Pesawat Tak Berawak Serang Fasilitas Minyak Arab Saudi

Harga Minyak dunia menanti perkembangan ekonomi China. (Foto Istimewa).
Harga Minyak dunia menanti perkembangan ekonomi China. (Foto Istimewa).

Jakarta, Akuratnews.com - Arab Saudi menyatakan pesawat tak berawak menabrak dua stasiun pompa minyak pada hari Selasa (14/5/2019), dua hari setelah sabotase kapal tanker minyak di dekat Uni Emirat Arab.

Sementara itu, militer AS mengatakan pihaknya bersiap untuk kemungkinan ancaman yang akan segera terjadi pada pasukan AS di Irak dari pasukan yang didukung oleh Iran.

Dilansir Reuters, serangan tersebut terjadi dengan latar belakang ketegangan AS-Iran menyusul keputusan Washington bulan ini untuk mengurangi ekspor minyak Iran menjadi nol dan meningkatkan kehadiran militernya di Teluk dalam menanggapi ancaman Iran.

Serangan hari Selasa di stasiun pompa lebih yang terletak lebih dari 320 km barat Riyadh dan hari Minggu di empat kapal tanker di pelabuhan Fujairah telah menimbulkan kekhawatiran bahwa AS dan Iran mungkin menuju konflik militer.

Namun, Presiden AS Donald Trump membantah laporan New York Times bahwa para pejabat AS sedang mendiskusikan rencana militer untuk mengirim 120.000 pasukan ke Timur Tengah demi menghadapi serangan atau akselerasi pengembangan senjata nuklir oleh Iran.

"Ini berita palsu, ok? Sekarang, akankah saya melakukan hal itu? Tentu saja. Tapi kita belum merencanakan untuk itu. Mudah-mudahan kita tidak harus merencanakannya. Dan jika kita melakukannya, kita akan mengirim jauh lebih banyak pasukan dari itu," kata Trump kepada wartawan, seperti dikutip Reuters.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengatakan tidak akan ada perang dengan AS meskipun ada peningkatan ketegangan atas kemampuan nuklir Iran, program misilnya, dan dukungannya untuk proksi di Yaman, Irak, Suriah dan Lebanon.

"Tidak akan ada perang. Negara Iran telah memilih jalur perlawanan," katanya dalam komentar di TV pemerintah Iran.

Khomeini menekankan bahwa Teheran tidak akan bernegosiasi dengan Washington mengenai kesepakatan nuklir Iran tahun 2015 dengan negara-negara besar.

Militer AS mengutip kemungkinan ancaman yang akan segera terjadi terhadap pasukannya di Irak dan mengatakan mereka sekarang dalam keadaan siaga tinggi. AS menanggapi komentar dari wakil komandan Inggris dari koalisi yang dipimpin AS untuk melawan sisa-sisa ISIS di Irak dan Suriah yang mengatakan tidak ada peningkatan ancaman dari milisi yang didukung Iran.

“Komentar tersebut bertentangan dengan ancaman yang diidentifikasi untuk intelijen dari AS dan sekutu mengenai pasukan yang didukung Iran di kawasan itu," kata Kapten Angkatan Laut Bill Urban, juru bicara Komando Pusat militer AS.

Trump menarik AS dari perjanjian nuklir Iran setahun yang lalu dan telah meningkatkan sanksi ekonomi terhadap Iran sejak saat itu.

Di bawah perjanjian yang dinegosiasikan oleh Barack Obama, Iran sepakat untuk mengekang kapasitas pengayaan uraniumnya, jalur potensial untuk bom nuklir, sebagai imbalan atas keringanan sanksi.

Houthi Klaim Serangan

Masirah TV yang dikelola Houthi sebelumnya mengatakan kelompok itu telah melakukan serangan pesawat tak berawak pada instalasi vital Saudi dalam menanggapi "agresi dan blokade yang berkelanjutan" di Yaman.

Koalisi yang dipimpin Saudi telah berperang melawan geriliyawan Houthi selama empat tahun di Yaman untuk mencoba memulihkan pemerintah yang diakui secara internasional dalam konflik yang secara luas dipandang sebagai perang proksi Saudi-Iran.

Pasukan Houthi telah menghantam kota-kota Saudi dengan drone dan rudal, tetapi dua sumber Saudi mengatakan kepada Reuters bahwa ini adalah pertama kalinya fasilitas Aramco yang dikelola pemerintah diserang.

Penulis:

Baca Juga