Penjualan Ritel Indonesia Melonjak di Bulan November

Industri Ritel
Industri Ritel

Jakarta, Akuratnews.com - Optimisme terhadap prospek ekonomi Indonesia meningkat pasca laporan bahwa penjualan ritel naik 3.4% di bulan November dibandingkan satu tahun sebelumnya.



Pencapaian penjualan ritel yang sangat mengesankan di bulan November didukung oleh peningkatan permintaan BBM, sandang, dan barang rekreasional. Penjualan ritel menguat sehingga prospek pertumbuhan Indonesia tetap sangat menjanjikan karena konsumsi domestik berkontribusi lebih dari separuh PDB Indonesia. Anehnya, Rupiah melemah pasca laporan ekonomi yang positif ini. Harga berada di kisaran 14120 saat laporan ini dituliskan.

Menurut Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, suku bunga acuan BI sudah mendekati puncaknya. Karena itu, ekspektasi kenaikan suku bunga BI dalam waktu dekat mungkin akan menurun.

Sentimen di pasar finansial tetap positif di pertengahan pekan ini. Investor mengabaikan pidato Donald Trump di Ruang Oval mengenai keamanan perbatasan dan lebih berfokus pada perkembangan dagang saat ini.

Optimisme bahwa negosiasi dagang antara Amerika Serikat dan China akan berakhir positif tampak jelas mendukung sentimen risiko global dan ini terus terlihat pada saham global. Walaupun terobosan kesepakatan antara kedua belah pihak masih tampak terlalu dini, isyarat menggembirakan adanya kerja sama dan prospek diskusi yang mengarah pada negosiasi pada level yang lebih tinggi akan menjadi perkembangan menggembirakan bagi pasar finansial.

Saham global kemungkinan akan diuntungkan oleh sentimen risiko risk-on di jangka pendek, namun risiko geopolitik akan menjadi rintangan. Tidak banyak kemajuan dalam mengatasi shutdown parsial pemerintah AS dan pidato Donald Trump mengenai imigrasi menambah ketidakpastian, sehingga tampaknya ada banyak faktor yang dapat memicu aksi jual di pasar.

Situasi tidak diharapkan ketika negosiasi dagang tidak berhasil memenuhi ekspektasi dan justru diakhiri dengan negatif akan memicu penghindaran risiko. Jika demikian, aset berisiko termasuk saham dapat mengalami pukulan.

Di Inggris, Pound tetap dipengaruhi oleh masalah Brexit dan debat parlementer yang sedang berlangsung mengenai kesepakatan Brexit menjelang voting penting pada 15 Januari. Ketidakpastian Brexit terus memengaruhi prospek Pound sementara investor menunggu voting parlementer untuk arah selanjutnya.

Apa pun hasil voting ini, Pound pasti merasakan dampaknya. Dari topik makroekonomi, Gubernur Bank Sentral Inggris Mark Carney akan menjadi sorotan hari ini saat beliau berbicara tentang masa depan uang di Bank of England Future Forum. Carney akan memilih setiap kata dengan cermat pada sesi Tanya Jawab mengingat ketidakpastian Brexit dan drama di Westminster.

Penulis:

Baca Juga