Pengurus MPN Pemuda Pancasila, Bangun Sitohang Bahas Kualitas Politisi Jaman Now

Opini, Akuratnews.com - Perilaku politik yang adil, beradab,, dan ramah tutur kata Politiknya sejatinyaa dilihat dari aspek perilaku pastinya ingin mempengaruhi orang lain agar sejalan atau seturut kemauan yang mempengaruhi atau subjek politik.

Silahkan anda mempersepsikan perilaku politik dalam berbagai dimensi. Naun ulasan ini lebih menekankan pada perilaku politik bangsaku Indonesia khususnya dalam kehidupan demokrasi.

Kita sudah sepakat politik kita didasarkan atas nilai-nilai luhur Pancasila, artinya model perilaku politik kita yang pasti semestinya menggambarkan apa yang terkandung dari jiwa Pancasila.

Kita ambil contoh konkretnya makna sila ke 2 Pancasila (Kemanusiaan yang adil dan beradab). Jika diimplementasikan dalam politik, maka sudah sepatutnya politik itu memperhatikan nilai yang beradab sebagai manusia Indonesia.

Adab tentu terkait perilaku manusia atau pelaku politik, karena politik itu diasosiasikan dengan aspek penyampaian kepentingan, maka harus diperhatikan nilai keberadaban seorang manusia Indonesia seperti SOPAN DALAM BERSIKAP, SANTUN DALAM BICARA dan RAMAH TUTUR KATANYA, semua ini adalah jiwa orang-orang yang beradab.

Agar hal tersebut teratur dalam sikap politik, maka setiap pihak yang berkepentingan harus saling menjaga keseimbangan dalam relasi politiknya sehingga jika ini terwariskan menjadi budaya politik, terbangunlah jiwa politik orang Indonesia yang ADIL dan BERADAB.

Karena kita sebagai anak bangsa dengan idiologi Pancasila, kita harus memperhatikan nilai-nilai luhur tersebut dalam kehidupan demokrasi kita.

Sebenarnya para pendiri negara bangsa ini sudah mengantisipasi perilaku politik masa mendatang, hanya kita yang selalu meninggalkan nilai tersebut.

Kita malas menggali jiwa yang terkandung dari sila per sila dari 5 jiwa Pancasila. Kita baru sampai mengetahui dan belum ikhlas memahami Pancasila sebagai jiwa kebangsaan kita.

Fenomena tersebut terlihat dari perilaku politik yang tutur katanya TIDAK SOPAN yang tidak adil dalam bersikap seolah-olah paling benar sehingga melupakan penghargaan nilai kemanusiaan yang beradab yang bercirikan orang Indonesia.

Kita lihat pada berbagai media massa atau saluran komunikasi di era kemajuan alat komunikasi saat ini, banyaknya konten berita yang saling menghujat antar anak bangsa, saling membenci, saling bertutur kata yang tidak santun, saling membuka luka lama dan saling bicara yang semuanya bagian dari ujaran kebencian.

Semua anomali perilaku politik ini adalah kurangnya kita memaknai derajat kemanusiaan kita.

Paraorang bijak sejak abad-abad terdahulu sudah memberi nasehat dalam pergaulan antar manusia bahwa siapa menabur kasih akan menabur damai, siapa menabur kebencian akan menuai pertikaian.

Tidak ada manusia di dunia ini yang tidak ingin damai, semua manusia pasti ingin hidup yang adil. Semua ini adalah bagian dari nilai-nilai keadaban di dunia.

Pertanyaan sederhana, siapa yang mewarisi nilai-nilai tersebut, jawabannya tentu kita yang mengaku Orang Indonesia yang punya nilai Pancasila.

Artinya jika sikap dan perilaku kita tidak sopan, tidak santun dan tidak ramah tutur katanya dalam berpolitik, patut dipertanyakan integritas moral politiknya.

Akhirnya saya ingin mengajak, tetaplah belajar Menjadi Orang Indonesia. Sebab Gelar, pangkat dan status sosial belum selamanya jaminan orang tersebut Pancasilais tetapi akan dilihat dari konsistensi moral antara ucapan dan perbuatan dalam implementasinya di masyarakat luas dan dapat menjadi nilai keteladanan.

Hal ini penting diperhatikan karena kita saksikan terdapat pihak yang tadinya Narasumber bisa bergeser menjadi Narapidana. Anomali perilaku ini adalah gambaran inkonsistensi moral.

Akhirnya dari uraian perilalu politik di atas, maka untuk menjaga nilai keadaban, biasakan sopan dalam bersikap, santun dalam penyampaian serta ramah tutur kata kita sehingga kita menciptakan menghargai diri kita sebagai orang Indonesia. Itulah ciri politik orang Indonesia. 

Penulis:

Baca Juga