Penyelidikan PBB: Pasukan AS, Rusia dan Suriah Lakukan Kejahatan Perang

Bombardir rakyat sipil, rumah sakit, tenaga medis dan sekolah merupakan Kejahatan Perang AS, Rusia, Iran dan Suriah. (foto ilustrasi)

Suriah, Akuratnews.com - Perang 8 tahun di Suriah masih terus berkobar. Perang yang ditenggarai sebagai laboratorium uji coba senjata-senjata terbaru Rusia, Suriah dan Iran versus Koalisi pimpinan Amerika Serikat (AS), telah memicu Komisi Penyelidikan Suriah PBB melakukan investigasi menyeluruh terhadap munculnya dugaan kejahatan perang yang dilakukan negara-negara tersebut di konflik Suriah.

Hasilnya, Komisi Penyelidikan Suriah PBB menyebutkan hasil investigasi yang dilakukan mengarah bahwa pasukan AS, Suriah dan Rusia telah melakukan kejahatan perang.

Perang membabi buta dilakukan AS, Suriah dan Rusia di bumi Syam tanpa menghiraukan penduduk sipil, tenaga medis dan sekolah-sekolah.  Serangan udara oleh pasukan koalisi pimpinan-Amerika di Suriah telah membunuh atau melukai banyak warga sipil, menunjukkan bahwa tindakan pencegahan yang diperlukan diabaikan dan kejahatan perang mungkin telah dilakukan, kata para penyelidik PBB, Rabu.

Melansir Reuters, Rabu (11/9/2019), Pemerintah Suriah dan pesawat tempur sekutu Rusia juga melakukan kampanye mematikan yang menargetkan fasilitas medis, sekolah, pasar, dan tanah pertanian dan yang juga bisa dianggap sebagai kejahatan perang,.

Dalam laporan Komisi Penyelidikan Suriah untuk Suriah disebutkan para penyelidik juga menuduh Hayat Tahrir al-Sham, aliansi yang sebelumnya dikenal sebagai Front Nusra yang merupakan kelompok bersenjata dominan di Idlib, menembakkan roket tanpa pandang bulu dan membunuh warga sipil.

Perang 8 tahun telah merenggut nyawa ratusan ribu dan memaksa 13 juta orang pergi dari rumah mereka, setengah dari mereka telah meninggalkan tanah air mereka yang hancur.

Didukung oleh kekuatan udara koalisi yang dipimpin Amerika dalam perjuangan untuk melawan ISIS, Syrian Democratic Force (SDF)  yang termasuk pejuang Kurdi, merebut kembali markas besar terakhir kelompok Hajin di Suriah timur pada akhir Desember.

Menurut laporan itu, Operasi Badai Al-Jazeera koalisi mengakibatkan sejumlah besar korban sipil, termasuk dalam serangkaian serangan pada 3 Januari di Sha’fah, selatan Hajin, yang menewaskan 16 warga sipil termasuk 12 anak-anak.

“Komisi menemukan bahwa ada alasan yang masuk akal untuk percaya bahwa pasukan koalisi internasional mungkin tidak mengarahkan serangan mereka pada tujuan militer tertentu, atau gagal melakukannya dengan tindakan pencegahan yang diperlukan,” kata laporan itu sebagaimana dilansir Reuters yang dikutip situs nasional.

“Meluncurkan serangan tanpa pandang bulu, mengakibatkan kematian atau cedera pada warga sipil merupakan kejahatan perang dalam kasus-kasus di mana serangan semacam itu dilakukan secara sembarangan,” tambahnya laporan tersebut. Pejabat koalisi tidak dapat dihubungi segera untuk mengomentari laporan tersebut.

Pasukan pemerintah Suriah juga melakukan serangan udara berulang-ulang di Saraqib, di provinsi barat laut Idlib pada 9 Maret, merusak rumah sakit anak-anak dan wanita Al-Hayat, meskipun pasukan pro-pemerintah mengetahui koordinatnya, kata laporan itu.

“Di Idlib pada 14 Mei pasukan pro-pemerintah mengirim dua hingga empat rudal ke pasar ikan dan sekolah dasar untuk anak perempuan di Jisr al-Shughur  menewaskan sedikitnya 8 warga sipil,”  katanya.

“Serangan semacam itu bisa dianggap sebagai kejahatan perang karena secara sengaja menyerang benda-benda yang dilindungi dan secara sengaja menyerang petugas medis,” katanya.

Tentara Suriah menyangkal serangannya terhadap warga sipil dan mengatakan pasukannya hanya membom militan yang terkait dengan al Qaeda. Namun, laporan ini didasarkan pada investigasi hampir 300 wawancara dan analisis citra satelit, foto, dan video. (*)

Penulis: Hugeng Widodo
Editor:Ahmad Ahyar

Baca Juga