PKS Dinilai Punya Potensi Menjadi Partai Politik yang Berjaya di Indonesia

PKS
PKS

Jakarta, Akuratnews.com - Keintiman yang ditunjukkan partai politik (parpol) kepada masyarakat menjadi hal jamak dan lumrah kala mendekati Pemilihan Umum (Pemilu) untuk mengumbar janji dan tidak jarang memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat. Namun ketika pemilu usai dan saat masyarakat membutuhkan, kebanyakan parpol yang notabene menjadi garda terdepan aspirasi rakyat, sama sekali tidak terlihat.

Hal yang kita kenal dengan pragmatisme politik menjadi repetisi musiman kala genderang kampanye jelang pemilu bergulir. Ward Berenschot dalam bukunya yang berjudul “Democracy For Sale; Elections, Clientelism and The State In Indonesia”, menyoroti maraknya politik uang pada pemilu di Indonesia. Menurutnya fenomena itu cenderung naik ke tingkat ketataran yang lebih tinggi, yakni menjadi sebuah sistem yang ia sebut sistem politik transaksional.

Berkorelasi dengan politik transaksional, Firman Noor dalam jurnalnya, “Mencermati Kampanye Pileg 2009: Gradasi Peran Partai dan Gejala Pragmatisme”, menyatakan bahwa kampanye dipandang sebagai sebuah ajang pertukaran keuntungan yang bersifat praktis dan perolehan suara dipandang sebagai sebuah konsekuensi dari sejumlah pengeluaran atau harga.

Penjelasan secara ilmiah dari gejala politik di Indonesia tersebut menggambarkan apa yang rakyat benar-benar alami dan rasakan di lapangan. Terlebih ketika rakyat mengalami situasi sulit seperti bencana maupun krisis. Pada titik itu, sangat jarang parpol, atau paling tidak kader-kadernya yang telah terpilih oleh rakyat, hadir membantu atau sekedar memberikan afeksi dan semangat bagi masyarakat terdampak langsung di lapangan.

Janji parpol yang penuh semangat perubahan yang lebih baik ataupun bantuan yang diberikan jelang kontestasi, seakan menjelma menjadi tipuan belaka ketika datang masanya masyarakat benar-benar berada dalam keadaan sulit dan membutuhkan uluran tangan. Hal inilah yang kemudian menciptakan kesan pragmatisme dalam politik.

Mungkin tidak semua demikian, namun faktanya hanya sedikit parpol yang secara konsisten bergerak cepat terjun ke lapangan ketika masyarakat sedang berada dalam keadaan sulit seperti bencana alam yang sering terjadi di Indonesia. Hal itu tentu menjadi nilai lebih tersendiri di mata masyarakat ketika kebanyakan tokoh dan pejabat justru disibukkan diskusi dan perdebatan yang memakan waktu, alih-alih ikut membantu penanganan situasi tersebut.

Berdasarkan riwayatnya dan tanpa tendensi tertentu, di Indonesia sendiri terdapat parpol yang dinilai seolah menjadi anomali tersendiri di tengah hiruk pikuk pragmatisme dunia politik. Adalah PKS, atau Partai Keadilan Sejahtera, yang baru-baru ini menorehkan impresi cukup baik kala menjadi parpol pertama yang memberikan kontribusi nyata dengan menyalurkan bantuan Alat Pelindung Diri (APD) untuk tenaga medis melalui Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Pusat di Jakarta pada 26 Maret lalu.

Selain itu, PKS juga kerap mengambil peran sebagai parpol terdepan dan pertama dalam beberapa bencana yang terjadi di Indonesia melalui pengiriman relawan serta pendirian posko-posko darurat yang manfaatnya cepat dirasakan dan membantu masyarakat di saat-saat kritis. Seperti misalnya yang telah dilakukan pada saat gempa Lebak, tsunami Selat Sunda, gempa dan tsunami Palu-Donggala, gempa Lombok, hingga banjir dan longsor di beberapa daerah di Indonesia.

Lalu, dengan fakta demikian, apakah sudah saatnya bagi PKS untuk dapat lebih diperhitungkan sebagai partai dengan kredibilitas riil yang tinggi dalam persaingannya menuju 2024?

Selanjutnya 1 2 3
Penulis: Redaksi

Baca Juga