Pertanian Indonesia Sebelum Revolusi Hijau

Opini, Akuratnews.com - Berbicara persoalan pertanian tidak lepas dari persoalan lingkungan hidup, keduanya saling berkaitan erat dalam kehidupan manusia dua hal yang tidak bisa dipisahkan dan saling berhubungan sebagai faktor penentu kehidupan manusia,karena ketika kita berbicara pertanian berarti kita sedang membicarakan kondisi lingkungan sebagai faktor pendukung menentukan tanaman – tanaman apa saja yang dapat tumbuh dengan hasil yang baik menyesuaikan diri pada unsur tanah dan butuh waktu berapa lama bisa dinikmati hasilnya.

Indonesia sebelum masuknya revolusi hijau yang dijalankan oleh pemerintahan Orde Baru Suharto, petani lebih mengandalkan pada gejala alam dalam bercocok tanam menggarap tanah – tanahnya dengan cara – cara tradisional, menggunakan tenaga binatang seperti sapi dan kerbau dan perkakas sederhana parang, cangkul dan garuk  sebagai alat produksi mengolah tanah untuk ditanami jenis tumbuh – tumbuhan konsumsi, membuat saluran – saluran air secara alami dari aliran – aliran mata air terdekat, terutama didaerah – daerah pinggiran hutan dan pegunungan air pasti berlimpah untuk dijadikan sumber kehidupan masyarakat.

Belajar dari pengalaman masa kecil menyaksikan pola pertanian didaerah sekitar tempat tinggal, di Cipanas Kabupaten Cianjur di tahun 1990 –an kebelakang sebelum masuk modal – modal pengembang masuk merubahnya menjadi kawasan Jasa Pariwisata, dimana sawah – sawah masih menghampar luas dan areal – areal perkebunan sayur – mayur dan bunga – bunga hiasan  milik masyarakat,menjadi komoditas utama mata – pencarian masyarakat Cipanas – Puncak untuk dijadikan oleh – oleh pengunjung wisatawan ke Kebun Raya Cibodas yang selalu membludak setiap liburan sabtu – minggu dan hari – hari besar lainnya.

Daerah Cipanas – Puncak dibidang pertanian dikenal sebagai pemasok sayur – sayuran kewilayah Ibukota Jakarta dan sekitarnya, bahkan menjadi komoditas ekspor ke negara – negara Asia – Tenggara seperi Brunei,Singapura dan Malaysia, karena letaknya dibawah Gunung Gede dan Gunung Pangrango dua gunung berapi yang katanya masih aktif, potensi  meletus kapan saja bisa terjadi.

Situasi dan kondisi diatas tadi menjadi faktor pendukung   bagi kesuburan tanah di daerah Cipanas – Puncak  untuk menjadi lahan persawahan dan areal perkebunan   sayur – mayur dan bunga – bunga hiasan tanpa harus mengandalkan pupuk – pupuk jenis kimia dan pestisida untuk mempercepat pertumbuhan tanaman.

Para petani di daerah Cipanas dan Puncak mengarap lahan tanah – tanah pertanian secara  turun – temurun warisan dari nenek – moyang, belajar secara otodidak dalam pengolahan  tanah dengan mengandalkan gejala – gejala alam, melihat pergantian musim antara musim hujan dan musim  kemarau tanaman apa yang cocok ditanam dengan hasil yang bagus, tidak takut diganggu hama binatang bisa diatasi oleh binatang – binatang pemangsa lainnya, malah membantu tanaman tumbuh cepat diluar perkiraan pada waktu menebarkan  benih,  dibantu oleh   kotoran – kotoran yang ditinggalkan binatang – binatang tersebut.

Namun, Cara budidaya pertanian tradisional pola bercocok – tanam yang diajarkan Buyut – Moyang secara turun – temurun disampaikan dari mulut kemulut bukan buku panduan secara tertulis petani di daerah Cipanas – Puncak berubah drastis, setelah masuknya Revolusi Hijau ke Indonesia  yang dibawa oleh pemerintah Orde Baru Suharto antara tahun 1984 – 1989, ditinggalkan begitu saja pola pertanian tradisional yang sudah dijalankan berabad - abad lamanya, karena mendapat tekanan keras menerima anjuran pemerintah Rezim Orde baru Suharto menggunakan sistem Pertanian Modern dengan Tehknologi - tehknologi pertanian terbarukan yang diusung oleh sistem Revolusi Hijau tersebut.

Revolusi Hijau  dijalankan di Indonesia untuk  memenuhi ambisi Orde baru Suharto dengan Gerakan Swasembada pangannya  di bidang  pertanian ingin melalui Revolusi Hijau para petani di intervensi memaksa meninggalkan pola – pola lama yang dianggap ketinggalan zaman, menggunakan cara – cara baru dibidang pertanian melakukan budidaya tanaman dengan tehknologi terbarukan untuk meningkatkan dan mempercepat hasil  produksi dalam pengadaan pangan nasional dan pengadaan ekspor pangan keluar negeri.

Sebagaimana kita ketahui Gerakan Swasembada pangan yang dijalankan pemerintahan  Rezim Orde Suharto gagal mengejar targetan tersebut, justru menimbulkan kerugian besar terhadap para petani Indonesia, membuat petani pesismis mengarap tanah – tanahnya tidak bisa membuahkan hasil yang menguntungkan bagi kesejahteraan hidup petani, disebabkan dampak dari Revolusi Hijau tersebut telah membawa dampak buruk bagi kehidupan petani di Indonesia dan menjadi salah satu penyebab kesuburan tanah berkurang dan kerusakan lingkungan.

Inilah fakta sejarah hancurnya bidang  pertanian di Indonesia dan salah satu faktor yang menjadi penyebab kerusakan lingkungan di Indonesia, akibat sistem pertanian yang tidak ramah lingkungan dan tidak cocok dengan budaya masyarakat petani Indonesia yang selalu menyesuaikan diri dengan kondisi alam dan pergantian musim sebagai patokan mengolah tanah – tanah pertanian bukan dengan mengandalkan tehknologi canggih atau modern seperti sistem pertanian Revolusi Hijau yang dijalankan oleh pemerintah Rezim Orde Baru Suharto.

Wajar, jika Revolusi Hijau yang diprakarsai oleh Ford Foundation  dan Rockefeller Foundation perusahaan raksasa kapitalis terbesar di dunia itu, mendapatkan kritik – kritik pedas dan penolakan dari aktivis – aktivis Agraria dan Lingkungan Hidup, karena telah menciptakan kesenjangan sosial ekonomi, budaya dan dampak kerusakan lingkungan hidup yang menjadi kepentingan negara – negara industri maju melakukan monopoli industri pertanian negara – negara sedang bekermbang penghasil pangan seperti Indonesia, India, Bangladesh, Tiongkok,Vietnam,Thailand dan Vietnam yang sudah dijalankan berpuluh – puluh tahun yang lalu.

Penulis Oleh: Wendy Hartono
Ketua KPW -  STN Jawa Barat

Penulis:

Baca Juga