua Panwas Dogiyai mengadakan pertemuan dengan Timses Paslon no.1  dari Partai PDIP  di Restoran Dogiyai 2 pada tanggal 15 Feb Jam 20:00 WIT. Pertemuan itu diindikasikan untuk membahas cara curang memenangkan Paslon no.1 di 2 distrik yang suaranya belum masuk KPUD.

Sebelumnya Bupati Nabire beserta Kapolres Nabire turun langsung dengan menggunakan helikopter di distrik Mapia Tengah, Sukiaki Selatan, dan Piyaiye untuk membagi uang dan mengintimidasi penyelenggara pilkada untuk memenangkan Paslon No.1

Beredar juga surat/kertas KWK di 3 distrik mapia tengah, kamuu selatan dan mapia yang diduga dibuat oleh timses paslon no 1 atas arahan bupati Nabire. Money politic kepada penyelenggara pilkada, dengan adanya pembagian uang 100 juta per TPS di 292 TPS yang dilakukan Nabire.

Tanggal 16 Februari 2017 malam, terjadi kerusuhan massa di Dogiyai yang disebabkan oleh ketidaksukaan masyarakat terhadap intrvensi Bupati Nabire. Para petugas lapangan dari partai Hanura yang hendak mengambil data dan bukti kecurangan yang dilakukan Bupati dan Kapolres Nabire mendapatkan pengawasan ketat dari anggota Polres Nabire

Pleno di 2 kecamatan Sukikai Selatan dan Piyaiye diintervensi Bupati Nabire hingga diulang 3 kali. Pada penghitungan pertama calon yang diusung partai Hanura  menang telak, namun setelah diulang 3 kali berubah menjadi paslon no.1 menang mutlak.

Kejadian yang baru saja terjadi adalah, disaat pengaduan berbagai kecurangan ini telah dilaporkan oleh semua Pasangan Calon (Paslon) baik no 2,3 dan 4 kepada Panwas. Namun pertemuan dengan Panwas terhenti karena Kapolres Nabire mendobrak pintu dan membubarkan pertemuan.

Menyingkapi berbagai persoalan yang terjadi di Kabupaten Dogiyai, Erik Satrya Wardhana selaku Ketua Tim Pilkada Pusat (TPP) mengecam keras tindakan dan kecurangan yang dilakukan oleh Bupati Nabire dan Kapolres Nabire. Dalam peryataanya Erik meminta Kapolri menindak tegas anggotanya.

“Kami meminta kepada Kapolri untuk menindak tegas aparatnya di daerah yg terbukti memihak kepada paslon tertentu dan apalagi melakukan kecurangan, khususnya di Nabire dan Dogiyai itu” tutur Erik. (SH)

Penulis:

Baca Juga