Penipu Toko Mainan Planet Toys Jalani Sidang Pertama

Terdakwa Lauw Darmawan Lesmana alias Robby

AKURATNEWS - Terdakwa Lauw Darmawan Lesmana alias Robby, pelaku penipuan dengan modus pesan mainan anak dengan jumlah besar, mejalani sidang pertamanya di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Rabu (22/12/2021).

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Putu Sudarsana, menghadirkan tiga orang saksi, yakni Hardy Pangdani, selaku pemilik toko Planet Toys, Surabaya, Eni Marlina, bagian penagihan Planet Toys dan Dwi Wisnu Wahyudi, bagian operasional CV Planet Toys.

Diceritakan Hardy, bahwa dirinya mengenal terdakwa sejak 2010 silam. Awalnya, kerjasama terdakwa dan saksi ini berjalan lancar. Namun, permasalahan terjadi pada 2017, setelah terdakwa memesan mainan dengan jumlah banyak secara bertahap hingga nilai nominalnya mencapai Rp 400 juta.

"Beberapa sudah ada yang dilakukan pembayaran. Jumlahnya sebenarnya tinggal Rp 390 juta sekian. 2018 kami cari di Bekasi, begitu ketemu kami tagih dia pasrah gak punya uang. Terus ditanyain barangnya kemana, dijawab udah laku semua," ungkap pemilik toko di Jl Ngagel Selatan blok B 27-28 Surabaya tersebut

Sementara itu, Dwi Wisnu Wahyudi dalam kesaksiannya, setelah penagihan pertama terdakwa pasrah karena tak ada uang, seminggu kemudian ia mendatangi toko mainan yang ada di Bekasi tersebut, namun terdakwa kabur melarikan diri.

Saat mendatangi toko milik terdakwa, Dwi bertemu dengan Andre (kakak ipar terdakwa). Dalam pembicaraan mereka, Andre yang bertanggungjawab dan berjanji akan melunasi tunggakan pembayaran terdakwa kepada Planet Toys secara bertahap.

Namun, selang beberapa bulan kemudian setelah pertemuannya dengan Andre, Dwi mendapat informasi kalau toko itu tutup dan bangunannya juga dijual.

"Andre yang katanya mau menyelesaikan permasalahan ini. Nah, ternyata saat itu Andre juga ikut menghilang. Sebenarnya pelakunya dua orang itu. hanya saja, Andre sampai sekarang belum dimunculkan dalam persidangan," bebernya.

Dwi juga mengaku, modus yang dilakukan terdakwa telah memakan banyak korban. Tak hanya dirinya saja, melainkan beberapa sales dan distributor di beberapa daerah.

"Ini sebenarnya modus yang sudah direncanakan. Korbannya itu ada di Jakarta, Bandung dan Semarang. Kalau hitung-hitungan itu mungkin sekitar 20 distributor mainan. Kalau tokonya itu ada di Bekasi dan Pasar Senen," pungkasnya.

Menurut dia, ada unsur kesengajaan terdakwa melakukan hal sedemikian. Penilaian itu didasari atas pengambilan mainan secara bertahap dan terdakwa juga sempat kabur sebelum ditangkap Ditreskrimum Polda Jawa Timur di Bali.

Barang bukti yang diberikan kepada penyidik berupa nota-nota pembelian mainan yang belum terbayarkan, atas perbuatannya, terdakwa diancam pidana dalam Pasal 378 KUHPidana terkait penipuan.

Penulis:

Baca Juga