Perempuan dan Pangan Di masa Pendemi COVID-19

AKURATNEWS.COM- Festival Pangan Jujur yang di selenggarakan oleh Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) dan Pannafoto memasuki hari ke-2.

Selain pameran foto-foto yang berkisah tentang situasi pangan di masa pandemi dan kekinian, Festival Pangan Jujur di hari ke-2 menggelar diskusi dengan titik tekan pada pembahasan nasib perempuan dalam memperoleh pangan baik di perkotaan maupun di pedesaan.

Kegiatan ini dihadirkan di tengah-tengah masyarakat sebagai respon atas ancaman krisis pangan yang mencul saat pandemic COVID-19 dan tentu ancaman tersebut masa tetap mengintai kita jika akar persoalan masih belum dibenahi.

Lili Novi Hasanudin, koordinator program KRKP, menampaikan bahwa persoalan pangan tak lepas dari perempuan, bahkan adanya nasi di piring kita, tak lepas dari peran penting perempuan di pedesaan yang memilah benih padi untuk ditumbuhkan di sawah.

Perempuan juga pihak yang paling sensitive terhadap kenaikan harga pangan semisal dengan adanya kenaikan daging sapi, perempuan punya peran penting dalam memutuskan subtitusi protein hewani ke keluarganya. Namun peran perempuan kerap tidak menjadi perhatian pemerintah.

“Melalui pameran foto dan diskusi di hari ke-2 ini kami ingin mengajak setiap lapiran masyarakat untuk lebih sadar bahwa perempuan punya peran yang mulia dalam menyiapkan pangan di negara ini, sehingga yang berwenang pun juga punya perhatian lebih pada sosok ini” ujar Lili dalam diskusi di festival pangan jujur di Galeri Salihara Jakarta.

Secara global, prevalensi kerawanan pangan perempuan lebih tinggi dari pada laki-laki dan situasi pandemi Covid-19 ternyata memperparah kondisi tersebut.

Khususnya bagi perempuan dari kelompok ekonomi rentan, tidak bekerja, di wilayah perdesaan atau miskin kota, dan/atau difabel kerentanan mereka menjadi semakin berlipat.

"Maka penting agar pemerintah dan kelompok-kelompok yang memiliki perhatian terhadap isu pangan untuk menggunakan lensa feminisme interseksionalitas untuk membaca bahwa dalam kaitannya dengan pangan, pandemi memberikan dampak yang tidak simetris bagi perempuan sehingga membutuhkan respons yang tepat". Papar Abby Gina Boang Manalu dari Jurnal Perempuan.

Bu Ning, pegiat Sekolah Perempuan DKI Jakarta, dalam diksui ini juga menguatkan bahwa kondisi pangan pada perempuan saat pandemic memang tidak mudah.

Apa lagi bagi mereka di perkotaan yang di PHK. Dari kondisi demikian perempuan baik lintas umur maupun lintas wilayah harus kompak untuk bersama-sama mengatasi kondisi pelik.

“Dengan beroganisasi kita mampu berjuang bersama dan saling menguatkan satu sama lain” ujar Bu Ning.

Penulis: Irish
Editor: Redaksi
Photographer: irish

Baca Juga