Penista Agama Disidangkan Pengadilan Negeri Medan

Medan, Akuratnews.com - Dua kasus penistaan agama secara terpisah digelar Pengadilan Negeri Medan, Selasa (03/07/18) masing masing terhadap terdakwa Martinus Gulo (21) pria asal Desa Fanedanu, Kecamatan Somambawa, Kabupaten Nias Selatan, dan Meliana.(44) wanita asal Tanjung Balai Kabupaten Asahan.

Terhadap Martinus Gulo, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Aisyah dari Kejaksaan Negeri Medan mendakwa Martinus terkait kasus penistaan agama yang dilakukannya melalui laman media sosial Facebook. Terdakwa mengakui ia menuliskan di ponsel status penghinaan kepada Nabi Muhammad SAW.

Setelah membacakan dakwaan, Ketua Hakim Fahren menanyakan kebenaran ujaran kebencian yang dilakukan Martinus Gulo. Ia pun mengakui perbuatannya.

"Apa benar kamu menulis status tersebut di akun Facebook bernama Joker Gullo atau Martinus Gullo," tanya hakim yang langsung dibenarkan terdakwa.

Untuk menguatkan dakwaannya JPU menghadirkan saksi ahli dari Polrestabes Medan terhadap perkara ujaran kebencian melalui laman media sosial facebook tersebut.

"Iya awalnya kita kan lidik dulu, baru kita temukan memang facebooknya bernama Joker Gulo dengan status waktu itu apakah aku salah menyatakan Nabi Muhammad Saw itu b*b* kemudian nama akun Facebooknya berubah menjadi Martinus Gulo," ujar saksi ahli.

Terdakwa Martinus Gulo diduga melanggar Pasal 28 ayat (2) UU ITE yang berbunyi setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) dengan ancaman pidana penjara paling lama enam tahun dan/atau denda paling banyak satu miliar rupiah.

Martinus Gulo berurusan dengan polisi akibat kicauannya di media sosial facebook. Akibatnya, FPI mengadukannya ke Polrestabes Medan sehingga Martinus diciduk 29 Maret 2018 silam.

Sementara diruang Cakra 9 Pengadilan Negeri Medan, kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan Meliana (44) di Tanjung Balai dua tahun silam kembali digelar dengan eksepsi penasehat hukum. Sebelum sidang digelar, terdakwa Meliana terlihat menangis.

Sidang yang digelar Selasa (3/7/18) tersebut berisi materi eksepsi dari penasehat hukum Meliana. Penasehat hukum dalam eksepsinya menolak gugatan yang dilayangkan JPU dengan alasan Meliana hanya berbicara kepada seseorang bukan umum.

Pengacara terdakwa Rantau Sibarani menyebutkan, Meliana hanya bertanya kenapa azan yang disiarkan semakin tinggi kepada seseorang. Kemudian kita tidak bisa menjelaskan apakah pertanyaan terdakwa kepada orang tersebut sama seperti yang disampaikan orang tersebut dengan masyarakat. Meliana tidak terbukti berbicara di muka umum.

"Unsur di muka umum tidak terbukti. Karena tidak ada kegiatan menista di muka umum melainkan orang-orang lah yang beramai-ramai mendatangi rumah Meliana. Kegiatan mendatangi rumah Meliana bisa dipidanakan," ujar Rantau.

Pengacara terdakwa berharap Majelis hakim yang dipimpin Wahyu Prasetyo Wibowo agar menggugurkan gugatan JPU.

"JPU tidak tepat menyebutkan tanggal perkara, Meliana tidak terbukti berbicara di muka umum dan menyangkut penistaan adalah represif sehingga tidak tepat berujung pidana" ujar Rantau.

Sebelumnya JPU mendakwa Meliana dengan primair Pasal 156a huruf a KUHPidana serta dakwaan subsidair Pasal 156 KUHPidana. Meliana telah menjalani penahanan selama 20 hari. Penahanan itu berdasarkan SP Kajari TBA No. Print-566/N.2.15/Ep.2/05/2018 tanggal 30 Mei 2018 terhitung mulai 30 Mei s/d 18 Juni 2018. (HSP)

Penulis:

Baca Juga