Pencoretan Mandala Oleh KPU Dianggap Tidak Sah

Ki-Ka : Koordinator Emak-emak Solidaritas Mandala Lela, Kuasa Hukumnya Irfan Fadila Mawi SH., Istri Mandala Shoji, Maridha Deanova Safriana. (foto by akuratnews.com)

JAKARTA, akuratnews.com – Pihak Mandala Shoji sebagai Caleg DPR RI DKI Daerah Pemilihan 2 dari Partai Amanat Nasional, terus mencari keadilan melalui Kuasa Hukumnya Irfan Fadila Mawi SH, yang kali ini didukung oleh Komunitas Emak-emak yang melihat bagaimana keputusan yang diambil oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) dengan mencoret nama Mandala Shoji (MS) sebagai Calon Legislatif DPR RI Dapil 2 DKI Jakarta, tidak sah.

Irfan, mengatakan pada hakikatnya Mandala, masih berstatus terdaftar dalam pemilih tetap untuk Caleg DPRD DKI Dapil 2, yang mana Mandala, saat ini telah dikriminalisasi oleh KPU melalui surat dengan nomor 359 tanggal 15 Maret.

“Itu adalah hasil dari jawaban yang dilontarkan oleh Mandala sebelumnya. Sehingga pencoretan itu adalah an procedural yang mana KPU tidak menelaah pasal 285 undang-undang nomor  7 tahun 2017, tentang pemilihan umum yang mana pasal tersebut tidak ada menyatakan langsung dicoret tetapi atas perintah pengadilan, sama ketika Mandala dieksekusi oleh Jaksa untuk dilakukan hukuman badan maka Jaksa melakukan eksekusi,” ujarnya kepada awak media di GBK, Rabu (10/4).

Lebih jauh dia, menekankan KPU melakukan eksekusi tanpa putusan pengadilan. Artinya, ini tidak sah. Seharusnya mereka mempelajari dan menyikapi pasal 285 tersebut kemudian dari pasal tersebut mereka keluarkan SK yang sampai saat ini tidak ada SK terkait masalah Mandala sehingga hak-hak politik Mandala untuk melakukan sengketa ke Bawaslu terhambat.

“Sampai saat ini, kami dari tim kuasa hukum mengajukan gugatan perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh KPU dan Bawaslu, sebagai penyelenggara pemilihan umum yang mana tanggal 9 April sudah didaftarkan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dengan nomor 225. Kemudian hari ini, kami juga menyampaikan surat kepada KPU RI terkait masalah status nama Mandala yang hingga saat ini kami nyatakan masih berhak sebagai calon anggota DPR RI Dapil 2 DKI,” jelasnya.

Irfan menuturkan, pada 9 April 2019 lalu, pihaknya juga menaftarkan gugatan terhadap KPU di PN Jakarta Pusat dengan nomor 225, karena KPU salah menafsirkan UU 285 UU No.7 tahun 2017.  Oleh karena itu pihaknya menyatakan, seluruh masyarakat dan relawan di dapil Mandala untuk memilih Mandala, selama belum ada putusan hukum yang tetap atau inkrah.

"Kami juga menyampaikan gugatan kepada pihak KPU dan Bawaslu, apabila perkara ini diputus dan kami dinyatakan menang, maka KPU dan Bawaslu harus membayar Rp100 Milyar dengan sistim tanggung renteng,” katanya.

Sementara itu Koordinator Emak-emak Solidaritas Mandala, Lela, menyampaikan solidaritas dengan turun ke jalan, merupakan kali kedua dilakukan. Hal ini memberikan penegasan, bagaimana Mandala perlu keadilan.

“Solidaritas (aksi) sudah kedua kali kami lakukan. Dulu (pertama kali) waktu di car free day kami lakukan dan ini yang kedua kali. Harapan kami, saya mewakili Eamak-emak Solidaritas Mandala,  harapannya pertama, supaya Mandala dibebaskan dari gugatan.  Ke dua, Mandala berhak ikut pemilihan pada tanggal 17 nanti,” harapnya.

Irfan, menegaskan kalau misalnya KPU lalai dengan menjalankan tugas dan fungsinya sebagai lembaga Pemilihan Umum, lebih bagus dibubarkan.

“Dalam satu posisi satu orang saja mereka tidak bisa menjalankan tugas dan fungsinya, menurut saya bubarkan. Karena satu orang saja bermasalah, apalagi kalau sampai ribuan orang. Makanya kita gugat KPU dan Bawaslu dengan tanggung renteng. Artinya mereka sama-sama dibayar, kalau perkara ini sampai ke Pengadilan dan diputus bahwasanya gugatan kita dimenangkan Majlis Hakim,” tegasnya.

Hafal Surat Ar Rahman

Sementara itu, istri Mandala, Maridha Deanova Safriana, mengatakan aksi yang dilakukan merupakan usaha yang bisa dilakukan. Namun, pesan yang disampaikan Mandala melalui dirinya, mengatakan agar semuanya serahkan kepada Yang Maha Kuasa.

“Alhamdulillah saat ini suami saya sehat, bahkan sudah hafal Surat Ar Rahman dan artinya. Di sini Allah menempatkan aku ada rencananya. Saat ini Mas Mandala, kondisinya sudah ikhlas. Mau jadi anggota DPR atau tidak semua diserahkan ke Yang Maha Kuasa. Tapi, kita sebagai manusia kami melihat ketidakadilan. Banyak orang yang bagi-bagi sembako, tetapi tidak ada yang dipenjara. Suamiku katanya bagi-bagi umrah dan belum ada yang umroh dipidana. Apalagi di acara orang, bukan di acaranya sendiri,” terangnya berkaca-kaca.

Jika memang gugatan ini dimenangkan, masih menurut Nova, Mandala siap untuk terus ikut kontestasi politik tahun 2019. Karena selama ini dalam perjalanan hidupnya Mandala ingin melakukan perubahan.

“Dia siap, karena jelas-jelas dia ingin melakukan perubahan. Sebenarnya program dia (di televisi) merupakan program-program social. Pada dasarnya Mandala merupakan orang social,” tegasnya.

Penulis:
Editor: Irawan

Baca Juga