Berpotensi Ciptakan Krisis 1997-1998

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Diprediksi Hanya 4,5 Persen

Jakarta, Akuratnews.com - Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Rizal Ramli memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini dikisaran angka 4,5 persen.

Jika merunut data Biro Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan Indonesia kuartal II hanya 5,05 persen dan disebabkan faktor ekonomi makro yang terus menurun dalam beberapa waktu terakhir.

"Kami ingin mengatakan bahwa tahun ini ekonomi Indonesia makin nyungsep, pertumbuhan ekonominya paling hanya 4,5 persen," kata Rizal yang juga mantan Menteri Keuangan era Presiden Abdurahman Wahid ini di Jakarta, Senin (12/8).

Adapun faktor ekonomi makro yang terus menurun seperti current account defisit (CAD) merosot ke US$ 8 miliar.

Menurut Rizal, hal ini harus menjadi perhatian pemerintah. Jangan sampai kondisi ini membuat Indonesia harus mengalami krisis seperti 1997 dan 1998.

"Indikator makro menunjukkan makin merosot. Grafik CAD makin merosot sampai terakhir US$ 8 miliar. PDB juga meningkat lumayan besar dan ini membahayakan. Dulu juga terjadi 1998 kayak gini," ujarnya

Rizal menambahkan, apa yang dia sampaikan bertujuan mengingatkan kepada pemerintah untuk mengantisipasi.

Namun menurutnya, pemerintah selalu membantah dan menyebut kondisi perekonomian Indonesia masih baik.

"Seperti biasa, pejabat kita kepedean. Sibuk bantah-bantah, bukan malah mencari solusi," tandasnya.

Rizal menambahkan, pemerintah ke depan harus memperbaiki seluruh komponen ekonomi makro agar pertumbuhan semakin besar. Selain itu, dia juga meminta pemerintah tidak menjadikan ekonomi sebagai proyek untuk kepentingannya sendiri.

"Saya ingin mengatakan bahwa ekonomi bukan proyek. Mohon maaf, bukan hanya itu, tapi indikator lain juga seperti daya beli, pekerjaan dan macam-macam. Kalau hanya proyek bisa jebol nanti," ucap Rizal.

Selanjutnya Rizal juga membandingkan neraca dagang Indonesia yang mengalami defisit. Situasi ini dinilai terbalik oleh mantan nenteri era Presiden Gus Dur.

Menurutnya, negara ASEAN lain mengalami surplus seperti Myanmar dan Thailand.

"Diprediksi padahal ini semua bisa diperkirakan," ucap Rizal.

Sebelumnya, BPS mencatat pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2019 sebesar 5,05 persen secara year on year. Sedangkan pertumbuhan ekonomi triwulan II terhadap triwulan I 2019 terhitung sebesar 4,2 persen.

"Dengan demikian, secara kumulatif pertumbuhan ekonomi adalah 5,06 persen,” ujar Kepala BPS; Suhariyanto, Senin (5/8).

Penulis: Rianz
Editor: Redaksi

Baca Juga