Polda Metro Jaya Tangkap 6 Pelaku Eksploitasi Anak Dibawah Umur

Jakarta, Akuratnews.com - Subdit 5 Renakta Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya berhasil mengamankan 6 orang pelaku kasus eksploitasi anak di bawah umur untuk kebutuhan seks para hidung belang di Daerah penjaringan Rawa bebek Jakarta Utara.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri Yunus mengatakan, ke enam pelaku yang diamankan memiliki peran yang berbeda-beda. R sebagai pemilik cafe dan T yang berperan memaksa anak-anak untuk melayani pria hidung belang yang berkunjung ke cafe.

"Tersangka D dan T yang bertugas mencari anak-anak dibawah umur untuk di jual ke mami pemilik cafe dengan harga 750 ribu hingga 1.5 juta. Kemudian tersangka lain adalah E dan A yang bekerja di cafe sebagai cleaning servis, keenam pelaku ini sudah diamankan di Polda Metro Jaya" ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri Yunus, Selasa (21/1/2020).

Yusri melanjutkan, si mami memaksa anak itu untuk menemani minum sampai dengan berhubungan badan, bayarannya Rp 150.000. Si anak dibayar Rp 60.000, sisanya untuk mami. "Mereka dibayarnya akhir bulan. Kalau anak itu nanti mau keluar dari area kafe harus tebus dengan uang 1,5 juta, ini peraturan dari mami. Handphone-nya disita, tidak ada komunikasi dengan dunia luar" kata Yusri.

Ditempat yang sama, Kabag Bin Opsnal Dit Reskrimum Polda Metro Jaya AKBP Pujiyarto mengatakan, yang menjadi perhatian pihak kepolisian para pelaku dalam menjalani aksinya sangatlah sadis di karenakan setiap korban perdagangan anak di paksa harus melayani pria hidung belang sebanyak 10 kali sehari.

"Bila tidak mencapai 10 kali anak -anak tersebut akan di kenakan denda." Kata AKBP Pujiyarto.

Pujiyarto melanjutkan, selain itu anak-anak yang dijual oleh para pelaku tersebut tidak mendapat pemeriksaan secara berkala di rumah sakit.

"Hal itu tentunya berbahaya karena anak-anak tersebut bisa saja tertular penyakit kelamin dan lain sebagainya." terangnya.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Ai Maryati ditempat yang sama mengungkapkan, kasus ini merupakan sebuah perbudakan di dunia modern.

"Kita lihat ada serangkaian kekerasan yang biadab. Ini harus dicegah, anak harus diselamatkan," katanya.

Pihaknya, mengapresiasi kinerja Subdit Renakta Ditreskrimum Polda Metro Jaya dalam mengungkap kasus ini. Harus ada efek jera kepada pelaku agar kasus ini tidak terulang, karena ini merupakan kejahatan serius. "Saya merekomendasikan proses hukum yang serius untuk efek jera yang kita optimalkan," tandasnya.

Sementara untuk korban, kata Maryati, pihak terkait seperti dari Kemensos dan UPT P2TP2A DKI Jakarta, telah berkomitmen melakukan pendampingan pada korban. Sampai korban pulih secara kesehatan dan trauma psikologinya hilang

"Karena ini kejahatan serius KPAI juga meminta kepada pihak kepolisian menerapkan UU Perlindungan Anak tapi juga UU Tindak Pidana Perdagangan Orang terhadap para pelaku. Untuk menjadi bagian tegaknya hukum, di dalam memberantas kejahatan tersebut " Pungkasnya

Dari hasil penangkapan tersebut, Polisi menyita puluhan kondom, sejumlah telepon genggam, Kartu Tanda Penduduk, buku absen, daftar tamu, uang tunai, dan kartu ATM dalam pengungkapan kasus itu.

Akibat perbuatannya, para tersangka dijerat Pasal 76I Jo Pasal 88 dan atau Pasal 76F Jo Pasal 83 UU RI No. 35 Tahun 2014 terkait perubahan atas UU RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dan atau Pasal 296
KUHP dan atau Pasal 506 KUHP, dengan ancaman pidana 10 tahun penjara.

Penulis: Edi Suroso

Baca Juga