Opini

Pinjaman Online, Riba Yang Melebihi Jaman Jahiliyah

Oleh: M Cholil Nafis
Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat

Baru saja saya kedatangan tamu yang terlilit oleh riba pinjaman online (pinjol). Ia bercerita, pada awalnya hanya meminjam Rp500 ribu untuk keperluan rumah tangganya karena terbatasnya penghasilan. Tak sampai lima menit dana itu telah cair seusai melampirkan KTP.

Namun setelah sebulan jatuh tempo, ia harus membayar pinjaman itu Rp700 ribu. Maka ia meminjam ke pinjol lainnya Rp1 juta.

Masih ada sisa sehingga ia bisa menggunakan lebihnya bayar hutang untuk keperluan lainnya. Namun saat jatuh tempo bulan berikutnya, ia harus membayar Rp1.245 ribu. Itu pun termasuk yang bunganya rendah.

Di sebagian pinjol itu bunganya 50 persen per bulan. Tapi sebagian masyarakat menelannya karena terdesak kebutuhannya.

Inilah riba yang melebihi jahiliyah. Rentenir digital yang wujudnya ada tapi tak tampak orangnya di mata.

Kalau di jaman jahiliyah, bunga itu ditentukan setelah jatuh tempo, maka jaman digital ini sudah ada jumlah ribanya sebelum uang itu dipinjam. Jahilyah modern ini lebih dahsyat dan digital.

Beberapa korban terjadi karena pinjaman online, bahkan sampai ada yang bunuh diri setelah jatuh tempo tak bisa bayar lalu dipermalukan di media online.

Karenanya, sebaikanya hal ini disikapi oleh pemerintah. Bahwa seluruh aplikasi pinjol itu ditutup. Korban ekonomi dan korban jiwa sudah banyak buktinya.

Penulis:
Editor: Redaksi

Baca Juga