Opini

Polemik Kebijakan Anak Kembali Sekolah

Ilustrasi Hari Pertama Masuk Sekolah

Akuratnews.com - Skenario penerapan pola hidup baru atau tatanan normal baru (new normal) bagi lembaga pendidikan masih menjadi polemik yang terus diperbincangkan. Hal ini dikarenakan, belum kondusifnya situasi di Indonesia bagi kesehatan anak, di tengah pandemi Covid-19. Penerapan new normal di sekolah harus dilakukan dengan persiapan matang. Untuk memastikan agar sekolah aman dari penyebaran Covid-19 bukan malah menjadi klaster baru penyebaran virus tersebut.

Belum Saatnya Membuka Sekolah

Keputusan pembukaan sekolah tak bisa diambil sembarangan. Perlu pengkajian serius bekerja sama dengan para ahli seperti dokter, ilmuwan, komunitas guru, pakar epidemiologi, dan lainnya. Setidaknya ada beberapa alasan mengapa anak lebih baik tetap belajar di rumah selama pandemi Covid-19. Pertama, anak-anak dan remaja memiliki risiko lebih besar untuk mengalami komplikasi dan kondisi yang parah jika terpapar Covid-19. Hal ini berkebalikan dengan beberapa studi sebelumnya, yang menyebutkan bahwa anak-anak adalah golongan yang paling tidak rentan terkena virus corona.

Penelitian ini dilakukan oleh sekelompok ilmuwan di Rutgers University, New Jersey, dan telah dipublikasikan dalam jurnal JAMA Pediatrics. Menurut peneliti Lawrence C Kleinman, profesor sekaligus Wakil Kepala Pengembangan Akademis dan Kepala Divisi Pediatrik Kesehatan Masyarakat, Rutgers Robert Wood Johnson Medical School, mengatakan bahwa tidak benar Covid-19 lebih sedikit menyerang orang muda, anak-anak rentan mengalami keparahan penyakit terutama apabila memiliki kondisi kronis bawaan, termasuk obesitas. Akan tetapi anak-anak yang tidak memiliki penyakit kronis juga rentan terinfeksi Covid-19. Sehingga orang tua harus benar-benar waspada (kontan.co.id, 13/5/2020).

Kedua, angka kematian anak akibat Covid-19 di Indonesia cukup tinggi dibandingkan negara lainnya. Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Aman Pulungan kepada VOA mengatakan, tingkat kematian anak akibat virus ini di Tanah Air, merupakan yang tertinggi dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. Berdasarkan data yang diperolehnya hingga 18 Mei lalu, jumlah anak yang positif Covid-19 di Indonesia mencapai 584 kasus. Sementara untuk jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) anak tercatat kurang lebih 3.400. Jumlah kasus konfirmasi positif anak yang meninggal sejauh ini mencapai 14 anak. Adapun PDP anak yang meninggal sebanyak 129 (voaindonesia.com, 29/5/2020).

Ketiga, belajar dari negara lain yang sudah mulai membuka sekolah ternyata muncul kembali kasus baru positif Covid-19. Korea Selatan kembali menutup lebih dari 200 sekolah, hanya beberapa hari setelah mulai dibuka. Penutupan itu dilakukan setelah munculnya kembali puluhan kasus baru di negara tersebut. Dikutip dari BBC, ribuan siswa di Korea Selatan pada Rabu (27/5/2020) mulai masuk kembali saat negara itu melonggarkan pembatasan sekolah. Namun, aktivitas belajar mengajar tersebut tak berlangsung lama karena sehari kemudian dikonfirmasi ada 79 kasus baru yang dilaporkan. Jumlah 79 kasus dalam sehari tersebut termasuk yang tertinggi di Korsel dalam dua bulan terakhir (kompas.com, 30/5/2020).

Keempat, keterbatasan fasilitas yang dimiliki sekolah. Masih banyak sekolah yang belum bisa memenuhi standar protokol kesehatan seperti penyediaan fasilitas cuci tangan, penyediaan sumber air bersih, hand sanitizer di tiap ruangan, penyediaan sabun cuci tangan, penyediaan masker untuk semua warga sekolah, penyediaan APD di UKS/klinik sekolah, dan lain sebagainya.

Dengan melihat alasan-alasan dari berbagai para ahli tersebut seyogianya menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah dalam memutuskan kebijakan membuka sekolah atau tidak. Jangan sampai mengambil kebijakan yang nyata tidak memperhatikan keselamatan rakyat. Pengabaian terhadap aspirasi serta masukan para ahli maupun masyarakat merupakan tabiat dari sistem kapitalisme-demokrasi. Sistem yang hanya mengedepankan untung rugi, yang menempatkan negara sebagai regulator semata bukan penanggung jawab, pengayom, dan pelayan rakyat. Pemimpin dalam demokrasi hanya berfungsi sebagai lembaga eksekutif yang menjalankan amanat rakyat. Namun dalam praktiknya, yang disebut rakyat tersebut hanyalah sebatas pada para pemilik modal dan kekuatan.Tak heran jika kemudian pemimpin hanya berfungsi sebagai fasilitator, yakni memberikan fasilitas bagi orang-orang bermodal untuk menguasai negara.

Islam Solusi Setiap Permasalahan

Berbeda sekali dengan sistem Islam. Islam adalah agama yang paripurna, mengatur seluruh aspek kehidupan termasuk di dalamnya masalah kepemimpinan negara.

Dalam Islam pemimpin memiliki dua fungsi utama. Pertama sebagai raa’in (pengurus rakyat) sebagaimana dalam hadits Rasulullah saw bersabda, "Imam/pemimpin adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya." (HR al-Bukhari)

Kedua, sebagai junnah (perisai/pelindung) sebagaimana dalam hadits Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya al-Imam/pemimpin itu junnah (perisai),  di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll)

Pemimpin adalah pengurus dan pelindung yang diberikan wewenang untuk mengurus kemaslahatan rakyat, yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Swt. kelak pada hari kiamat, apakah mereka telah mengurus rakyatnya dengan baik atau tidak.

Dengan demikian, kebijakan yang diambil adalah kebijakan yang selalu mementingkan rakyat. Sehingga dengan melihat alasan-alasan yang dipaparkan oleh para ahli, tentunya tidak akan mungkin mengambil kebijakan membuka sekolah di tengah masih meningkatnya penyebaran Covid-19. Jika kebijakan ini dipaksakan, justru akan menimbulkan dampak permasalahan baru yaitu hilangnya generasi muda. Islam memandang nyawa seorang mukmin amat sangat berharga bahkan lebih berharga dari dunia sekalipun. Rasululullah saw bersabda, “Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibanding terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai, Tirmidzi).

Hanya dengan berlandaskan pada aturan Islam, aturan yang datang dari Allah Sang Pencipta manusia, maka segala permasalahan akan dapat diatasi tanpa menimbulkan permasalahan lain. Wallahu’alam bisshawab.

*Penulis adalah: Anggota Komunitas Aktif Menulis, Bogor

Penulis: Nurul Aqidah

Baca Juga