PLN Putus Kontrak Pembangkit Listrik CNKO

Ilustrasi PLN

Jakarta, Akuratnews.com - PT PLN (Persero) telah memutuskan kontrak perjanjian jual beli atau Power Purchase Agreement (PPA) proyek PLTU Tembilahan dan Rengat yang digarap PT Eksploitasi Energi Indonesia Tbk (CNKO).

Demikian disampaikan Wim Andrian, Sekretaris Perusahaan CNKO seperti dikutip dalam keterbukaan informasi di Jakarta, Sabtu (28/1/17).

Ia mengatakan, perseroan telah berupaya mengambil langkah-langkah guna menyelesaikan permasalahan dalam mempertahankan kontrak yang telah disepakati, tidak mampu meyakinkan PLN untuk memberikan kelanjutan kontrak tersebut.

Pemberitahuan pemutusan kontrak (termination notice) sebagai Independent Power Producer (IPP) PLTU Rengat di Riau disampaikan PLN melalui surat tertangggal 4 Januari 2016 kepada PT Exploitasi Energi Indonesia Tbk. Hal ini juga sudah dilaporkan CNKO dalam laporan keuangan per Juni 2016.

Tertulis dalam laporan tersebut, pemutusan kontrak sebagai seller karena tidak dapat mencapai tanggal operasi komersial PLTU Rengat pada waktu 180 hari setelah tanggal required COD atau Commercial Operating Date yang jatuh pada tanggal 30 Oktober 2015.

Sementara, untuk PLTU Tembilahan yang juga berlokasi di Riau diputus kontraknya berdasarkan surat PLN kepada manajemen CNKO pada tanggal 28 Desember 2016..

Sebelumnya, pada Februari 2015, manajemen CNKO menyampaikan penjelasan atas pertanyaan bursa terkait kelanjutan dari proyek ini.

Dalam klarifikasinya kepada BEI, manajemen CNKO mengatakan bahwa sejak Agustus 2014 perkembangan dari pembangunan PLTU di Rengat dan Tembilahan tidak mengalami kemajuan dan dihentikan dihentikan pembangunannya.

Kendala yang dihadapi perusahaan dalam menyelesaikan pembangunan ini adalah nilai dari investasi untuk menyelesaikan kedua proyek tersebut yang semakin meningkat. Sehingga, cost of run dari pembiayaan proyek ini menjadi semakin besar.

Sampai Agustus 2015, CNKO telah mengeluarkan biaya Rp 62,63 miliar untuk PLTU Rengat dan masih butuh dana Rp 104 miliar sampai selesai pembangunan. Sedangkan, PLTU Tembilahan telah menghabiskan biaya Rp 144,7 miliar dan masih butuh Rp 50,6 miliar untuk tahap penyelesaian.

Dana yang telah dialokasikan untuk membangun dua proyek tersebut diperoleh sebagian dari pinjaman yang diberikan oleh PT Bank Rakyat Indonesia Tbk.

Kreditur kemudian menunda mengucurkan pinjaman berikutnya sambil memastikan bahwa perseroan dapat mengembalikan pinjaman tersebut. (Syarif)

Penulis:

Baca Juga