Opini

Pornografi, Musuh Kita Bersama

Akuratnews.com - Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto mengatakan, hasil survei nasional KPAI dalam situasi pandemi Covid-19 menunjukkan 22 persen anak Indonesia masih melihat tayangan tidak sopan.

Tayangan tidak sopan tersebut meliputi tayangan atau konten yang bermuatan pornografi dan hal-hal lain yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia. (Kompas, 16/8/2020).

Sebuah survei mengatakan dalam kondisi pandemi sedikitnya 60% anak Indonesia menggunakan media digital, sehingga kondisi sekarang ini mengajak mereka untuk lebih intens menggunakan media digital seperti smartphone dan laptop karena kegiatan belajar mengajar dilakukan secara daring (online). Kondisi pandemi juga acap kali membuat mereka cepat bosan sehingga melampiaskannya dengan membuka situs-situs dewasa.

Pada saat seorang anak mengakses pornografi, itu sama halnya dengan anak tersebut sedang mengakses kesenangan. Kesenangan itu kemudian akan merangsang melepaskan hormon dopamin yang menimbulkan rasa senang.

Pada kesempatan berikutnya anak tersebut akan mencari-cari kembali apa yang membuatnya senang saat itu dan kembali mengakses pornografi. Jika dilakukan terus-menerus, anak bisa mengalami kecanduan. Kecanduan pornografi disebut lebih berbahaya dibandingkan kecanduan narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya (NAPZA).

Sejumlah ahli mengatakan kecanduan NAPZA mengakibatkan kerusakan pada tiga bagian otak, sedangkan kecanduan pornografi menyebabkan kerusakan pada lima bagian otak.

Kerusakan itulah yang membuat seorang anak mengalami sejumlah gangguan seperti: pelupa, sulit berkonsentrasi, malas, sulit membedakan mana yang benar dan yang salah, suasana hati mudah berubah-ubah (moody), enggan bergaul, sulit bersosialisasi, bahkan yang terburuk adalah mengalami gangguan perilaku seksual.

Jika sudah seperti itu, bagaimana cara mengatasi masalah pornografi ini? Apakah hanya peran orang tua yang dibutuhkan dalam masalah ini, atau juga ada peran negara yang terlibat?

Memutus Mata Rantai Pornografi

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pornografi adalah (1) penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan untuk membangkitkan nafsu birahi. (2) bahan bacaan yang dengan sengaja dan semata-mata dirancang untuk membangkitkan nafsu birahi.

Konten pornografi ini bisa tersebar mulai dari film, animasi kartun, foto, komik, majalah, dan bahkan pada games atau permainan.

Pornografi adalah salah satu produk Barat yang bercokol pada asas kehidupan yang bebas (liberalisme) yang sarat dengan pemisahan agama dari kehidupan. Dan bahayanya adalah produk ini diekspor ke seluruh negeri Islam tak terkecuali Indonesia. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menghancurkan generasi Islam, untuk merubah generasi rabbani menjadi generasi pemuja seks.

Dan lebih berbahayanya adalah konten-konten yang berbau pornografi sekarang mudah untuk diakses. Dengan bermodalkan smartphone dan kuota internet, generasi kita tinggal duduk manis menyaksikan gambar-gambar/video yang tidak seharusnya ditonton.

Siapa yang membiarkan konten-konten tersebut masuk ke Indonesia atau membiarkan masyarakat Indonesia memproduksi sendiri konten-konten tersebut? Ya, jawabannya adalah negara.

Sebagaimana sifat bawaan sistem Kapitalisme yaitu berusaha meraih keuntungan sebesar-besarnya tanpa memperhatikan dampak negatifnya, menjadikan konten-konten pornografi sebagai ladang untuk meraih keuntungan dalam ekonomi pasar. Dalam hal ini salah satu yang menonjol adalah pajak yang ditetapkan negara.

Fenomena pornografi di Tanah Air seperti gunung es, terlihat tidak begitu besar tapi sesungguhnya masalah besar. Karena kecanduan konten pornografi seorang anak bisa melakukan kejahatan seperti melakukan kekerasan seksual, pelecehan seksual baik verbal maupun non verbal, perzinahan, bisa juga mengarah pada kejahatan lain seperti mencopet demi mengisi kuota internet agar bisa melihat konten pornografi di internet. Itu artinya bobroklah generasi, bobroklah moral bangsa. Jika sudah seperti ini siapa yang harus bertanggungjawab?

Anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Azimah Soebagijo mengatakan bahwa masalah pornografi ini tidak bisa dibiarkan, harus ada kepedulian semua pihak, minimal keluarga harus mengawasi anak-anaknya.

"Minimal ada peran keluarga" itu artinya ada ruang lingkup yang lebih besar lagi dari keluarga yaitu masyarakat dan negara, yang seharusnya mengawasi dan bertanggung jawab terhadap perilaku generasi. Bisakah negara totalitas dalam memberantas pornografi jika Kapitalisme tetap menjadi sistem yang mengatur kehidupan?

Berbeda halnya jika ideologi yang diterapkan oleh negara adalah ideologi Islam. Daulah Islam sudah pasti akan menutup rapat akses konten-konten pornografi yang digunakan untuk meracuni generasi Islam.

Daulah Islam akan menumbuhkan keimanan dan ketaqwaan yang kuat di dalam diri para generasi Islam melalui pendidikan yang berbasis aqidah, sehingga keterikatan mereka terhadap hukum syara' akan semakin kokoh, dan kesadaran mereka bahwa Allah Maha Melihat (Idrak sillah billah) akan terbentuk. Tidak hanya itu, Daulah Islam pun akan memberikan sanksi kepada siapapun baik itu perorangan maupun kelompok yang sengaja membuat atau memasukkan konten-konten pornografi ke dalam wilayah Daulah Islam.

Jadi tak aneh, ketika syari'at Islam diterapkan secara menyeluruh, Daulah Islam memiliki peradaban yang gemilang salah satunya adalah memiliki pemuda-pemudi yang cakap dalam berilmu, memiliki jiwa dan mental yang kuat dalam jihad fii sabilillah dan memiliki lisan yang fasih dalam menyebarkan dakwah Islam ke seluruh penjuru negeri.

Inilah yang membuat Daulah Islam mampu menguasai dua pertiga dunia. Salah satu faktornya karena ada peran pemuda-pemudi Islam di dalamnya.

Sejarah membuktikan karena penerapan syariat Islam secara sempurna hanya ada dua kejahatan yang terjadi dalam rentan waktu 200 tahun. Ini artinya syari'at Islam membuat umat Islam semakin mulia, bukan justru membuatnya hina dengan bertingkah laku melampui batas (seperti binatang) karena mengakses konten-konten pornografi.

Allah SWT berfirman :

"Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk." (QS. Al-Isra' (17) : 32)

Wallahu a'lam bish-shawab.

Baca Juga