oleh

Politik Tempe ala Sandiaga Uno

Opini, Akuratnews.com – Saat ini politik tempe dan tahu yang dimainkan oleh kontestan presiden dan wakil presiden.

Menurut saya sah-sah saja mengecek harga kebutuhan pokok tapi bukan hanya itu. Semua aspirasi di tampung dan ini menjadi bahan atau materi bukan untuk di obral. Coba mental tempe diganti dengan burger atau pizza akan lebih bonafit dan benefit.

Saya amati ini hanyalah bagian campaign strategies (strategi kampanye) politik dari kubu Prabowo-Sandiaga untuk attacking (menyerang) lawan politiknya tak lain adalah sang petahana Jokowi.

Mengedepankan politik santun makan pentingnya sebuah data, jangan hanya main serang atau politik hantam kromo.

Memang tak mudah menjadi pemimpin di Indonesia. Banyak yang perlu diurus Jokowi. Apalagi, ada rentetan bencana mulai dari Bencana Alam di NTB, tsunami dan gempa di Sulteng belum lagi kecelakaan Lion Air. Kalau masalah harga harus menterinya harus pro aktif jangan reaktif.

Dibeberapa pasar harganya tetap stabil kecuali ada sentimen pasar dan dari pedagang yang nakal. Contoh beras premium dan medium.

Terkadang pedagang menahan yang medium sedangkan beras yang dilepas ialah premium.

Sejauh harganya normal saja. Contoh : beras/Kilogram- Premium Rp11.000 Rp11.000- Medium Rp10.000 Rp10.000-
Termurah Rp9.000 Rp9.000 Gula Pasir/Kilogram- Kristal Putih Rp11.500 Rp11.500.

Jadi HET bahan pokok tetap stabil. Market price and stability control bahkan market condition saya nilai masih dalam tahap normal.

Memang soal harga pangan kemarin sempat goyah juga dengan gonjang-ganjing impor 2 juta ton beras. Nah! disinilah para trader atau pedagang bermain harga dan buyer ikut kena getahnya.

Jadi Sandi perlu juga mengecek dan melihat secara keseluruhan. Memang ada fluktuatif saat jelang hari raya seperti Hari Idul Fitri dan Hari Natal.

Benar atau salah bukan utama tapi bagaimana saat ini pemerintah tetap menjaga harga kebutuhan pokok jangan menaikan harga sembako. Lantaran ada efeknya. Pada pekan lalu harga kebutuhan stabil. Memang masalah harga bisa di goreng oleh Sandiaga. Ini isu paling mujarab bagi pemilih khususnya pedagang. Saya curiga saat Sandiaga turun yang memberikan data dan fakta di lapangan pemilihnya mereka wajar saja. Begitu pula Voters-nya Jokowi.

Sandiaga harus cek dan ricek dulu di pasar besar dan kecil baru bicara.

Iya data penting, jangan sampai hanya asbun. Iya harga fluktuatif. Jika rupiah melemah dan dolar menguat bisa berimbas di harga kebutuhan pokok. kalau BBM naik maka sembako akan ikut naik.

Ini bak politik sapi perah dan politik dagang sapi. Paling tidak di soroti masalah ketersediaan, harga dan mutu.

Yang menjadi persoalan utama disini bukanlah harga tempe dan tahu di pasar tapi bagaimana ini bisa di ekspor ke luar negeri. Sebagai contoh di AS produk tempe dan tahu dari China bahkan Vietnam yang lebih diterima dari produksi kita. Begitu pula ikan tuna kita penghasil cukup vesar tapi kita kalah bersaing dengan Jepang.

Udang saja kita kalah sama Mexico untuk tembus global market (pasar global). Persoalannya kita tidak menjaga kwalitas barang bahkan sisi packaging kita kalah.

Sampai penerbangan kita di tolaj masuk Eropah dan Amerika karena faktor passanger safety (keselamatan penumpang) kita sangat rendah.

Sebetulnya kita push di masalah tempe dan tahu. Apa pasal? Lantaran kita penghasil kedelai terbesar.

Menurut data Food and Agriculture Organization (FAO) menunjukkan bahwa Amerika Serikat (USA) merupakan negara penghasil Kedelai (Soybean) terbesar di dunia, jumlah produksi pada tahun 2016 sebanyak 117,208,380 ton. Diurutan kedua sebagai negara penghasil kedelai adalah negara Brasil dengan jumlah produksi sekitar 96,296,714 ton,  diposisi ketiga ditempati oleh negara Argentina dengan jumlah produksi sebnyak 58,799,258 ton.

Indonesia sendiri berada di urutan ke-13 dengan 967,876 ton. Kita kalah dari India, Rusia dan China. Padahal tanah kita luas untuk mengembangkan kedelai tersebut. Itu sebetulnya yang menjadi perhatian serius dari para calon. Jangan hanya menyoroti soal harga tempe. Itu low quality not high quality dalam cara berpikir

Lebih baik Sandiaga mencari isu politik yang lain.

Penulis Oleh: Jerry Massie
Peneliti dan pengamat politik Indonesian public institute

Komentar

News Feed