Pertamina Disarankan Mulai Kembangkan Bisnis Bahan Bakar Nabati

Pertamina Disarankan Mulai Kembangkan Bisnis Bahan Bakar Nabati
Pertamina Disarankan Mulai Kembangkan Bisnis Bahan Bakar Nabati

Sebagai BUMN dengan jaringan outlet yang luas secara nasional dan mudah dijangkau masyarakat, kemampuan distribusi Pertamina terbukti dapat diandalkan.

"Selain itu, kehadiran BUMN dalam bisnis minyak sawit dapat mengoreksi pasar minyak sawit yang oligopolistik. Tentunya ini akan mengokohkan pasar minyak sawit yang ada, sehingga masyarakat akan diuntungkan," imbuh politisi PKS Dapil Tangerang Raya ini.

Untuk diketahui, biofuel atau BBN (bahan bakar nabati) dari CPO dikembangkan dengan beberapa tujuan, yakni dalam rangka mereduksi impor BBM, yang berarti menekan defisit transaksi berjalan dari sektor migas, sekaligus menerapkan net zero emission, yakni menghasilkan bahan bakar yang lebih bersih.

Produksi CPO kita pada tahun 2021 sebesar 51,3 juta ton. Untuk ekspor sebesar 34,2 juta ton (66 persen dari produksi). Untuk kebutuhan pasar domestik sebesar 17,8 juta ton (34 persen dari produksi).

Untuk kebutuhan domestik sendiri terdiri dari minyak goreng, industri dan biodiesel masing-masing sebesar 9,3 juta ton (52 persen dari konsumsi), 2.0 juta ton (11 persen dari konsumsi) dan 6,6 juta ton (37 persen dari konsumsi).

Pada tahun 2022, Pemerintah menaikan alokasi biofuel menjadi sebesar 10,15 juta kiloliter.

Angka ini naik dari alokasi tahun 2021 yang berada di posisi 9,4 juta kiloliter.

Kapasitas terpasang produksi biodiesel saat ini sebesar 14,5 juta kiloliter, yang disiapkan oleh swasta besar.

Perkiraan dana pembiayaan (subsidi) biofuel dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) tahun 2022 sebesar Rp35,41 triliun. Program biofuel ini telah berjalan sejak 1 Januari 2020.***

Selanjutnya 1 2
Penulis: Wahyu Wicaksono
Editor: Ahyar

Baca Juga