Perihal Setahun Kepemimpinan Aset, Para Pengamat itu Tolong Survei Dulu di Matim

Jurnalis Akuratnews.com, Yohanes Marto. Koresponden NTT, wilayah liput Manggarai Raya.
Jurnalis Akuratnews.com, Yohanes Marto. Koresponden NTT, wilayah liput Manggarai Raya.

Manggarai Timur, Akuratnews.com - Di tengah upaya pembangunan Kabupaten Manggarai Timur menuju Kabupaten sejahtera, berbudaya dan berdaya saing alias "Matim Seber" sebagaimana Visi yang diusung kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Matim Andreas Agas dan Stefanus Jagur (ASET), kritikan bahkan komentar nyinyir bernada pesimistik terhadap program dan kebijakan kepemimpinan paket ASET mulai datang dari beberapa kalangan dan kelompok kepentingan.

Sebagai salah satu contoh, komentar salah seorang pengamat asal Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang Lasarus Jehamat, termuat di media VoxNtt.com edisi (23/02/2020), yang mengatakan, kepemimpinan ASET berjalan di tempat. Bagi saya komentar pengamat asal Undana itu menarik, terutama beliau adalah seorang akademisi ternama di NTT.

Sebagai sebuah opini publik, wajar jika saya ingin berkomentar terkait kesimpulan pengamatan akademisi dan pengamat sosial politik asal Undana itu. Bahwa menurut saya penilaian beliau yang mengatakan kepemimpinan ASET berjalan di tempat merupakan kesimpulan yang tidak objektif dan bukan peryataan kelas seorang pengamat. Usi satu tahun kepemimpin ASET terlalu dini jika nilai berjalan di tempat.

Termuat di VoxNtt.com (20/02/2020), tidak dibeberkan sejumlah data dan fakta yang menegaskan kepemimpinan ASET berjalan di tempat namun entah apa dasarnya sehingga frasa berjalan di tempat kepemimpinan ASET dalam kesimpulan pandangan politik seorang pengamat Lasarus Jehamat itu muncul.

"Saya tidak tahu persis, tapi dari berbagai bacaan saya, Aset seperti jalan di tempat," ungkapan Lasarus Jehamat yang saya kutip dari VoxNtt.com.

Pernyataan beliau sebagai seorang pengamat itu tidak disertai dengan sejumlah data dan fakta yang menegaskan kepemimpinan ASET berjalan di tempat. Kesannya sangat klise jika dasar argumentasi seorang pengamat hanya berdasarkan "pada berbagai bacaan" seperti yang beliau ungkapan itu. Lagi pula, seorang pengamat profesional dalam melakukan pengamatan hasil bacaan yang diperoleh entah bersumber dari mana, itu hanya bersifat informatif dan perlu diuji oleh seorang pengamat.

Entah apa dasarnya sehingga frasa berjalan di tempat kepemimpinan ASET dalam kesimpulan pandangan politik seorang pengamat Lasarus Jehamat itu muncul.

Merujuk pada Eka Suaib dalam buku Pengantar Ilmu Politik terbitan tahun 2015, menjelaskan bahwa modal terpenting bagi seorang pengamat politik adalah memiliki sikap kritis terhadap wacana sosial politik yang sedang berkembang. Sikap kritis yang dimaksud oleh Eka Suaib tentu bukan sekedar kepekaan sosial terhadap kompleksitas wacana yang berkembang di tengah masyarakat.

Selanjutnya 1 2 3 4
Penulis: Yohanes Marto

Baca Juga