Opini

Pendidikan yang Berpihak Pada Anak

AKURATNEWS - Tahun 2021 baru saja berlalu.  Alih-alih memperkaya (enrichment), mencerahkan (enlightment), dan memberdayakan (empowerment), dunia pendidikan justru mewariskan tiga dosa, yakni kekerasan seksual, intoleransi, dan perundungan (bullying). Fenomena pengingkaran atas intisari pendidikan (education; educare) sebagai langkah menuju perubahan ke arah yang lebih baik; keluar dari kegelapan (ketidaktahuan) menuju terang (pengetahuan).

Pemberitaan nan memilukan sekaligus memalukan kembali viral di ruang publik terkait tindakan kekerasan seksual yang melibatkan oknum pengajar dan pendidik (guru) sebagai pelaku, dan nara didik sebagai korban. Dosa kekerasan seksual oleh para oknum guru tak bertanggungjawab ini telah menodai citra dunia pendidikan yang diharapkan sebagai inkubator penyemaian nilai-nilai luhur, karakter unggul, dan akhlak mulia sebagaimana yang dicita-citakan bangsa.

Hingga Juli 2021, kasus kekerasan seksual terhadap perempuan terus mengalami peningkatan. Di tahun 2020 ada 2400 kasus kekerasan seksual, melonjak menjadi 2500 kasus di tahun 2021 (Mendikbudristek, 2021). Lebih lanjut, merujuk data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melalui berita berjudul ‘Marak Kasus Kekerasan Seksual di Lingkungan Pendidikan Sepanjang 2021, Mayoritas Pelakunya Guru’ (TribunJakarta, 29 Desember 2021) diberitakan bahwa di sepanjang tahun 2021 tercatat 18 kasus kekerasan seksual di lingkungan sekolah dengan total jumlah anak yang menjadi korban berjumlah 207 orang, dengan rentang usia 3 – 17 tahun.

Disamping dosa kekerasan seksual, dosa intoleransi dan dosa perundungan masih terus mengintai, berpotensi sebagai ancaman laten bagi NKRI. Bermula dari benih-benih intoleransi yang ditabur oleh oknum pengajar yang menafikan kemajemukan; menolak keberagaman suku, agama, ras dan antargolongan sebagai bagian tak terceraikan dari eksistensi masyarakat yang berbineka tunggal ika.

Merujuk data UNICEF tahun 2014, delapan dari sepuluh anak mengalami perundungan. Kasus perundungan di dunia pendidikan ini menempati urutan keempat teratas dari kasus kekerasan pada anak. Perundungan, apapun bentuknya; non-verbal (tatapan sinis, ekspresi muka memusuhi) atau verbal (mencela), berpotensi menyulut konflik horizontal. Yang dalam bingkai masyarakat plural, apabila perundungan tidak dicegah dan dikelola dengan baik, tidak mustahil meluas sebagai pemicu disintegrasi bangsa.

Berpihak pada anak

Sejarah mencatat, ada banyak tokoh kelas dunia yang dulunya sempat keliru terdiagnosa oleh gurunya. Winston Churchill sempat dikeluarkan dari kelas bahasa Latin. Thomas Edison, pernah dipulangkan ke rumah dengan sebuah catatan oleh gurunya yang mengatakan bahwa ia terlalu bodoh untuk belajar dan tidak punya harapan. Louis Pasteur juga dianggap oleh gurunya sebagai anak yang lambat belajar di dalam kelas kimia.

Dari sejarah kita belajar bahwa setiap anak murid senyatanya mempunyai metoda belajar personal yang unik. Artinya, ketika seorang anak murid berhasil dalam belajar dengan menggunakan suatu metoda tertentu, maka metoda tersebut tidaklah serta merta secara otomatis menjamin keberhasilan ketika diterapkan untuk anak murid lainnya.

Di samping sebagai Homo sapiens (makhluk yang berpikir), manusia juga berpredikat sebagai Homo ludens (makhluk yang bermain). Artinya, manusia baru menjadi manusia ketika ia menikmati aktivitas bermain sebagai bagian dari proses belajar yang menyenangkan dan mencerdaskan.

Bukan suatu kebetulan bila Ki Hajar Dewantara menamakan sekolah dengan Taman Siswa. Kata ‘Taman’ lebih merujuk area terbuka bagi anak untuk bermain sambil belajar daripada ruang kelas yang bersekat dan tertutup. Perhatikan Proses Belajar Mengajar (PBM) di Taman Kanak – Kanak (TK), suasana belajarnya begitu luwes dan hidup; diwarnai dengan nyanyian, tarian dan tawa. Tak ada istilah kata keliru dan anak nakal dijumpai di sana; yang ada adalah peserta didik yang sedang dalam tahap proses belajar, bertumbuh, dan berkembang.

Ironinya, acap dijumpai adanya kesenjangan antara gagasan awal dengan pengalaman konkret keseharian perihal PBM yang bermutu. PBM yang bermutu adalah proses belajar yang memberdayakan anak murid dalam mengenali dan menemukan potensi personal yang ada pada dirinya.

Pada praktiknya, PBM acap terjebak pada teks, dan terlepas dari konteksnya. Menjadikan PBM berlangsung kering tanpa makna; kurang relevan dan tak produktif (baca: tidak memberikan nilai tambah). Kondisi semacam inilah yang menurut Willingham (2009), dalam buku ‘Why don’t students like school?’ merupakan salah satu penyebab bagi anak murid enggan datang dan belajar di sekolah.

Untuk itu, guru perlu memikirkan strategi dan inovasi dalam pembelajaran. Mengingat nantinya, bagaimana guru mengajar akan menjadi lebih penting dari apa yang diajarkan. PBM tak melulu soal penyampaian materi ajar (transfer of knowledge). Perlu melatih dan membiasakan anak murid berpikir kritis, logis, dan ilmiah melalui aneka soal evaluasi pembelajaran berkategori Higher Order Thinking Skills (HOTS).

Terkait upaya memutus rantai kekerasan anak di sekolah, pesan Neil Kurshan dalam Coloroso (2006) dalam buku “Penindas, Tertindas, dan Penonton” perlu mendapatkan perhatian secara serius bahwa tugas terpenting pendidik adalah membesarkan anak-anak menjadi orang-orang yang baik, bertanggungjawab dan peduli serta membaktikan diri untuk membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih adil dan penuh kasih.

Sekiranya dijumpai ‘kekeliruan’ selama proses belajar, seperti: lambat belajar, tidak mengerjakan tugas, capaian hasil belajar siswa yang belum optimal, dll maka yang perlu dingat dan diperhatikan guru dalam hal pemberlakuan sanksi adalah bahwa sanksi haruslah edukatif; menertibkan dan menumbuhkembangkan, bukan berupa perundungan atau kekerasan seksual yang berefek traumatis.***

Oleh: Thio Hok Lay, S. Si
Teaching Learning Curriculum Department, Yayasan Citra Berkat, Jakarta
Penulis Buku ‘Mendidik, Memahkotai Kehidupan’

Baca Juga