Penyandang HIV/AIDS adalah Orang-orang yang Harus Dijadikan Sahabat

Ilustrasi dampak sosial bagi para penyandang atau kelompok orang Dengan HIV/AIDS.
Ilustrasi dampak sosial bagi para penyandang atau kelompok orang Dengan HIV/AIDS.

“Para penyandang HIV/AIDS adalah orang-orang yang harus dijadikan sahabat. Hanya cinta yang dapat menggugah semangat hidup mereka.” _Zhaenal Fanani.

Ragam, Akuratnews.com - Seperti yang diketahui virus HIV/AIDS merupakan epidemi mematikan. Virus tersebut bahkan sampai saat ini belum ditemukan obat penawarnya. Meski dikabarkan bahwa ahli kesehatan berhasil menemukan vaksin yang dapat memperlambat pertumbuhan virus penyakit tersebut namun tetap saja virus HIV/AIDS merupakan wabah mematikan sepanjang sejarah.

Selain sebagai wabah mematikan, secara sosial, virus HIV/AIDS juga merupakan penyakit yang dianggap aib oleh masyarakat. Karena itu, para penderita atau Orang Dengan HIV/AID alias ODHA bahkan sering mendapat perlakuan diskriminatif dan stigma negatif dari masyarakat.

Padahal, belum tentu virus HIV/AIDS yang mereka derita tersebut disebabkan oleh perbuatan mereka sendiri. Dalam beberapa kasus, prose penularan virus HIV/AIDS rentan terjadi pada saat masa kehamilan yaitu dari seorang ibu kepada bayi selama proses kehamilan. Meskipun demikian, berbagai macam bentuk respon sosial berupa pemarginalan, deskriminasi, dan bentuk-bentuk pengucilan lainnya dialamatkan terhpadap para ODHA.

Bentuk pemarginalan atas Orang Dengan HIV/AIDS ( ODHA) rentan terjadi. Mereka selalu mendapatkan perlakuan diskriminatif dalam bentuk pelabelan-pelabelan negative dari masyarakat atau lingkungan sosial.

Hal demikian dilukiskan oleh Zhaenal Fanani dalam buku fiksi novel bertajuk Bulan di Langit Athena. Dalam Novel tersebut, Zhaenal Fanani justru tidak melihat persoalan HIV/AIDS sebagai penyakit sosial dan dianggap aib akan tetapi Zhaenal Fanani justru justru memperlihatkan aspek psikologis yang dialami oleh para ODHA.

Dalam Novel tersebut, Zhaenal Fanani ingin menegaskan bahwa, orang dengan HIV/AIDS (ODHA) seharusnya mendapatkan cinta dan persahbatan seperti yang lainnya. Bukan berarti dengan menjadi orang dengan HIV/AIDS (ODHA) mereka kehilangan segalanya, termasuk cinta dan persabatan.

Berikut ini saya sedikit mengulas tentang resensi Novel Bulan di Langit Ateha Karya Zhaenal Fanani itu. Mengisahkan perjuangan hidup para penyandang HIV/AIDS, Novel tersebut menarik untuk cermati dari aspek psikologis tokohnya.

Kisah yang memilukan sekaligus menyadarkan setiap orang dalam memandang dan bersikap terhadap ODHA. Novel ini dikemas dengan apik, menghargai dan mengakui keberadaan orang lain, bagaimana pun keadannya. Kisah ini memberikan pesan kepada setiap orang agar tidak melihat perkara hanya dari satu sudut pandang saja.

Demikian nasib malang menimpa Amiq Queen Shobo, (toko viksi dalam Novel Bulan di Langit Athena), Perempuan berparas cantik sekaligus seorang siswi teladan yang selalu meraih prestasi. Queen terlahir sebagai anak hasil pernikahan lintas etnis, budaya, dan lintas negara.

Meski dalam riak besar kesulitan dan getirnya perjuangan hidup, Queen tak kuasa menyembunyikan diri di sisi lain dunianya. Athena dengan segala mitos yang menyertainya hanyalah kota yang berbeda, Queen harus menerima takdirnya bahwa di atas langit sana, bulan yang jatuh tetaplah sama. Novel ini dikemas dengan cantik untuk menjelaskan pada kita bahwa setiap manusia harus menghadapi takdirnya dan hidup bersamanya, bukan mengingkarinya.

Queen, gadis cantik dengan segudang prestasi, memutuskan untuk meninggalkan segalanya, termasuk keluarganya, setelah divonis terjangkit virus HIV/AIDS. Sempat berniat mengakhiri hidupnya, Queen menemukan kembali semangatnya di Bumi Cinta, rumah singgah untuk orang-orang yang bernasib sama dengannya.
Garis hidup membawa Queen ke Athena.

Dalam kesibukannya mengabdikan diri di sebuah organisasi pencegahan AIDS, ia bertemu dengan seseorang yang mampu menggetarkan jiwanya, menggugah semangatnya, membakar kerinduannya. Orang pertama yang mengatakan cinta kepadanya: Zakhary.

Namun, ketidaksempurnaannya sebagai wanita membuat Queen harus bertarung meredam perasaannya, tanpa ia sadari bahwa Zakhary sesungguhnya menyimpan ketakutan yang sama.

Akankah Queen membalas cinta Zakhary? Mampukah Zakhary menjadi rembulan yang menerangi lorong kesunyian hidup Queen? Ketakutan apa yang disembunyikan pemuda itu?

Bukti Acropolis di bawah langit Athena menjadi saksi kisah pergolakan batin penderita HIV tanpa melupakan sifat alamiahnya sebagai manusia: merasakan cinta. Sangatinspiratif!

Amiq Queen Shobo, Ibunya merupakan perempuan kelahiran salah satu desa di Malang yang bernama Sumberdadi. Adapun ayahnya Harubi Shobo merupakan sosok laki-laki percampuran darah Prancis dan Jepang.

Adat masyarakat Sumberdadi menunjukkan tidak terbiasa anak-anak perempuan setempat diperistri oleh orang asing. Apalagi laki-laki itu tidak terlahir dengan paras eropa. Penduduk Sumberdadi digambarkan sebagai penduduk yang tidak pernah tergoda untuk melakukan tindakan yang merusak ekosistem lingkungan. (halaman 78).

Walaupun kedua insane ini menganggap perbedaan tidak dianggap sebagai suatu hal yang menghalangi. Justru perbedaan harus itu harus disikapi sebagai kelaziman dan bukan sesuatu yang istimewa. Namun, adat yang dipegang oleh nenek atau keluarga Ken Pratiwi, ibunda Queen, berkata lain. Kedua orang tua Pratiwi tidak menyetujui hubungan mereka.

Kekuatan cinta yang sudah mengikat dua insane yang memiliki karakter berbeda ini mengalahkan ikatan adat yang berwacana di Sumberdadi. Pratiwi pun meninggalkan kedua orang tuanya, yang telah membesarkannya. Dia juga harus meninggalkan rumah dan kampung halaman yang sudah menjadi bagian dari hidupnya.

Queen terlahir dari pernikahan dua insane yang berbeda bapaknya yang memiliki sifat atau pernah merasakan kehidupan glamour, sedangkan ibunya merupakan sosok perempuan kampung yang lugu. Sejak kecil, Queen telah memperlihatkan bakat-bakat mengagumkan. Sebelum genap berusia dua belas tahun. Ia telah menguasai beberapa tarian daerah. Di akhir pendidikan Sekolah Lanjut Tingkat Pertamanya, Queen telah menguasai sejarah bangsa-bangsa dahulu. (halaman 148).

Queen pun tumbuh menjadi sosok perempuan yang berprestasi di kelasnya. Memiliki paras menawan membuat banyak teman-teman laki-lakinya terpesona melihatnya. Tapi tak seorang pun yang dapat meluluhkan hatinya.

Saat duduk di kelas XII, dia mengikuti kegiatan donor darah. Untuk pertama kalinya Queen berpartisipasi aktif dalam kegiatan donor darah. Setelah dilakukan pengecekan oleh petugas, dari sekian banyak siswa yang melakukan donor darah ternyata dokter Harini menemukan terdapat satu sampel darah yang terinfeksi HIV/AIDS.

Namun, yang membuat Sorya Atmaja heran adalah siswanya yang selalu mendulang prestasi di kelas, Queen, ternyata positif terinfeksi. Queen yang selama ini dikenal oleh dirinya sebagai kepala sekolah tidak mungkin melakukan hal-hal yang tercela. Akhirnya, dr. Harini dan kepala sekolah pun bersepakat untuk merahasiakan hal itu kepada Queen dan teman-temannya untuk sementara waktu. Mengingat, sebentar lagi para murid akan melangsungkan Ujian Nasional (UNAS), agar para murid, terutama Queen, dapat ujian dengan fokus.

Haripun terus berganti, UNAS sudah di depan mata. Queen terbaring sakit, sudah beberapa hari terakhir. Pratiwi sangat mengkhawatirkan putri satu-satunya itu. Dengan kekuatan cinta yang diberikan sang ibunda dan kepedulian sang ayah yang mulai tumbuh kembali, Queen pun sehat dan dapat mengikuti UNAS.

Namun, pasca UNAS rampung, Queen pun harus dilarikan ke rumah sakit. Queen ingin mencoba mengakhiri hidupnya, setelah mendengar obrolan dokter dengan ayahnya, bahwa dia terinfeksi HIV/AIDS, Queen melarikan diri dari rumah sakit. Kemudiaan Queen mencoba untuk bunuh diri akibat tekanan batin yang dirasakannya.

Beruntung usaha itu digagalkan oleh sosok pria yang tiba-tiba muncul dan menasehati Queen. Akhirnya, Queen luluh dan
mengurungkan untuk mengakhiri hidupnya. Queen tanpa piker panjang ikut dengan pria yang memperkenalkan diri sebaga Barain. Tanpa menyanyakan lebih lanjut Queen langsung dihadapi kepada komunitas ‘posistif’ (ODHA) yang diberi nama Bumi Cinta. Di sana Queen menemukan kehidupan baru. Kehidupan yang membuatnya merasa terlahir kembali.

Catatan:
Novel berjdul : Bulan di Langit Athena, Penulis : Zhaenal Fanani, Penerbit : Diva Press, Yogyakarta, Tahun Terbit : Juni, 2012, Jumlah Halaman : 508 Halaman, ISBN : 978-602-7640-13-9.

Pada tahun 2018, Novel ini pernah dijadikan bahan penelitian psikologis sastra, sebagai tugas akhir perkuliahan salah satu mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pancasakti Makassar.

Penulis: Yohanes Marto

Baca Juga