Ironi Pelayanan Kesehatan Indonesia

PPNI Berduka Atas Meninggalnya Perawat Patra Marinna Jauhari

Jakarta, Akuratnews.com - Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) duka mendalam atas meninggalnya Perawat Patra Marinna Jauhari Amd.Kep (31) di Kampung Oya, Distrik Naikere, Kabupaten Teluk Wandoma, Propinsi Papua Barat pada Selasa 18 Juni 2019.

"PPNI berduka cita sedalam dalamnya atas meninggalnya Perawat Patra Marinna Jauhari Amd.Kep," kata Ketua Bidang Infokom PPNI, Rohman Azzam dalam kereangan persnya, Selasa (25/6/2019).

PPNI juga menyampaikan penghargaan dan apresiasi yang tinggi kepada sejawat Patra atas pengabdiannya dalam pelayanan kesehatan bagi masyarakat pedalaman di Papua Barat, "Selamat jalan sejawat kami lanjutkan perjuanganmu," ungkapnya.

Informasi yang PPNI dapat bahwa penyebab kematian sejawat Patra dikarenakan Sakit, ditempat bertugas tinggal seorang diri sebagai tenaga kesehatan dengan keterbatasan logistik dan obat-obatan dan ketiadaan transportasi serta alat komunikasi.

"Yang sangat memperihatinkan, jangankan mengevakuasi saat sedang sakit, untuk evakuasi Jenazah Almarhum sejawat Patra pun, setelah empat hari baru dapat dilaksanakan," paparnya.

Patra, lanjut Rohman, seharusnya sudah selesai bertugas dan akan dijemput menggunakan helikopter, tapi sampai berhari-hari sampai kondisi sakit dan menghebuskan nafas terakhir Patra tidak kunjung dijemput oleh Pemda, yang menurut informasi PPNI setempat instansi Pemda yang menugaskan dan yang mengelola program adalah Dinas Kesejahteraan Rakyat (Kesra) yaitu Program Pelayanan Desa Terpencil.

"Keperihatinan PPNI dan banyak pihak atas kematian Sejawat Patra terbilang tragis, meninggal dalam kesendirian tanpa teman dan keluarga maupun kerabat yang mendampingi," ucap Rohman.

Namun, lanjutnya, pada saat kondisi sakit dan kritis Patra didampingi oleh warga setempat yang mereka menganggap Patra sudah seperti keluarga sendiri, karena selama bertugas Patra sangat diterima warga, bahkan sejak sakit ada perwakilan warga kampung yang pergi ke kota untuk melaporkan kondisi Patra.

"Patra mungkin bisa tertolong jika pihak pemerintah daerah cepat merespon laporannya terkait kondisi Patra dan minta segera di lakukan pertolongan. Namun Patra sudah tiada semoga pengabdian Almarhum menempatkan beliau berada ditempat yang layak disisi Nya, dan peristiwa ini dapat menjadi pelajaran bagi pihak terkait terutama dalam melaksakan pelayanan kepada publik," imbuhnya.

"Satu orang Patra dapat menangani berpuluh bahakan ratusan orang yang memerlukan pelayanan kesehatan, maka jaminan atas kelancaran tugas dan kesejahteraan lahir dan batin perawat perawat yang bertugas seperti Patra harus lebih mendapat perhatian," sambungnya.

Untuk diketahui, Almarhum Patra Marina Jauhari terlahir di Seriti, 18 Januari 1988 terakhir bertugas di Pustu Oya, distrik Naikere, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat. Almarhum adalah PNS Pemda Kabupaten Teluk Wondama sejak 2009. Mulai tahun 2018 mengikuti program Pemda yaitu program Pelayanan Desa Terpencil. Kampung Oya hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki selama 4 hari atau jika menggunakan helikopter yang mana biaya sewanya cukup mahal yaitu 5 juta per jam.

Informasi meninggalnya almarhum diterima di kabupaten Induk hari jumat tanggal 21 Juni 2019, siang hari sekitar pukul 13.30 WIT, namun almarhum dinyatakan sudah meninggal sejak hari selasa tanggal 18 Juni 2019, dikarenakan susahnya transportasi dan komunikasi dari tempat tugas Jenazah baru bisa dibawa ke kabupaten Induk tanggal 22 Juni 2019.

Baca Juga