Peringati IDAFLW, GAIN Tingkatkan Kesadaran Kurangi Susut Makanan Bergizi

Jakarta, Akuratnews.com - Pandemi Covid-19 menimbulkan krisis global dan menghasilkan tantangan signifikan yang berisiko terhadap keamanan pangan dan gizi di banyak negara.

Pembatasan sosial berskala besar untuk memutus rantai penularan virus Covid-19 yang diterapkan sejumlah negara, termasuk Indonesia, membuat rantai pasok terganggu akibat pembatasan logistik, transportasi, ditutupnya beberapa pasar, dan pergeseran kebiasaan membeli makanan menyebabkan semakin besarnya susut hasil dan limbah pangan (food loss and waste) bergizi.

Dan dalam rangka peringatan Hari Kesadaran Susut dan Limbah Pangan se-dunia (International Day of Awareness of Food Loss and Waste) pada 29 September 2020 mendatang, Global Alliance for Improved Nutrition (GAIN) Indonesia berupaya untuk meningkatkan kesadaran untuk mengurangi susut dan limbah pangan agar dapat memenuhi kebutuhan gizi masyarakat Indonesia.

Bersama Jejaring Pasca-Panen untuk Indonesia (JP2GI), GAIN mendukung upaya meningkatkan pengetahuan dan pembelajaran tentang susut hasil pascapanen serta upaya pengurangannya untuk perbaikan gizi masyarakat dan menata jalur distribusi dan pasar agar lebih baik, khususnya di bidang perikanan.

Sejak Agustus lalu, JP2GI melakukan serial webinar bulanan rutin untuk meningkatkan kesadaran tentang Susut Paska Panen (Post-Harvest Loss – PHL). Kegiatan ini telah diikuti oleh lebih dari 4.000 pelaku sektor gizi dan perikanan. Rekaman webinar dapat dilihat di YouTube JP2GI Official.

Sebagai organisasi yang bertujuan untuk membantu mengurangi masalah malnutrisi, GAIN bekerjasama pemerintah, pihak swasta dan organisasi masyarakat berupaya memperbaiki sistem pangan agar dapat menyediakan makanan yang lebih bergizi untuk semua orang, terutama masyarakat rentan.

Menurut Ravi Menon, County Director GAIN Indonesia, setiap tahun, hampir sepertiga pangan yang diproduksi atau sekitar 1.3 miliar ton susut dan menjadi limbah (lost and wasted).

Bahkan berdasarkan komoditas, susut dan limbah pangan dari diproduksi hingga dikonsumsi diperkirakan 40 persen untuk buah dan sayur, 30 persen untuk ikan, 30 persen untuk sereal, dan 20 persen untuk biji-bijian, daging, dan produk susu.

"Tahun 2017, kami melakukan studi kasus di Jawa Timur, menggunakan proxy ikan tongkol. Kami memperkirakan susut setelah ikan didaratkan hingga sampai ke konsumen mencapai 25 persen atau 75.000-125.000 ton/tahun. Jumlah ini setara dengan susut nilai gizi ikan sekitar 16.50-27.500 ton protein/tahun, yang dapat memenuhi kebutuhan 2,7— 4,4 juta anak di Indonesia. Jumlah ini sangat besar sementara kita sedang berjuang untuk mengurangi malnutrisi seperti anemia dan stunting di masyarakat," imbuh Ravi.

Ikan merupakan pangan hewani bermutu protein tinggi yang sarat zat-zat gizi kontributor sistem imun tubuh. Untuk itu, sejak tahun 2014, GAIN mendukung Kementerian Kesehatan dan Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia melalui program Indonesia Post-Harvest Loss Alliance for Nutrition (IPLAN) meningkatkan akses terhadap makanan bergizi melalui pengurangan susut dan limbah pangan bergizi.

“Kami mendukung terbentuknya Jejaring Pasca-Panen untuk Gizi Indonesia (JP2GI), berbagi pembelajaran, dan mempromosikan riset, inovasi, dan pengembangan pasar dan produk pangan terkait susut hasil dan limbah pascapanen untuk perbaikan gizi masyarakat Indonesia. GAIN juga terus berupaya mempromosikan pentingnya kolaborasi untuk menurunkan susut hasil dan limbah pangan pascapanen dan mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) 12.3.1 yaitu mengurangi hingga setengah susut dan limbah pangan pada tahun 2030," tambah Rahmi Kasri, Senior Program Manager IPLAN.

Salah satu fokus yang menjadi sasaran adalah UMKM khususnya sektor perikanan. Pada bulan September ini, GAIN bersama JP2GI mengangkat isu susut hasil dan limbah pangan pascapanen dari perspektif penggerak usaha sektor perikanan.

Ketua Umum JP2GI, Dr. Soen’an Hadi Poernomo menyebutkan, dalam masa pandemi Covid-19, UMKM yang bergerak dalam bidang perikanan juga harus terus berinovasi dan berusaha memperkecil susut dan limbah pangan agar dapat berjalan optimal.

Hal ini penting karena selama pandemi, bisnis UMKM yang bersinggungan dengan masalah perikanan amat terasa imbasnya karena kurangnya permintaan, hambatan transportasi, dan keterbatasan gudang berpendingin. GAIN dan JP2GI terus berupaya membantu para pelaku bisnis UMKM di bidang pengolahan ikan untuk berani berinovasi di tengah pandemi.

Setiap tahun, GAIN menyelenggarakan lomba inovasi bisnis untuk mengurangi susut hasil pascapanen perikanan. JP2GI kemudian meneruskan dukungan tersebut.

"Kami berupaya menciptakan ekosistem usaha yang baik agar produk-produk tersebut agar dapat sampai ke masyarakat dengan skala besar dan harga yang terjangkau. Kami memfasilitasi innovator dan UMKM peserta lomba, juga penerima dana hibah JP2GI untuk bekerjasama dengan pihak swasta dan pemerintah. Sebagian produk seperti masalah coldbank, co-fresh, IFIT serealikan, Hokkymie, sudah ada di pasaran. Ini tidak hanya membantu ekonomi para inovator tetapi juga telah membantu upaya menurunkan susut hasil pascapanen perikanan,” jelas Dr. Soen’an.

Senada dengan Dr. Soen’an, Ravi juga melihat pandemi Covid-19 yang tengah terjadi di dunia bahkan menghantam Indonesia membuat perekonomian Indonesia dan dunia terkena imbasnya.

Oleh sebab itu, dirinya berharap bisnis UMKM bisa menjadi salah satu solusi pendapatan masyarakat golongan menengah ke bawah dan solusi bagi penyediaan makanan bergizi untuk masyarakat.

"Dari data total jumlah bisnis UMKM (mencapai sekitar 8 juta-an) di Indonesia, di saat pandemi telah meningkat sekitar 20 persen. Karena itulah pemberdayaan bisnis UMKM akan menjadi pola hidup masyarakat di dalam mendapatkan penghasilan baik sebagai penghasilan tambahan maupun penghasilan tetap. Dan sektor kelautan dan perikanan merupakan bisnis UKM ungulan karena bahan baku dan rantai pasoknya memudahkan pebisnis didalam mengelola perusahaannya. Dan diharapkan kelompok UMKM pengolah produk perikanan juga harus siap memproduksi produk-produk perikanan siap saji (ready to eat) dan siap masak (ready to cook) yang banyak diminati selama pandemi ini dan melakukan inovasi pemasaran, misalnya melalui pemasaran digital. Undangan dari KKP untuk UMKM mendaftarkan diri di platform pemasaran pemerintah harus segera diambil oleh UMKM," pungkas Ravi.

Penulis: Rianz
Editor:Redaksi

Baca Juga